Apakah suara wanita aurat?

Ulama berbeda pendapat tentang hukum suara wanita. Sebagian ulama ada yang menyatakan bahwa suara wanita adalah aurat. Namun, menurut pendapat jumhur (mayoritas) ulama, suara wanita bukanlah aurat. Sehingga siapapun boleh saja mendengar suara seorang wanita atau mendengarnya berbicara, karena tidaklah termasuk hal yang terlarang dalam Islam. Ini adalah pendapat yang paling kuat dalam masalah ini.

Syaikh Wahbah Zuhaili Hafizhahullah berkata : “Suara wanita menurut jumhur (mayoritas ulama) bukanlah aurat, karena para sahabat nabi mendengarkan suara para isteri Nabi Saw untuk mempelajari hukum-hukum agama, tetapi diharamkan mendengarkan suara wanita  yang  disuarakan dengan melagukan dan mengeraskannya, walaupun dalam membaca Al Quran, dengan sebab khawatir timbul fitnah.[1]

Dikatakan : “Ada pun jika suara wanita, maka jika si pendengarnya berlezat-lezat dengannya, atau khawatir terjadi fitnah pada dirinya, maka diharamkan mendengarkannya, jika tidak demikian, maka tidak diharamkan. Para sahabat radhiyallahu’anhum mendengarkan suara wanita ketika berbincang dengan mereka (dan itu tidak mengapa).[2]

Dalil yang menunjukkan bahwa suara wanita bukanlah aurat sangatlah banyak, diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Dalil Al Qur’an

Berikut ini diantara ayat al Qur’an yang menyebutkan secara tersurat maupun tersirat bahwa suara wanita itu bukanlah aurat.

  1. Allah k memerintahkan para istri Rasulullah n agar berkata-kata, namun dengan perkataan dan cara yang baik. Dan tentunya perkataan istri Nabi itu akan di dengar bukan saja oleh para shahabiyah tetapi juga para shahabat g. FirmanNya :

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا

“Wahai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (Al-Ahzab: 32)

Meskipun konteks ayat diatas membicarakan para umahatul mukminin, tetapi sudah maklum dan ma’fum dipahami, hukum ayat ini tentunya berlaku untuk semua kaum muslimah.

  1. Allah l menceritakan wanita yang menggugat kepada Nabi n tentang dzihar yang dilakukan suami wanita tersebut. FirmanNya :

قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar  hiwar (dialog)  antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. ( Al Mujadilah : 1)

Dan tentu saja pengaduan wanita tersebut kepada Nabi n mengunakan kata-kata, bukan dengan bahasa isyarat. Dan mustahil Rasulullah n akan mau mendengar suara wanita tersebut bila hal tersebut adalah aurat.

  1. Dalam al Qur’an terdapat kisah tentang dialog Nabi Musa w dengan dua wanita kakak beradik, yakni putri nabi Syu’aib, FirmanNya :

وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأَتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ

Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia men- jumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya. (Al Qashash : 23)

Dan disambung diayat selanjutnya :

فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا فَلَمَّا جَاءَهُ وَقَصَّ عَلَيْهِ الْقَصَصَ قَالَ لَا تَخَفْ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami”. Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu’aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu’aib berkata: “Janganlah kamu takut. kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu.” (Al-Qashash: 25)

Demikianlah, masih banyak dalil dalam kitabullah yang menunjukkan bahwa suara wanita bukanlah aurat. Baik dalil-dalil tersebut bersifat umum yang mewajibkan, menyunnahkan, atau memubahkan berbagai aktivitas, yang berarti mencakup pula bolehnya wanita melakukan aktivitas-aktivitas itu.

Seperti para wanita berhak dan berwenang melakukan aktivitas jual beli (QS. Al-Baqarah: 275; QS. An-Nisa’:29), berhutang-piutang (QS. Al-Baqarah: 282), sewa-menyewa (ijarah) (QS. Al-Baqarah: 233; QS. Ath-Thalaq: 6), memberikan persaksian (QS. Al-Baqarah: 282), menggadaikan barang (rahn) (QS. Al-Baqarah: 283), menyampaikan ceramah (QS.  An-Nahl: 125; QS. As-Sajdah: 33), meminta fatwa (QS. An-Nahl: 43), dan sebagainya. Yang kesemuanya itu hampir mustahil tidak menggunakan aktivitas suara/ berbicara.

  1. Hadits Nabi dan Atsar para shahabat
  2. Shahabiyah (shahabat wanita) mereka berbicara dengan Rasulullah n.

Banyak hadits yang menceritakan bahwa para shahabat wanita dahulu juga bertanya kepada Rasulullah n,,, bahkan ketika Nabi n sedang berada di tengah-tengah para sahabat laki-laki. Diantaranya adalah apa yang disebutkan dalam sebuah hadits berikut ini :

أَنَّ امْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ، جَاءَتْ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَتْ: إِنَّ أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ فَلَمْ تَحُجَّ حَتَّى مَاتَتْ، أَفَأَحُجُّ عَنْهَا؟ قَالَ: «نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا، أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَةً؟ اقْضُوا اللَّهَ فَاللَّهُ أَحَقُّ بِالوَفَاءِ

Dari Ibnu Abbas h, bahwa ada seorang wanita dari Juhainah datang kepada Rasulullah n, lalu berkata : “Sesungguhnya ibuku telah bernadzar untuk pergi haji, tetapi dia meninggal sebelum berangkat haji, apakah saya bisa berhaji atas nama ibu saya?” Beliau bersabda: “Ya, berhajilah untuknya, apa pendapatmu jika ibumu punya hutang? Bayarlah hutang kepada Allah, sebab hutang kepada Allah lebih layak untuk ditunaikan.” (HR. Bukhari no : 1852)

  1. Para Shahabat mendatangi ummul mukminin untuk bertanya hukum agama.

Dan para sahabat sendiri juga pernah pergi kepada ummahatul mukminin (para isteri Rasulullah) untuk meminta fatwa dan mereka pun memberikan fatwa dan berbicara dengan orang-orang yang datang. Dan tidak ada seorang pun mengatakan, “Sesungguhnya ini dari Aisyah atau selain Aisyah telah melihat aurat yang wajib ditutupi,” padahal isteri-isteri Nabi mendapat perintah dengan keras yang tidak pernah dirasakan bagi wanita lainnya.[3]

Al Ahnaf ibn Qais berkata : “Aku telah mendengar hadits dari mulut Abu Bakar, Umar,
Utsman dan Ali. Dan aku tidak pernah mendengar hadits sebagaimana aku
mendengarnya dari mulut ‘Aisyah.” (HR. Al Hakim)

Musa bin Thalhah ra. berkata :

مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَفْصَحَ مِنْ عَائِشَةَ

“Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih fasih bicaranya daripada Aisyah.” (HR. Tirmidzi)

  1. Pendapat ulama mazhab

Berikut perkataan para ulama dan yang termaktun dalam kitab-kitab mu’tabarah yang menjelaskan tentang hukum suara wanita :

–      Hanafiyah

Ada sebagian riwayat yang mengatakan bahwa Abu Hanifah berpendapat suara wanita adalah aurat. Namun, menurut khabar yang kuat adalah bahwa kalangan Hanafiyah menyatakan suara wanita bukan aurat.[4]

–      Malikiyah dan Hanabilah

Dalam al Mausu’ah Fiqihiyah al Kuwaitiyah juz 4 halaman 91 dapat disimpulkan tentang pandangan kedua mazhab ini bahwa suara wanita bukanlah aurat. Yaitu ketika mereka berpendapat dibencinya mendengarkan nyanyian wanita.

–      Syafi’iyah

Diketahui secara pasti pendapat dari mazhab ini, bahwa suara wanita bukanlah aurat. Dan bahkan menurut syafi’iyah, boleh mendengarkan suara wanita menyanyi dengan catatan aman dari fitnah.[5]

  1. Pendapat para ulama lainnya.

Umairah mengatakan  : “Suara perempuan bukan aurat berdasarkan pendapat sahih, maka tidak haram mendengarnya.”[6]

Zainuddin al-Malibary berkata : “Suara tidak termasuk aurat, karena itu tidak haram mendengarnya kecuali dikuatirkan fitnah atau berlezat-lezat dengannya sebagaimana yang telah dibahas oleh Zarkasyi.”[7]

Syaikh al Jaziri Hafizhahullah berkata : “Suara wanita bukanlah aurat. Karena istri-istri Nabi dahulu juga bercakap-cakap dengan para shahabat.[8]

Kalangan Yang Mengatakan Bahwa Suara Wanita Aurat

Namun, sebuah fakta yang tidak bisa kita pungkiri, bahwa ada sebagian ulama yang memang berpendapat bahwa suara wanita adalah aurat. Pendapat mereka ini didasarkan kepada beberapa dalil diantaranya :

  1. Hadits Rasulullah Saw, beliau bersabda :

الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتْ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ

Wanita adalah aurat, jika dia keluar maka syetan akan mengawasinya. (HR. Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah Thabarani ; shahih)

Berdasarkan makna dzahir hadits ini, kalangan ini  menyimpulkan bahwa semua bagian dari wanita adalah aurat termasuk suaranya.

Bantahan : Dalam Ilmu fiqih tidak asing lagi diketahui adanya dalil yang bersifat ‘aam (umum) dan dalil khosh (khusus).  Jadi sebuah dalil terkadang bermakna mujmal (global) tetapi ada pula yang muqayad (terbatasi). Contohnya firman Allah Swt dalam surat al-Maidah ayat 3 yang menjelaskan keharaman semua bangkai, tetapi kemudian dikhususkan bangkai binatang laut darinya, dalil takhsisnya adalah sabda Nabi : “Dihalalkan bagi kami dua bangkai…. Yaitu (bangkai) ikan dan belalang.”

Oleh karena itu para ahli ushul membuat kaidah, Hamlul Muthlaq ilal Muqayyad (Memahami dalil yang umum harus dibatasi oleh yang khusus).

Hadits diatas adalah hadits umum yang menginformasikan secara umum bahwa tubuh wanita adalah aurat, yang kemudian ditakhsis (dibatasi) dengan hadits-hadits yang menunjukkan bahwa wajah, telapak tangan dan termasuk suara adalah yang dikecualikan.

  1. Firman Allah ta’ala :

وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ

Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. (An Nuur : 31)

Menurut kalangan ini, jika gelang kaki wanita saja dilarang untuk digetarkan sehingga terdengar suaranya, maka suara wanita lebih layak dilarang karena lebih merdu dibanding suara gelang.

Namun dalil ini dibantah oleh para ulama, dan nampak dalil dengan ayat ini tidaklah tepat. Karena yang dilarang dari seorang wanita pada ayat diatas adalah pada perbuatannya yang memamerkan perhiasannya. Jika dikiaskan dengan suara wanita tentu tidak tepat, karena suara manusia itu termasuk kebutuhan yang sangat penting, keharaman barulah ada apabila mempergunakannya untuk merayu dan mengundang syahwat.

  1. Cara menegur imam bagi makmum yang tidak menggunakan suara.

Dalil lainnya yang digunakan adalah dengan adanya ketentuan bagi makmum wanita yang menegur imam yang keliru, yaitu hanya diperbolehkan menggunakan tepukan tangan. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits ketika Rasulullah n ditanya tentang cara menegur imam yang keliru, beliau menjawab :

مَنْ نَابَهُ شَىْءٌ فِى صَلاَتِهِ فَلْيُسَبِّحْ فَإِنَّهُ إِذَا سَبَّحَ الْتُفِتَ إِلَيْهِ وَإِنَّمَا التَّصْفِيحُ لِلنِّسَاءِ

Barangsiapa menjadi makmum lalu merasa ada kekeliruan dalam shalat, hendaklah dia membaca tasbih. Karena jika dibacakan tasbih, dia (imam) akan memperhatikannya. Sedangkan tepukan khusus untuk wanita.” (HR. Bukhari no. 7190 dan Muslim no. 421)

Logikanya, jika bukan aurat, tentunya kaum wanita pun juga sama dengan laki-laki, yakni diperbolehkan menggunakan suaranya mengucap subhanallah.

Namun, lagi-lagi alasan ini juga lemah dan penakwilan yang berlebihan, sebab apa yang wanita lakukan dengan bertepuk tangan ketika meluruskan kekeliruan imam, itu adalah sebuah aturan baku yang ada dalam shalat yang sifatnya ta’abudiyah, yang tidak ada kaitannya dengan aurat atau bukan.

Penutup

Suara wanita menurut pendapat yang shahih bukanlah aurat, karena itu tentunya tidak mengapa bila seorang wanita berkata-kata dengan siapapun dengan perkataan yang baik. Namun, untuk berbicara dengan lelaki asing maka hendaknya tidak berkata-kata dengan intonasi yang menyerupai desahan, yang akan mengundang fitnah dan keburukan.[9]

Suara empuk dan tawa canda seorang wanita terlalu sering kita dengarkan di sekitar kita, baik secara langsung atau lewat radio dan televisi. Hendaknya ini di jauhi oleh setiap muslimah, karena Allah ta’ala telah mengingatkan : “Maka janganlah kalian merendahkan suara dalam berbicara sehingga berkeinginan jeleklah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang ma‘ruf.” (Al Ahzab: 32)

Wallahu A’lam

Cintaku Berlabuh Di Mesir

Narina masih saja sibuk dengan komputernya, ia tengah melengkapi data-data yang harus ia bawa ke Mesir. Pikirannya masih kacau balau, ibunya bersikukuh untuk tidak mengijinkannya pergi ke Mesir.
Ditengah kesibukannya, Ibu Nafisah memanggil anaknya,
“Narina ayo keluar dari kamarmu, sekarang sudah waktunya makan siang. Sudah sejak tadi pagi kau tidak keluar kamar.”

Dengan setengah berlari ia pun keluar kamar, jilbabnya yang anggun membuat ia terlihat lebih cantik, “Ia bu, tunggu sebentar.” Ia segera duduk dan bersiap untuk makan, sebelum makan ia mencuci tangannya terlebih dahulu.
“Ayah mana bu? Kok dia gak makan bareng kita?”
“Ayahmu sedang keluar sebentar, ngga lama lagi ayahmu juga pulang nak.”
“ Oh ya bu, rencananya minggu depan aku akan berangkat ke Mesir. Semua data-data yang aku butuhkan sudah hampir selesai…Belum selesai bicara, ibunya langsung memotong ucapan anaknya, “ Sudah berapa kali ibu bilang, ibu tak akan pernah mengijinkan kamu untuk pergi ke Mesir. Buat apa sih nak kamu kuliah jauh-jauh disana? Di Jakarta kan juga banyak Universitas Islam yang bagus,”
“Tapi bu kesempatan untuk kuliah disana hanya sekali,” tanpa sadar air matanya pun menetes.
Memang berat bila ia harus berpisah dengan ibunya, terlebih lagi ia akan berada di Mesir selama kurang lebih empat tahun dan belum tentu ia dapat pulang setiap tahun untuk menemui ibunya. Kepergiannya ke Mesir untuk melanjutkan pendidikannya, ia mendapatkan beasiswa di Al Azhar University Cairo. Sejak kecil ia selalu bermimpi untuk pergi ke Mesir dan melihat betapa indahnya Sungai Nil, dan impiannya kini sudah ada di depan mata.
“Tolong ijinkan aku bu, aku hanya beberapa tahun saja disana, aku akan selalu memberi kabar pada ibu. Aku tak akan pernah lupa pada ibu yang sangat aku sayangi,”
“Apapun alasanmu tetap saja ibu tak rela bila harus hidup sendirian tanpamu nak, ibu sangat menyayangimu. Ibu tak ingin kehilangan anak semata wayang ibu, huhuhu (ibunya pun ikut menangis).

Ayahnya pun masuk segera masuk ke dalam rumah ketika ia mendengar suara tangisan yang terdengar dari teras rumah.
“Kenapa kalian berdua menangis?” Tanya sang ayah kebingungan.
“Ibu tetap tidak mengijinkanku untuk berangkat ke Mesir ayah, aku sudah tidak tau harus bagaimana lagi.”
“Sudahlah bu biarkan anakmu memilih jalan hidupnya, ia sudah dewasa dan ayah yakin kalau ia bisa menjaga dirinya baik-baik.”
“Iya bu, benar apa kata ayah. Aku yakin bisa menjaga diri disana, di Mesir aku juga tidak sendiri. Aku ditemani Hikami dan Amalia, mereka juga kuliah disana,”
“Huh yasudahlah terserah kalian … tapi jika terjadi apa-apa pada Narina, ayah yang akan ibu salahkan.”
Akhirnya Ibu Nafisah mengijinkan kepergian anaknya ke Mesir. Memang berat melepaskan anak semata wayangnya untuk hidup mandiri di Mesir. Ia sangat menyayangi Narina dan kemana saja Narina pergi selalu ditemani ibunya. Wajah mereka pun sangat mirip, bahkan terkadang ada orang yang mengira bahwa mereka adalah kakak beradik. Perbedaan umur diantara mereka juga tidak berbeda jauh, ibunya baru berusia 37 tahun dan anaknya 20 tahun lebih muda dari usianya kini.
***

Tibalah hari yang ia tunggu-tunggu, hari ini adalah hari keberangkatannya ke Mesir. Ia memasukkan semua perlengkapan pribadinya ke dalam koper birunya. Tak lupa ia membawa Novel Ketika Cinta Bertasbih 1 & 2 karangan Habiburrahman El Shirazy, ia sangat menyukai novel itu. Baginya begitu banyak ilmu yang ia dapatkan dari novel itu. Setelah selesai menyiapkan perlengkapannya, ia langsung mengambil air wudhu untuk Salat Dhuha. Ia masih punya waktu setengah jam lagi sebelum berangkat ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Sebelum berangkat ia menyempatkan diri untuk menelpon kedua temannya, Hikami dan Amalia, ia ingin memastikan bahwa kedua temannya sudah siap untuk berangkat ke Mesir. Setelah itu tak lupa ia berpamitan kepada kedua orang tuanya,
Narina pun berangkat, tak lupa ia mencium tangan kedua orang tuanya. Baru beberapa langkah berjalan, ia lalu memalingkan tubuhnya dan kembali untuk memeluk ibunya. Tak terasa air matanya mengalir membasahi jilbab biru mudanya, ia begitu sedih harus berpisah untuk sementara waktu dengan ibunya tapi di sisi lain ia juga tak bisa menyia-nyiakan kesempatan untuk kuliah di Mesir.

Sudah lima jam ia berada di dalam pesawat, perjalannya masih sekitar tujuh jam lagi tetapi ia belum bisa tertidur. Padahal Amalia sudah tertidur pulas, sedangkan Hikami masih saja fokus dengan bukunya. Anak yang satu ini memang suka sekali membaca buku, baginya waktu terasa hambar bila ia tak membaca buku. Narina lalu memutuskan untuk memasang headset dan memutar sebuah lagu favoritnya,

Bertuturlah cinta
Mengucap satu nama
Seindah goresan sabdamu dalam kitabku
Cinta yang bertasbih
Mengutus hati ini
Kusandarkan hidup dan matiku padamu
Bisikkan doaku dalam butiran tasbih
Kupanjatkan pintaku padamu Maha Cinta
Sudah diubun-ubun cinta mengusik resah
Tak bisa kupaksa walau hatiku menjerit
Ketika cinta bertasbih nadiku berdenyut merdu
Kembang kempis dadaku merangkai butir cinta
Garis tangan tergambar tak bisa aku menentang
Sujud syukur pada-Mu atas segala cinta

Akhirnya ia pun tertidur dalam bait-bait lagu Ketika Cinta Bertasbih, sejurus kemudian ia sudah tiba di Mesir. Hikami membangunkan kedua temannya, sejak tadi pagi Hikami belum memejamkan mata sehingga wajahnya terlihat agak pucat. Mereka pun segera turun dari pesawat dan menuju rumah yang telah disewa oleh Amalia. Kebetulan salah satu kerabat dari Amalia ada yang tinggal di Mesir dan rumah itu sudah tidak ditempati lagi. Wajah Narina tampak begitu bahagia ketika menapakkan kakinya di Mesir, ia seolah tak percaya.
Setelah tiba di rumah, tak lupa Narina memberi kabar pada orang tuanya di Indonesia. Mereka bertiga langsung membersihkan rumah dan beristirahat sejenak untuk melepas lelah. Ada dua kamar, satu kamar untuk Narina dan yang satunya lagi untuk Hikami dan Amalia. Mereka begitu kelelahan, tetapi Narina memutuskan keluar sebentar untuk mencari makanan. Narina melihat pemandangan di sekelilingnya, begitu banyak wanita bercadar disana. Lalu ia berhenti sejenak ketika ada rumah makan yang menjual makanan asli Indonesia. Ia memperhatikan semua menu yang tersedia, tampaknya ia agak sedikit bingung harus memesan apa. Akhirnya ia memutuskan untuk membeli 3 bungkus nasi, rendang, sayur nangka, dan es teh. Semuanya dibungkus untuk ia makan bersama kedua temannya. Saat ia ingin keluar, ia hampir bertabrakan dengan seorang lelaki yang sepertinya orang Indonesia juga.
“Maaf maaf, saya sedang terburu-buru.” Ujar lelaki itu dengan nafas yang terengah-engah.
“Iya ngga apa-apa”, sepintas ia terpesona oleh lelaki itu. Wajahnya yang terlihat lelah seperti orang yang tidak tidur semalaman tapi aura yang dipancarkannya begitu memikat bagi siapapun yang melihatnya.
Ternyata kedua temannya sudah bangun dan tengah menonton tv di rumah.
“Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam,” jawab kedua temannya hampir bersamaan. “Dari mana kamu Na?”
“Ini aku beli makanan, aku tau pasti kalian laper banget,’’ tanpa disuruh Amalia langsung mengambil piring dan gelas. Ia sudah tidak bisa lagi menahan rasa laparnya. Dan lusa adalah hari pertama mereka kuliah, kebetulan Amalia mengambil jurusan yang sama dengan Narina, yakni jurusan Sejarah dan Peradaban Islam sedangkan Hikami mengambil jurusan Perbandingan Agama.
“Ternyata Al-Azhar gede benget ya, duh ga nyesel deh kuliah disini. Meskipun aku ga dapet beasiswa seperti kalian, tapi aku seneng bisa satu universitas sama kalian.” Kata Amalia. Kebetulan Narina tidak sekelas dengan Amalia, maka ia mencari kelasnya sendiri. Saat ia sedang kebingungan mencari kelasnya, lalu ada seorang lelaki yang menghampirinya, “Lagi bingung nyari kelas ya? Tanya lelaki itu,

Seketika itu juga Narina kaget bukan kepalang, ternyata lelaki yang waktu itu pernah membuatnya terpesona kini ada di hadapannya. Dengan sedikit gugup ia menjawab pertanyaan lelaki tadi, “Ia, dan saya mahasiswa baru disini,” Lalu mereka saling berkenalan, lelaki itu bernama Andi Hanif Rahman. Ternyata Andi juga kuliah di Al-Azhar dan berada dalam jurusan yang sama, tetapi Andi satu tingkat diatas Narina. Ada sedikit rasa senang di hatinya saat ia tau siapa nama lelaki itu, ia merasa apakah ia sedang jatuh cinta atau tidak.
***

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, dan bulan berganti bulan. Tak terasa ia sudah tiga tahun di Mesir, rasanya sudah begitu lama ia tak bertemu dengan ibunya. Rasa rindunya sudah tak tertahankan lagi, terkadang ia menangis dalam sujudnya di malam hari. Pemandangan sungai nil yang begitu indah, membuatnya semakin sedih. Seandainya saja saat ini ada sang ibu yang menemaninya, pasti kebahagiaannya di Mesir akan lengkap sudah. Butir demi butir air matanya menetes, hembusan angin merasuk ke dalam tubuh dan jiwanya. Tanpa sadar ternyata ada seorang lelaki yang berdiri di sampingnya, ia pun segera mengusap air matanya dengan tisu yang ada di sakunya.
“Kuperhatikan sejak tadi, mengapa kau menangis? Sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu,” Tanya Andi.
Dengan suara serak ia pun membuka suara,”Aku rindu pada ibuku, sudah 3 tahun aku tak bertemu dengannya, oh ya kenapa ka Andi bisa ada disini?”
‘’Hehe sebenarnya aku mengikutimu sejak kau pulang kuliah, kelihatannya kau sangat sedih dan begitu terburu-buru,”
“Ah, mana mungkin kakak ngikutin aku. Hehe kakak ini ada-ada aja,” akhirnya ia pun sudah mulai bisa tersenyum. “Kakak masih inget ngga waktu kita ketemu di rumah makan? Tepatnya tiga tahun yang lalu,”
“Ya iyalah, kakak inget banget malah. Kakak kan suka sama kamu sejak kita ketemu waktu itu…”

Wajah Narina terlihat memerah, sepertinya ia malu dan tidak tau harus berkata apa. Mereka diam sejenak, tak ada yang berani untuk membuka suara. Narina malah pulang ke rumahnya, Andi hendak mengejarnya tapi ia tak punya keberanian. Sebenarnya Andi tak berniat untuk mengatakan itu pada Narina, tapi kata-kata itu keluar seketika dari mulutnya. Ia memang jatuh hati pada Narina sejak pertama kali ia bertemu. Waktu itu ia hampir telat untuk masuk kerja jadi ia terburu-buru dan hampir menabrak Narina. Sejak saat itu ia penasaran dengan sosok gadis itu, sampai akhirnya ia bertemu lagi dengan Narina di Universitas Al-Azhar. Ia semakin sering memperhatikan Narina saat gadis itu berada di kampus, tetapi Narina tak pernah menyadarinya. Baginya, Narina adalah sosok yang sederhana, lemah lembut dan ia bagaikan bunga yang bermekaran di musim semi. Narina cukup terkenal di kampusnya, ia adalah mahasiswi yang cerdas. Ia pun aktif dalam kegiatan-kegiatan kampus.

Setibanya di rumah, Narina langsung masuk ke dalam kamarnya dan menangis hingga sesenggukan. Kedua temannya langsung menghampiri Narina, lalu Narina menceritakan apa yang ia alami hari ini kepada kedua temannya. Termasuk awal mula pertemuannya dengan Andi dan perasaan yang ia pendam pada Andi.
“Ya ampun Narina, kenapa kamu gak bilang ke Andi kalo kamu juga suka sama dia? Jelas-jelas kalian kan saling cinta,” tutur Lia,
“Tapi aku ga mau kalo kak Andi suka sama aku,”
Hikami dan Amalia langsung saling berpandangan, mereka bingung mengapa Narina bersikap seperti itu.” Aku itu ga mau kalo nantinya aku malah pacaran sama kak Andi, aku takut kalo kuliah aku jadi terganggu. Disini aku tinggal satu tahun lagi, aku pengen pulang ke Indonesia dengan gelar sarjana terbaik jadi aku gak pengen ngerusak impian aku itu dengan pacaran,” ungkap Narina.
Dengan spontannya, Lia langsung megeluarkan idenya, “ Emm gimana kalo kamu nikah aja? Kak Andi juga udah lulus, kan ga ada larangan menikah buat mahasiswa.”
Saran dari Lia hanya membuatnya semakin bingung, akhirnya ia memutuskan untuk menjauhi Andi selama beberapa waktu. Ia butuh waktu untuk memikirkan masa depannya itu.
***

Sudah hampir sepuluh bulan Narina tidak bertemu dengan Andi, ada rasa rindu yang terbersit dalam hatinya tapi ia memilih untuk menahan rasa rindunya itu. Padahal Andi selalu berusaha untuk menemuinya, tapi ia selalu menolak. Ada saja alasan yang dibuat oleh Narina, padahal Andi telah membulatkan tekadnya untuk melamar Narina.
Dan sepuluh bulan setelah kelulusannya, usaha yang Andi rintis semakin maju. Setelah menyelesaikan kuliahnya, ia mencoba bisnis berbagai macam pakaian muslim secara online dan omset yang ia dapatkan sangat memuaskan. Mungkin cukup untuk biaya pernikahannya kelak, tapi belum ada jodoh yang tepat untuknya. Padahal banyak gadis yang menyukainya tapi entah mengapa ia selalu menolaknya. Hanya Narina yang selalu ada di pikirannya, ia yakin suatu saat nanti ia bisa mempersunting gadis pujaannya itu. Ia bertekad untuk selalu menunggu Narina, sampai gadis itu mau menerima ia sebagai suaminya.

Tak terasa, hari kelulusan itu telah tiba dan Narina dinobatkan sebagai mahasiswa terbaik di kampusnya. Betapa bahagia dan terharunya dia, ia pun tak sabar untuk kembali ke tanah air dan bertemu dengan kedua orang tuanya. Ia pun memutuskan untuk segera pulang ke Indonesia bersama Amalia. Sementara Hikami memilih untuk melanjutkan S2 nya, meskipun ada sedikit rasa sedih karena ia harus berpisah dengan kedua temannya tapi ia mencoba untuk tetap tegar karena ia memang bercita-cita untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Narina pun pulang tanpa sempat memberi kabar kepada Andi, karena ia sudah terburu-buru.
Dua belas jam di pesawat, membuatnya kelelahan. Tapi setibanya di rumah, seolah rasa lelah itu hilang sudah. Ia langsung memeluk kedua orang tuanya dan menangis di pundak ibunya. Mereka saling melepas rindu, lalu sang ibu bertanya pada Narina, “Ibu bangga sama kamu nak, kamu bisa memberikan yang terbaik. Lalu bagaimana dengan jodohmu nak, apakah kau sudah menemukan jodoh yang tepat di Mesir?”

Seketika itu juga Narina merasa seolah tubuhnya bak tersiram air panas, ia teringat dengan Andi. Ia tidak sempat menemui Andi, bagaimana nasib andi sekarang, semua itu hanya terbenak dalam pikirannya.
“Ditanya ko malah diem?”, ucap ibunya.

Ia mulai membuka suara, dengan terbata-bata ia menceritakan pada ibunya bahwa ia sudah menemukan lelaki yang ia dambakan tapi ia malah menjauhinya.
“Yasudah nak gak apa-apa, kalo jodoh gak akan kemana,”
Lalu ia masuk kedalam kamar, ia masih memikirkan Andi. Bagaimana Andi sekarang, sudah hampir setahun ia menjauhi Andi. Apakah Andi masih menyukainya,
***

Ibu Nafisah ingin sekali ke Mesir, maka sang Ayah mengajak istri dan anaknya untuk berlibur di Mesir selama beberapa pekan. Di sisi lain, Andi masih terus mencari Narina. Setelah Narina lulus, ia tak pernah memberi kabar pada Andi tapi tetap saja Andi setia menunggu Narina.
Saat Narina hendak berkunjung ke rumah Hikami, ia bertemu dengan Andi. Ingin rasanya ia memeluk Andi untuk menghilangkan rasa rindunya selama ini tapi ia tak bisa. Mereka berdua menangis dan saling bertatapan, Andi tak menyangka penantiannya selama ini membuahkan hasil.
“Narina aku sangat menyayangimu, selama ini aku selalu menunggumu tapi kau tak pernah ada kabar. Aku tak ingin bila harus kehilanganmu lagi, maka maukah kau menikah denganku?”

Narina pun tak bisa menjawab, ia merasa sangat terharu. Inilah saat-saat yang selalu ia tunggu. “Huhuhu aku juga sayang sama kakak, kalau begitu temui orang tuaku dan nikahi aku.”
“Baiklah kalau begitu, akan kusuruh teman-temanku untuk memanggil penghulu dan surat-surat pernikahan akan diurus secepatnya,”
Sesampainya di hotel, Andi langsung meminta ijin pada orang tua Narina untuk menikahi anaknya nanti malam ba’da Isya dan orang tua Narina menyetujuinya.
Setelah azan isya berkumandang, semua teman-teman Narina dan Andi yang berada di Mesir ikut datang untuk menyaksikan prosesi akad nikah mereka. Narina terlihat begitu cantik dengan pakaiannya yang serba putih, Andi juga terlihat tampan. Akad nikah mereka cukup sederhana.

Narina begitu bahagia, kini ia telah menemukan cinta sejatinya. Ia pun sempat meneteskan air mata saat Andi berkata,” Saya terima nikah dan kawinnya Narina Najmatunnisa binti Husein dengan seperangkat alat solat dibayar tunai.”
Semua hadirin pun turut berbahagia, akhirnya cinta Narina Najmatunnisa dan Andi Hanif Rahman berlabuh di Mesir.

Sumber : Irna Octarina

Gunung Menangis Karena Takut Tergolong Batu Neraka

Pada suatu hari Uqa’il bin Abi Thalib telah pergi bersama-sama dengan Nabi Muhammad s.a.w.. Pada waktu itu Uqa’il telah melihat berita ajaib yang menjadikan tetapi hatinya tetap bertambah kuat di dalam Islam dengan sebab tiga perkara tersebut. Peristiwa pertama adalah, bahawa Nabi Muhammad s.a.w. akan mendatangi hajat yakni mebuang air besar dan di hadapannya terdapat beberapa batang pohon. Maka Baginda s.a.w. berkata kepada Uqa’il, “Hai Uqa’il teruslah engkau berjalan sampai ke pohon itu, dan katalah kepadanya, bahawa sesungguhnya Rasulullah berkata; “Agar kamu semua datang kepadanya untuk menjadi aling-aling atau penutup baginya, kerana sesungguhnya Baginda akan mengambil air wuduk dan buang air besar.”

Uqa’il pun keluar dan pergi mendapatkan pohon-pohon itu dan sebelum dia menyelesaikan tugas itu ternyata pohon-pohon sudah tumbang dari akarnya serta sudah mengelilingi di sekitar Baginda s.a.w. selesai dari hajatnya. Maka Uqa’il kembali ke tempat pohon-pohon itu.

Peristiwa kedua adalah, bahawa Uqa’il berasa haus dan setelah mencari air ke mana pun jua namun tidak ditemui. Maka Baginda s.a.w. berkata kepada Uqa’il bin Abi Thalib, “Hai Uqa’il, dakilah gunung itu, dan sampaikanlah salamku kepadanya serta katakan, “Jika padamu ada air, berilah aku minum!”

Uqa’il lalu pergilah mendaki gunung itu dan berkata kepadanya sebagaimana yang telah disabdakan Baginda s.a.w. itu. Maka sebelum ia selesai berkata, gunung itu berkata dengan fasihnya, “Katakanlah kepada Rasulullah, bahawa aku sejak Allah s.w.t.  menurunkan ayat yang bermaksud : (“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu beserta keluargamu dari (seksa) api neraka yang umpannya dari manusia dan batu).” “Aku menangis dari sebab takut kalau aku menjadi batu itu maka tidak ada lagi air padaku.”

Peristiwa yang ketiga ialah, bahawa ketika Uqa’il sedang berjalan dengan Nabi Muhammad s.a.w., tiba-tiba ada seekor unta yang meloncat dan lari ke hadapan Rasulullah s.a.w., maka unta itu lalu berkata, “Ya Rasulullah, aku minta perlindungan darimu.” Unta masih belum selesai mengadukan halnya, tiba-tiba datanglah dari belakang seorang Arab kampung dengan membawa pedang terhunus. Melihat orang Arab kampung dengan membawa pedang terhunus, Nabi Muhammad s.a.w. berkata, “Hendak apakah kamu terhadap unta itu ?”

Jawab orang kampungan itu, “Wahai Rasulullah, aku telah membelinya dengan harta yang mahal, tetapi dia tidak mahu taat atau tidak mau jinak, maka akan kupotong saja dan akan kumanfaatkan dagingnya (kuberikan kepada orang-orang yang memerlukan).” Nabi Muhammad s.a.w. bertanya, “Mengapa engkau menderhakai dia?” Jawab unta itu, “Wahai Rasulullah, sungguh aku tidak menderhakainya dari satu pekerjaan, akan tetapi aku menderhakainya dari sebab perbuatannya yang buruk. Kerana kabilah yang dia termasuk di dalam golongannya, sama tidur meninggalkan solat Isya’. Kalau sekiranya dia mahu berjanji kepada engkau akan mengerjakan solat Isay’ itu, maka aku berjanji tidak akan menderhakainya lagi. Sebab aku takut kalau Allah s.w.t.  menurunkan seksa-Nya kepada mereka sedang aku berada di antara mereka.”

Akhirnya Nabi Muhammad s.a.w. mengambil perjanjian orang Arab kampung itu, bahawa dia tidak akan meninggalkan solat Isya’. Dan Baginda Nabi Muhammad s.a.w. menyerahan unta itu kepadanya. Dan dia pun kembali kepada keluarganya.

sumber :kisah teladan

Dengan Sedekah, yang Sulit Menjadi Mudah

 

SUATU hari di sekitar tahun 2005 saya dan seorang kakak laki-laki sedang kehabisan uang dalam sebuah perjalanan menuju kost. Uang di dompet cuma tersisa satu lembar uang seribuan. Sedangkan, di saku kakak hanya ada selembar lima ribuan. Padahal untuk sampai ke kost kami harus naik angkot dua kali oper. Jelas uang yang ada tidak mencukupi untuk meneruskan perjalanan kami berdua. Meskipun digabungkan sekalipun. Kami berdua sempat duduk termenung di ruang tunggu sebuah terminal. Bingung sekaligus berfikir bagaimana caranya agar kami bisa sampai kost dengan selamat. Setelah merasa tidak mendapatkan jalan keluar, akhirnya kami berdua jalan kaki tak tentu arah.
Dalam situasi yang sempit itu kami terus memohon pada Allah Swt agar diberi jalan dan kemudahan. Karena kami sangat yakin dalam satu kesulitan pasti ada seribu kemudahan. Tak berapa jauh kami berjalan, kami menjumpai seorang pengemis yang duduk di pinggir emperan ( teras ) sebuah toko.
Pengemis tua seorang kakek-kakek dengan baju serta celana kumal, membawa tongkat dan memakai topi kusam duduk bersila. Di hadapannya dia letakkan sebuah kaleng bekas sabun colek yang terisi beberapa uang recehan. Pada saat kami jalan di depannya sontak kakak merogoh saku celananya dan mengeluarkan selembar uang lima ribuan lantas di masukkan ke dalam kaleng milik si kakek pengemis tadi. Saya sempat tegur setelahnya, kenapa dikasihkan ke orang padahal kita kan lagi dalam kesulitan. Tapi kakak tidak menanggapi, dari raut mukanya malah tampak tenang dan ada sebersit keyakinan di sana.
Tidak berapa lama tiba-tiba ada seseorang lagi-laki pengendara motor menyapa kakak. Ternyata teman kerja kakak. Akhirnya di situ kakak dan temannya berbincang sebentar. Di situ kami mendapatkan pertolongan, akhirnya kami bisa sampai ke kost dengan ongkos dipinjami oleh temannya kakak tadi. Suatu waktu kakak cerita katanya temannya mengikhlaskan uangnya dan tidak mau diganti.
Sahabat, sering kita berfikir jika bersedekah hanya di saat kita sedang mampu saja. Manakala keuangan sedang terjepit kita menganggap tidak perlu untuk bersedekah dengan alasan diri sendiri saja sedang sulit, jika harus bersedekah bagaimana nasib kita nanti. Rumus sedekah memang tidak bisa dilogika memakai ukuran manusia. Tapi Allah yang mengatur segalanya. Sedekah merupakan pintu kemudahan terhadap kesempitan yang sedang kita alami. Sebagaimana yang difirmankan Allah Swt :
“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rejekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah diberikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangam sesudah kesempitan,” (QS. Ath-Thalaq : 7).
Saat kita mengalami kesulitan entah itu terlilit hutang yang tiada habisnya, anak susah di atur, sakit yang tak kunjung sembuh, jodoh yang belum juga menghampiri dan berbagai masalah lain, cobalah untuk bersedekah. Sedekah itu merupakan obat mujarab menanggulangani segala kerumitan hidup. Sedekah juga merupakan bukti sejauh mana seorang hamba telah yakin dan percaya dengan janji yang diberikan Allah.
Bagi seseorang yang imannya kokoh dan tidak ada setitikpun keraguan, melakukan sedekah tidak akan melihat dirinya dalam keadaan lapang ( banyak uang/ harta ) ataupun sulit ( miskin ). Sedekah bukan memberikan sebagian rejeki kita ke orang lain tanpa arti. Di saat kita bersedekah Allah membuka pintu kemudahan selebar-lebarnya terhadap kesulitan yang sedang kita alami. Seberapapun besarnya kesulitan itu. Tapi bagaimana jika kita sedang tidak memiliki apapun untuk disedekahkan? Sedekah itu tidak hanya bersifat materi. Bahkan senyum kepada tetangga juga termasuk sedekah.
Berbuat kebaikan semaksimal yang kita mampu dengan menolong sesama yang membutuhkan tenaga kita juga merupakan sedekah. Apapun bentuk sedekah kita, maka Allah akan membalasnya dengan kemudahan-kemudahan yang barangkali di luar dugaan kita. []
Wallahu’alam bish shawab.

ZULKARNAIN :Raja Timur Dan Barat

ZULKARNAIN terkenal sebagai pemimpin dunia dan akhirat. ia raja dn juga nabi . ia berhasil menaklukkan negri-negri di dua belahan dunia ,timur dan barat . Di bawah kepemimpinannya , penduduk beriman kepada Allah .
Zulkarnain menakukkan negri demi negri. Di mana ditemunya kaum yang menyem bah berhala , dimana di dengarnya ada raja yang dzalim, kesanalah beliau tuk menyerangnya. Disingkirkanya raja yang dzalim dan digantikannya dengan raja yang adil,dan taat pada peraturan Alllah serta mampu memakmurkan rakyatnya.
Zulkarnain ahli dalam mendirikan bangunan dan memanfaatkan biji besi. Masyarakat takluknya didibina dengan berbagai keahlian terutama bangunan dan peman faatan biji besi . Setelah beberapa tahun beliau bersama mereka , ditinggalkannya ttempat itu dan meninggalkan tempat itu dan di teruskan perjalanannya ke negri di daerah timur . Penduduknya belum pandai membuat rumah .Pakaiannyamasih sederhana ,asal menutup auran, pun mereka menyembah berhala . Zulkarnain memengajari mereka membuat tempat tinggal ,Dan di bimbingnya mengenal Alllah S.W.T.

Suatu hari datanglah utusan Zulkarnain yang mengabarkan bahwa ia di temui oleh suatu kaum yang tak di mengerti bahasanya mereka tinggal di pegunungan . pemimpin mereka memnta perlindungan kepada Zulkarnain . mereka mengeluh serangan suku barbar yang mereka sebut suku yakjudddan makjud ke negri mereka . negri mereka tidak pernah merasa aman karena terus terusan di rampok dan kehidupan rakyat di porak porandakkan . Lantas Zulkarnain menemui mereka .

”Tuaan , Tolongla kami , tuk menghadapi mereka ” kata peimpinya
“kami bersebdia memberikan apa saja … asal kami dengan musuh kami di bei tembok yang kuat ”
” aku tidak mengharapka apa- apa atas jerih payahku karena aku lakukan karena Allah semata .Maukah kalian membantu membuat tembok itu ?”
rakyat itu amat gembira dan penuh sem,angat membantu tentara Zulkarnain mereka menentukan tempat yang paling rawan dari serangan musuh .Dibuatnya rencana membuat tembok dari besi dan tembaga., agar kukuh dan kuat Beberapa minggu berlalu untuk menumpukkan kayu bakar , kemudian berbonggol bonggol besi di tumpuk di tatasnya hingga setinggi gunung . lalu di bakar hingga melelehdan mencair . kemudian di tambahkan cairan tembaga di atasnya . Ketika cairan bsi dan tembaga itu dingin dan mengeras , selesailan dinding pemisah yang tinggi . Musuh mereka tak lagi bisa menyerang . mereka dapat hidup tenang dan beribadah kepada Allah S.W.T .
Zulkarnain berkata “dinding ini adalah rahmat dari Alllah S.W.T .Dinding inimemisahkan kaum dari musuhnya sampai waktu yang di tentukkan oleh-nya . Kalau tiba janji Allah , maka akan dirubuhkan kembali dindinng ini . jika sudah demikian kembalilah kekacauan di negri ini .sungguh janji Alllah adalah benar “

Puisi Untuk Abah Dan Umi part 1

Hari ini adalah hari yang sangat bahagia untuk semua orang yang ada di sini, kebahagiaan akan terasa lebih lengkap apabila kita di kelilingi oleh orang orang yang ta cintai, bicara tentang CINTA ! ada beberapa orang yang tentunya tidak di ragukan lagi ketulusan cintanya, dan tidak akan pernah lepaskan cinta mereka yaitu keluarga terutama kedua orang tua, keberhasilan dan perjuangan yang kita capai hari ini tidak terlepas dari cinta dan kasih sayang, dukungan dan bimbingan orang tua.

aku berdiri mengenakan peci dan sarung ini di sebuah jalan setapak yang gelap, pandangan ku tertuju pada dua sosok yang tak asing lagi bagiku, dua orang itu begitu aku hargai, aku hormati, aku cintai dan aku sayangi, mereka adalah abah dan umi, dengan di sertai sebuah senyuman akan berjalan menghampiri mereka, seiring terlintas dalam benakku tentang apa yang telah mereka lakukan kepadaku. umi yang dulu mengandungku 9 bulan,umi yang sudah memperjuangkan hidupku dan matinya ahingga kau bisa hadir kedunia,umi juga yang telah merawatku dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, abah yang telah mendidikku, abah yang  telah rela banting tulang ikhlas mengeluarkan keringatnya agar aku bisa menikmati hidup.

detik demi detik hari demi hari bahkan tahun demi tahun apakah yang dapat kulakukan untuk mereka? sering aku tutup kuping  tidak mau mendengarkan nasehat mereka, sering sekali aku berbohong kepada mereka untuk kebutuhan kekuasaanku, sering aku melawan mereka, marah, nakal dan sering juga aku banting pintu jika meeka tidak mengabulkan permintaanku, dan sering kali aku mengatakan kata kata kasar yang tidak pantas mereka dengar. dasar cerewet !,tapi apa mereka menyimpan dendam kepadaku? tidak, tidak sama sekali mereka malah tulus memahami memaafkan kekhilafanku, mereka tetap menyanyangiku dalam setiap hembusan nafas.bahkan mereka tetap menyebut namaku dalam setiap doanya yang mereka panjatkan, hingga mampu membuat diriku jadi seperti ini. ya tuhan,,betapa durhakanya aku ini tak sadarkah aku faham mereka orang yang sangat berarti dalam hidupku.

langkah langkahku terhenti di hadapan merekalalu, ku pandang abah dan umiku inci demi inci badan yang dulu tegak, kekar, kini mulai membungkuk, rambut yang dulu hitam kini mulai memutih dan kulit mereka yang dulu kencang kini mulai berkeriput, ku tatap mata mereka yang bersinar  sinar mulai meneteskan air mata haru karena perasaan bahagia dan bangga melihat aku memegang kitab dan medali ini, kucium tangan mereka dan berkata ” abah, umi, yang aku berikan hari ini tidak akan cukup membayar semua yang telah kalian berikan kepadaku,,, ”

(pengirim : faisal mutaqin kelas 3 muallimin)

Hijrah ke akhirat di bawah alam sadar

didalam sebuah pondok pasti terkait dalam sebuah persahabatan,dan kebiasaan yang menarik adalah jika salah satu dari mereka ada yang bermimpi,biasanya mereka akan mengadukan atau menceritakan dan berbagi mimpi yang mereka alami masing-masing kepada teman-temanya,suatu malam salah satu dari mereka pergi ke masjid AN NUR dia membaca al qur’an dan menghafalkan nadzom al-fiyah sampaikan merasakan kantuk,setelah lama ia membaca al qur’an dan menghafal al fiyah dia bergegas untuk pulang ke kamarnya untuk tidur.

seperti biasa,sebelum tidur dia menyucikan dengan mengambil wudlu,sikat gigi dan cuci kaki,baru kemudian membaringkan badan ke tempat tidur dan tak lupa pula ia membaca do’a sebelum tidur”BISMIKA ALLOHUMMA AHYA  WABISMIKA AAMUUT,””ya alloh aku menyebut namaMU aku hidup dan dengan namaMU aku mati”,itulah pesan dari orangtuanya agar seketika hendak tidur selalu memanjatkan do’a,agar di dalam tidur nya malaikat masih mencatatnya sebagai orang yang baik dan mendekatkan diri kepada alloh.

dengan menyucikan diri,ruh orang yang tidur akan mendapatkan hikmah dan siraman do’a para malaikat,itulah pesan orangtuanya.

sambil pelan-pelan memejamkan mata,dia terus bertasbih menyebut nama alloh juga sholawat nabi hingga akhirnya terlelap,dan di dalam tidurnya itu ia bermimpi.

dalam mimipinya ia bertemu dengan 2 seorang habib yang ia tak kenali sama sekali,tanpa berkata apa-apa 2 seorang habib itu memegang kedua tanganya dan membawanya ketempat seperti neraka,disana banyak orang-orang bahkan anak-anak durhaka yang sedang di siksa oleh para malaikat.

dia seperti ketakutan melihat orang-orang di siksa,dan berbagai siksaan yang di berikan malaikat,siksaan itu setimbang dengan perbuatan orang-orang yang di lakukan di dunia dulu,mereka terpanggang dan menanggung siksa yang tiada tara panas dan pedihnya.

menyaksikan neraka yang mengerikan dan menakutkan itu,tapi seketika itu dia berdo’a,”na’udzubillahi mindzalik,ya alloh aku berlindung kepadaMU dari apai neraka,jauhkanlah aku dari api neraka yang panas membara milik MU itu ya alloh”.

setelah itu,dia dengan para habib yang lain,habib itu berkata”jika kau tidak ingin masuk kedalam neraka panas ini,kau harus rajinlah membaca al-qur’an dan qiyamullail,karena saat ini kau belum terjaga dari api neraka!”

***

pada harinya,dia bangun dari tidur lelapnya,seketika itu dia meneteskan air mata,menangisi mimpi yang di alaminya tadi malam,lalu karena dia sangat ketakutan,bingung,resah memikirkan tentang mimpinya itu dia pergi menemui teman-temannya,dia menceritakan perihal mimpinya itu dengan hati yang cemas dan gelisah.

setelah itu teman yang di ceritakan tentang mimpinya itu,mengajak nya kerumah seorang habib yang masyhur dan menceritakan mimpi yang di alaminya.

seketika itu,habib itu berkata:”sebaik-baiknya mimpi itu adalah jika seorang yang mimpi tentang itu adalah jika seorang yang mimpitentang itu,di perintahkan agar selalu melaksanakan sholat malam terutama sholat TAHAJUD.

mendengar perkataan seorang habib itu,kedua sahabat  itu sangat bergembira,dia langsung menemui teman-teman yang lainya,mereka berkata”semalam aku bermimpi sangat mengerikan,karena aku takut dengan mimpiku itu,aku pergi kerumah seoranghabib,dan menceritakan tentang mimpiku,lalu habib itu berkata kepadaku”bahwa kau sebaik-baik orang jika kau mau sholat malam terutama tahajud,dalam mimpimu itu habib yang terakhir kau temui mengatakan bahwa kau belum terjaga dari api neraka,itu karna kau tidak melakukan shalat tahajud ,jika kau ingin terselamatkan dari appi neraka,dirikanlah sholat tahajudsetiap malam,jangan kau sia-siakanwaktu sepertiga malam,waktu di mana alloh swt,memanggil-manggil hambaNYA,waktu ketika alloh mendengar do’a hambaNYA.”itulah kata habib kepada ku.

***

sejak itu dia tidak pernah meninggalkan shalat tahajud sampai akhir hayat nya.bahkan kerap kali dia dia menghabiskan waktu malamnya untuk sholat,dan menangis di hadapan alloh swt,setiap kali mengingat mimpinya itu,dia menangis.dia berdo’a kepada alloh agar di selamatkan dari api neraka.

apalagi jika ia ingat habib itu kepadanya,”sesungguh nya,penghuni neraka yang paling ringan siksanya pada hari kiamat adalah seseorang yang di letakan pada kedua telapak kakinya bara api yang membuat otaknya mendidih,dia merasa tidak ada orang lain yang lebih berat siksanya dari pada dia,padahal,sesungguhnya siksa yang ia trima adalah yang paling ringan di dalam neraka,”

dia berusaha sekuat tenaga untuk beribadah kepada alloh,mencari ridho alloh,agar termasuk hamba-hamba NYA yang terhindar dr siksa neraka dan memperoleh kemenangan surga.

akhirnya dia bisa merasakan betapa nikmatnya sholat tahajud,betapa agung keutamaan sholat tahajud,tidak ada yang lebih indah dari saat-saat ia sujud dan menangis kepada alloh pada malam hari dan dia pun terbiasa…

***

sumber:siti maghfiroh

Musafir Cilik

Ayah…Ibu…kapan ku bisa bertemu kalian lagi ?
Ayah…. Karenaku nyawamu melayang, andai peluru itu membelokan arahnya pasti tak mengenaimu dan sampai saat ini kau baik-baik saja. Kau memang Ayah yang baik, rela mengorbankan nyawanya demi anak nakal sepertiku, aku sangat berdosa padamu Ayah…… Ayah maafkan anakmu ini ?

Ibu……
Karena aku kau diasingkan jauh dariku, karenaku kau menderita karna aku juga kau kehilangan Ayah. Aku memang anak yang tak berguna hanya bisa menyusahkan orang tua. Ibu…. Aku ingin bertemu denganmu ?maafkan kesalahan anakmu ini Ibu….

Anak laki-laki dekil itu melangkah dan terus melangkah. Ia mengenakan celana selutut yang warnanya putih dekil, bagian atasnya tak mengenakan apa-apa, hanya dikepala ia menutupi rambut ikalnya dengan peci yang warnanya tak jauh beda dari celana dekilnya. Kakinya tak beralaskan sandal apalagi sepatu. Badannya yang kurus- kering membuat orang-orang iba melihatnya. Tapi, apakah ada yang iba pada anak yatim malang itu? sedangkan dia berada ditengah hutan yang jauh dari warga. Tapi dia bersyukur karena lolos dari tangan jahat Belanda, kalau saja dia tertangkap. Hari ini, jam ini, menit ini juga ia telah tercatat menjadi salah-satu anggota pekerja Rodi. Dimana kerja paksa itu sangatlah berat, tak ada istirahat. Tapi, disisi lain dia juga bersedih karena berpisah dengan Pak Bupati yang baik hati, yang selalu mengajarinya menulis, membaca juga berhitung. Dari Pak Bupatilah dia bisa menulis surat untuk Ayah dan Ibunya.

Namanya Sunyono anak kecil yang ditinggal mati Ayahnya karena tertembak tentara Belanda, yang ditinggal Ibunya karena diasingkan jauh di Bangka. Kini dia sebatang kara, hidup tanpa tujuan. Tapi walau dia baru berumur 10 tahun dia punya satu kepercayaan yang tak terkalahkan oleh semua orang. Suatu kemantapan yang tertanam dalam hati yang diajarkan Ayah dan Ibunya. Walau dia tak membawa mushaf dia selalu mengalunkan ayat-ayat suci dimana saja. Karena ia yakin Allah SWT melindunginya. Dia hanya membawa sehelai kertas lecek dan pensil pendek yang mulai tumpul pemberian Pak Bupati. Dikertas itulah dia mencurahkan isi hatinya merindukan Ayah dan Ibu juga hal-hal baru yang tengah dialaminya.

Hutan!!!!! Baru kali ini ia menapakkan kakinya dihutan. Hutan yang menurutnya seram, yang banyak memakan manusia, yang hanya dihuni oleh hewan-hewan buas, pohon-pohon yang tinggi, akar-akar raksasa juga ranting-ranting yang bergelantungan semaunya. Apa benar hutan ini menyeramkan ? Untung Sunyono punya kemantapan, jangan menyerah sebelum mencoba, jangan putus asa sebelum membuktikannya.
Sunyono buka hutan itu, ia langkahkan kakinya diatas akar-akar raksasa yang menghalangi kakinya, ia merunduk-runduk melewati ranting-ranting liar yang memergokinya, ia memandang pohon-pohon besar yang menjadikannya teramat kecil, ia dengarkan suara yang bersahutan yang membawanya seakan pada keramaian. Sunyono pasrah, tapi tetap berdo’a, berharap tak terjadi apa-apa pada dirinya. Karna ia selalu ingat dimana, kapan saja Allah SWT pasti melindunginya.

Cuaca hari itu belum terasa panas, jendela hutan mulai terbuka menampakkan sinar yang terang. Pohon-pohon yang rimbun daunnya memulai kegiatan fotosintesisnya membuat Sunyono yang duduk bersandar dibawahnya terasa sejuk, karena lambaian daun-daun yang segar itu. Berapa langkah didepannya bunga-bunga liar mulai merekah menyebarkan bau semerbak mengundang para kumbang menghinggapinya. Suara burung-burung walet yang terdengar begitu damai menelusuri cakrawala timur. Suasana yang jarang dirasakannya. Biasanya pagi ini, warga desa telah sibuk dengan kerja paksanya, tak sedikit wanita yang diseret-seret ditengah jalan, mahkota panjang yang indah dijambaknya seenaknya saja. Mayat-mayat banyak tergeletak, sungguh suasana yang memilukan membuat orang-orang trauma mengingatnya. Apalagi bagi anak kecil seperti Sunyono, pasti ia sangat tertekan, hatinya diluputi kesedihan yang berantai sukar dilupakan.

Perjalanan yang dimulainya ba’da subuh lalu merupakan rintangan sulit baginya. Hawa dingin dan rasa takut menggelugutinya, bulu kuduknya terasa merinding, apalagi waktu ia mulai masuk hutan, suara yang mengerikan menyambutnya, bunga-bunga liar yang tumbuh dimana-mana memamerkan panoramanya. Kakinya tak sanggup melangkah tatkala ia lihat ular besar yang melilit dipohon raksasa. Ular itu mendesis, menjulurkan lidahnya dan mutiara matanya tajam menatap kearah nya. Sunyono seperti patung hidup untuk beberapa menit. Dimenit selanjutnya, dia bersyukur karena ular besar itu tak jadi memangsanya, mungkin ular itu menyadari Sunyono terlalu kecil baginya. Sunyono melanjutkan langkahnya memasuki hutan yang lebih dalam dan…..dibalik ranting-ranting yang bergelantungan, kawanan kera tengah asyik berayun kesana- kemari. Dia kembali terdiam, langkahnya kini dihalangi kawanan Kera yang kelihatannya ganas-ganas. Sunyono membalikan langkahnya duduk dan bersandar dibawah pohon rindang yang menurutnya aman untuk berteduh. Dibawah pohon beringin raksasa itulah Sunyono mulai menulis surat untuk Ayah dan Ibunya, menunggu kawanan Kera berlalu dari pandangannya. Setengah jalan Sunyono menulis, kawanan Kera tak terlihat batang hidungnya, berfikir sudah cukup aman dia melanjutkan langkahnya memijakan kakinya diatas akar-akar raksasa, dan sampailah Sunyono dijantung hutan, dimana sekarang dia sedang duduk mengenang perjalanan hidupnya.

Nampaknya pohon-pohon jati mulai meranggaskan daun-daunnya. Hutan mulai ramai dengan suara-suara yang jauh terdengar. Burung Elang mulai terbang rendah meninggalkan sarangnya. Kicauan burung mulai bersahutan didahan pohon-pohon, suasana hutan mulai ramai tapi Sunyono tak merasa ketakutan.Karena ia teguh dengan pendiriannya.
Anak kecil itu hanyut dalam lamunanya. Bayangan Ayah dan Ibunya memenuhi alam pikirannya. Tampak sajadah suci di bentangkan di depannya, lambaian halus mengantarnya menuju tempat dimana ia biasa berwudhu. Kerekan timba terdengar jelas di telinganya, kucuran air wudlu mengalir dengan derasnya. Dia berwudlu, membasuh anggota yang wajib dibasuh sebanyak tiga kali. Air kucuran itu mulai surut, dia membaca do’a semestinya dan kembali melangkahkan kakinya menuju tempat suci dimana sajadah yang biasa di pakainya di bentangkan….
“Astaghfirulloh hal a’dzim…..”
Sunyono terjaga dalam lamunanya, wajahnya yang kusut tak di sadari penuh dengan balutan air mata, ia menengok kekanan, kekiri dan kakinya mulai melangkah ia tampak bingung,entah apa yang dia cari. Sunyono melangkah ke pinggir hutan tapi akhirnya dia memasuki hutan lagi, mungkin kalau di waktu dua jam lebih dia berlari-lari dari hutan ke pinggir ke hutan lagi, kepinggir dan titik akhirnya ia berdiri dengan nafas yang tersengal-sengal di jantung hutan, keringatnya membasahi sekujur tubuhnya.
“Apa disini tidak ada air?” Tanya Sunyono pada dirinya sendiri.
“Haaaaa!!!!Bolak-balik ke pinggir dan ketengah hutan hanya mencari air!!!! Ck…..ck….ck…..
Sunyono lagi-lagi duduk di bawah pohon, mengusap keringatnya, dia lepas pecinya, dia luruskan kakinya dan tak lupa bibir mungilnya menyebut asma-Nya.
“Astaghfirullohhala’dzim….Astaghfirullohhala’dzim.”
Sunyono bangkit dari duduknya melangkah pelan menatap jalan di depannya matanya menengok kekanan kekiri, dan ke bawah. Pelan-pelan ia jongkok dan menepukkan kedua telapak tangannya di debu yang suci dia mulai tayamum mengusap anggota yang di haruskan Sunyono berdiri melangkah pelan memandang sekelilingnya.
“Dimana letak arah kiblat?”tanyanya dalam hati.
Untuk yang kesekian kalinya Sunyono terdiam, ia benar-benar bingung. Baginya sholat sunah adalah kewajiban itulah tuntutan orang tuanya.
“Allah Swt tahu keadaan hambanya, Ya Allah….hamba ingin sholat tapi hamba tidak tau arah kiblat, terimalah shalat hambamu ini ya Allah……”

Dengan kesungguhan hati, Sunyono membentangkan daun yang lebar di depannya, pandanganya ke bawah memulai sholat dhuha. Dia menempelkan telapak tanganya hidungnya juga jidadnya di atas daun lebar itu. Salam mengakhiri pertemuanya dengan penciptanya dzikir dan munajat do’a melampiaskan kerinduannya kepada Sang Khalik.
Air matanya kembali mengalir, kepedihan yang teramat dalam harus ia jalani. Hidup tanpa orang tua hidup sebatang kara, matanya menerawang jauh kemasa lalu dimana dia dan orang tuanya biasa bersama .
“Kalau kamu besar nanti kamu mau jadi apa?” Tanya ayahnya.
“Aku mau jadi ustadz Yah, biar aku jadi pintar ngaji…”
“Emang kalau mau pintar ngaji harus jadi ustadz…”
“Sunyono yang menampilkan gigi kuningnya, dengan lembut ayah dekap tubuh Sunyono, air mata beliau mengalir pikirannya menerawang ke depan membayangkan masa dimana anak semata wayangnya beranjak dewasa. Berharap Sunyono tumbuh menjadi laki-laki yang gagah, berjiwa besar dan hidupnya tak seperti dirinya yang hanya akan habis di makan penjajah. Sulit marasakan kebahagiaan. Beliau sangat berharap dimasa Sunyono dewasa, penjajah tak lagi berkutik dan Indonesia telah menjadi bangsa yang merdeka.
Ayahnya tak habis pikir, anak sekecil Sunyono mempunyai cita- cita yang begitu tinggi. Dalam keadaan genting itu dia masih bersemangat. Air mata ibu tak mampu lagi dibendung, buliran tetes air suci membasahi pipinya yang mulai keriput. Air mata ayah dan ibunya sama- sama deras.
Sunyono menyadari itu, perlahan dia tatap wajah keberanian ayahnya, lalu menatap wajah ibunya yang penuh kasih sayang. Dia hapus butiran kristal lembut ayah dan ibunya, Sunyono dekap tubuh ayahnya tak lupa dia cium pipinya, Sunyono cium telapak tangan ibunya, tak lupa ia kecup keningnya.

***

Saat mentari mulai muncul, menampakan sinarnya, kehidupan yang gelap mulai terlihat. Sunyono asyik sarapan dengan lauk garam sedangkan Ibunya tengah menyembunyikan makanan ditempat yang aman agar tentara Belanda tak menemukannya. Dan Ayahnya tengah menata dagangannya untuk dijual pada tentara Belanda dengan harga yang begitu murah . Selesai makan,Sunyono segera berlari pelan menuju rumah Pak Bupati.
Ayahnya pamit menjual dagangannya, ia berjalan pelan menuju rumah kediaman jenderal Belanda. Ditengah jalan beliau melihat Sunyono berlari membawa sehelai kertas leceknya dan satu pensil pendek yang mulai tumpul. Tubuhnya tak berbaju hanya mengenakan celana kolor dekil. Saking semangatnya, tak sengaja ia menabrak dagangan Belanda, ia jatuh. Pelototan mata menatapnya tajam, tampak kesal dirautnya. Sunyono ketakutan, tubuhnya gemetaran, ia duduk dikelilingi butiran beras yang berantakan. Pria bule itu tak berkata apa-apa, tapi lihatlah dia mulai mengeluarkan benda yang membuat seluruh penduduk ketakutan, peluru ! Sunyono tambah ketakutan. Ia mulai menangis, tak bisa dibayangkan peluru yang kejam itu melukai tubuhnya. Dia memejamkan mata, berdo’a berharap pelurunya meleset kearah yang salah Tapi…… DOOOOOORRRRRRRR!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Dengan gemetaran Sunyono membuka matanya, pria bule itu tampak tersenyum sinis. Sesosok tubuh laki-laki tergeletek didepan Sunyono, tubuh itu tampak lemas sekali, nadinya berhenti berdegup, kaos oblong putihnya dipenuhi cairan berwarna merah, seperti……DARAH!!!!Namun dibalik semua itu, bibirnya menyunggingkan senyum yang begitu indah. Sedang air mata Sunyono mengalir deras, isak tangisnya mulai bersahutan. Terkuras sudah suara Sunyono menjerit disela-sela tangisnya.

” Ayah……Ayah…..bangun Ayah bangun……” Sunyono menjerit sekeras-kerasnya.
Warga banyak yang mengelilingi Sunyono, yang tengah mengguncang-guncangkan tubuh Ayahnya. Kepedihan seperti ini sudah biasa terjadi, setiap hari pasti ada kematian tanpa diminta, penyiksaan, pemaksaan, pembunuhan menjadi ritual setiap hari. Dalam duka citanya itu, Sunyono tak bisa berhenti menangis, sedang pria bule yang kejam telah pergi entah kemana arahnya.

Suara tangis seorang perempuan tak jauh dari kerumunan mulai terdengar samar-samar. Dia langsung menghambur dibalik kerumunan. Jeritan yang melengking memecahkan suasana. Perempuan itu merangkuli tubuh yang tergeletak kaku. Dialah Ibu Sunyono, suaranya yang parau mulai melirih terlihat ia tak terima. Tubuhnya mulai lemas dan tergeletaklah dua insan tanpa sadar, Sunyono hanya duduk menjadi patung hidup. Air matanya terus mengalir isak tangisnya bersahutan.

Suara peluru melengking diudara, warga yang berkerumun kembali ketempat kerjanya masing-masing. Hanya tampak tiga insan ditengah jalan, dua tak sadar dan yang satu sadar. Suara sepatu mendekati tiga insan yang terdiam. Langkahnya mulai mendekat dan….Tangan kekar menyeret pergelangan tangan Ibu Sunyono, Sunyono sadar ia berusaha mencegahnya tapi Sunyono malah didorong dan jatuh ketubuh Ayahnya. Sunyono benar-benar sangat tersiksa, ia tinggalkan mayat Ayahnya dan berlari tak tentu arah.
Itulah kesedihannya kemarin kesedihan yang takan berujung. Jika ingat cita-citanya, tak sedikit air matanya mengalir. Tak dapat dibayangkan anak kecil yang dekil, kurus kering tak berbaju dan hanya hidup sebatang kara tapi ia selalu berharap Tuhan memberi secercah cahaya dimasanya. Berharap nyawanya masih melekat lama dalam raganya. Berharap Allah Swt. memberikan kekuatan lebih padanya.
“YA….Allah……….Hamba ingin tetap di jalanmu , buatlah hamba selalu berharap jauh dari putus asa…….AMIN……..!!!!!!!!!”