Ayo Mondok: Beberapa Alasan Pentingnya Belajar di Pesantren

 

Pondok pesantren pada awalnya di-setting sebagai lembaga pendidikan non-formal. Surau, Masjid dan pemondokan santri menjadi ruang aktifitas sentral para santri belajar ilmu. Ilmu yang dipelajari secara umum berkutat pada persoalan disiplin ilmu agama (baca; Islam), semisal fiqh, tasawwuf, nahwu, shorof, tauhid, tajwid dan semacamnya. Teks-teks yang jadi rujukan juga seputar kitab kuning klasik, sebuah karya cendikiawan Islam (Ulama) yang rata-rata ditulis pada abad pertengahan. Hal semacam itu membuat beberapa kalangan menjuluki kaum pesantren sebagai kaum tradisionalis.
Seiring berjalannya waktu, tuntutan zaman kian kompleks. Pesatnya keilmuan yang semakin spesifik serta perkembangan teknologi terus menuntut pesantren tetap bisa menjadi lembaga pendidikan yang selalu survive. Alhasil, pesantren juga membuka pendidikan umum mulai dari SD-MI, SLTP-MTs, SMA-SMK-MA-MAK, bahkan Perguruan Tinggi. Sungguh ini capaian yang luar biasa. Selain menjadi lembaga pendidikan agama, pesantren juga membuka ruang untuk siapa saja yang ingin memperdalami ilmu umum.
Keberadaan itu ternyata tidak membuat pesantren aman dalam memuluskan ajarannya. Munculnya pesantren-pesantren baru yang sebenarnya berada dalam naungan aliran Islam transnasional menjadi tantangan pesantren yang sudah lama ada. Pesantren baru muncul dengan mengedapankan ilmu umum semata, pengetahuan bahasa Inggris dan bahasa Arab menjadi tawaran untuk menarik animo para orang tua agar memondokkan anaknya di pesantrennya.
Gerakan “Ayo Mondok” yang dipelopori oleh Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU menjadi signal bahwa lembaga pendidikan pesantren bukan lembaga alternatif. Akan tetapi, pesantren dengan segala bentuknya merupakan lembaga unggulan. Memang, jika dilihat dari redaksi bahasa, gerakan tersebut seakan-akan hanya ajakan untuk orang tua agar memondokkan anaknya di pesantren. Ajakan tersebut diperuntukkan agar orang tua tidak memondokkan anaknya di pesantren yang salah. Karena, meskipun menempuh pendidikan di pesantren bukan jaminan mereka sudah berada di tempat yang benar. Jika pesantren yang ditempati berideologi Islam garis keras, maka sejatinya mereka tidak nyantri. Akan tetapi, mereka dididik untuk menjadi para “teroris” dengan alasan “jihad”. Setelah keluar sebagai alumni mereka malah mencoreng nama Islam itu sendiri. Untuk itulah, gerakan “Ayo Mondok” menjadi sebuah kampanye penting agar orang tua tidak salah menitipkan anaknya untuk belajar di pesantren.
Pentingnya Mondok
Banyak hal kenapa orang tua penting memondokkan anaknya di pesantren yang benar. Menurut pengalaman penulis sendiri, ada beberapa hal kenapa penting menempuh pendidikan di pesantren, tentunya pesantren yang berada di bawah asuhan kiai-kiai Nahdlatul Ulama (NU). Di antaranya pertama, pesantren NU memiliki sanad keilmuan yang jelas. Segala yang dipelajari di pesantren NU bisa dipertanggungjawabkan. Jika kita runtut, ilmu yang dikonsumsi alurnya jelas sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Oleh karenanya, kita tak perlu khawatir atas kebenaran ilmu yang dipelajari di pesantren NU. Karena itu sudah sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW yang besok bertanggung jawab dihadapan Allah Yang Maha Esa.
Kedua, pesantren mengajarkan kita untuk tidak berpikir oposisi-binner. Sebuah gaya berpikir yang selalu mempertentangkan setiap perbedaan. Tak heran, jika gerakan feminisme menjadi kekuatan matriarki yang menindas kaum lelaki, semisal. Atau sosialisme menentang otoriterianisme, lalu menjadi otoriterianisme dengan bentuk baru. Nah, di pesantren kita diajarkan bahwa perbedaan itu adalah sunnatullah. Perbedaan tidak perlu dipertentangkan, akan tetapi disikapi secara arif agar bisa berjalan beriringan.
Pelajaran sejarah yang bisa kita petik adalah saat terjadi perang sesama sahabat Rasulullah. Ketika beberapa kelompok memberi dukungan kepada salah satu sahabat, bahkan ada yang memilih menyalahkan keduanya. Ulama Ahlussunnah memilih tidak berkomentar. Diamnya Ahlussunnah bukan tanpa alasan, sikap diam tanpa komentar merupakan pernyataan tersirat bahwa keduanya sama-sama mempunyai dasar alasan atas perang yang mereka kobarkan. Keduanya sama-sama sahabat Rasulullah dan perbedaan pandangan itu hal yang biasa terjadi, tak terkecuali sahabat Nabi sendiri.
Ketiga, kita dikenalkan tentang konsep barokah. Dalam kehidupan pesantren, barokah menjadi hal penting yang dijadikan pegangan santri. Sering kali kita mendengar, setinggi apapun ilmu yang didapatkan jika tidak mendapatkan barokah Kiainya, maka ilmu yang didapat akan sia-sia. Dalam pandangan pesantren tabarrukan atau biasa disebut barokah mempunyai makna penambahan kebagusan dari Allah, ziyadatul khair. Artinya, setiap waktu semakin bertambah baik. Barokah merupakan sebuah kekuatan rasa yang dimiliki oleh Kiai dan dipercaya mampu melegitimasi ilmu yang diperoleh santri, manfaat atau tidak. Barokah tidak semata-mata bisa hadir dari seorang Kiai. Artinya, untuk mendapatkan titel bahwa seorang Kiai memiliki kekuatan barokah biasanya terletak pada sejauhmana Kiai tersebut memilki karomah.
Karomah sendiri merupakan sebuah pengetahuan yang telah mengkristal pada diri seorang Kiai. Tentunya, ilmu yang pernah dipelajarinya telah menyatu dengan dirinya. Nah, Kiai seperti ini akan terlihat begitu karismatik di depan santri-santrinya dan masyarakat pada umumnya. Ternyata, hal semacam ini tidak hanya diakui oleh kalangan pesantren. Seorang tokoh sosiologi, Max Weber juga mengakui akan kebenaran ini. Dalam menjelaskan rasionalisasi, Weber mengakui bahwa ilmu-ilmu sosial harus berkaitan dengan fenomena spiritual atau ideal. Alasannya, sebagai ciri-ciri khas dari manusia yang tidak berada dalam jangkauan bidang ilmu-ilmu alam. Nah, yang semacam ini dalam pesantren biasa disebut dengan barokah dan karomah. Sesuatu yang selama ini kita anggap mistis, ternyata hanya persoalan rasio akal belum mampu menjangkaunya. Sebenarnya ini adalah hal yang rasional, suatu saat bisa dibuktikan.
Keempat, dari pesantren kita akan diajarkan bagaimana bersosial. Tanpa disadari, dalam kehidupan santri menyimpan segudang pelajaran hidup. Hal sederhana, semisal bagaimana santri makan bersama dengan menggunakan talam. Dari situ kita bisa lihat, bahwa kebersamaan dalam pesantren itu sangat diutamakan. Tanpa melihat dari mana asalnya, miskin, kaya bahkan keturunannya. Pesantren tak pernah mengenal kasta, semua diperlakukan sama, santri.
Kelima, selain persoalan di atas, hal paling penting yang bisa didapat dari pesantren adalah “Akhlak”. Akhlak yang dimaksud di sini bukan sekedar persoalan etika semata. Karena etika lebih kepada persoalan pola sikap dan pola ucap. Semisal, seorang koruptor yang sosialnya bagus tidak bisa dikatakan berakhlak. Karena apa yang ia lakukan tidak sesuai dengan kebenaran hatinya.
Akan tetapi, akhlak jauh melampaui itu. Seseorang yang berakhlak, baik tindakan, perkataan, pikiran maupun perasaannya akan berjalan secara beriringan. Keempatnya tidak mungkin bertentangan. Contoh yang bisa kita ambil, ketika Nabi Muhammad SAW mengutuk seseorang yang munafik. Seperti kita mafhum, munafik adalah seorang yang ucapan dan tindakan, pikiran serta hatinya tidak sesuai. Dari contoh itu bisa kita petik, bahwa akhlak meliputi persoalan pola sikap, pola ucap, pola pikir dan pola rasa (hati). Bagaimanapun juga, Nabi Muhammad SAW diutus ke dunia, tak lain dan tak bukan untuk menyempurnakan akhlak manusia, Innama bu’itstu liutammima makarimal akhlaq.
Ini hanya sekelumit pengalaman dari penulis yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren. Tentu masih banyak hal lain yang bisa dijadikan alasan kenapa mondok (nyantri) itu penting. Ada segudang pelajaran dan pengalaman yang hanya bisa kita dapatkan dari pondok pesantren. Untuk itu, Ayo Mondok.
Sumber : NU Online

[/dropcap]

17 Cara Mengurangi Mata Minus

Bagi Anda yang menderita mata minus, pastilah akan mencari cara mengurangi mata minus agar penglihatan bisa kembali normal. Menderita mata minus memang membuat beberapa hal menjadi terbatas seperti contohnya berolahraga. Di bawah ini akan diuraikan beberapa cara mengurangi mata minus yang penulis dapatkan melalui pengalaman sendiri ataupun membaca buku-buku dan artikel mengenai cara mengurangi mata minus yang telah beredar di pasaran.
Mata manusia pada dasarnya diciptakan untuk berburu, memandang kejauhan dan kegiatan-kegiatan lainnya yang berhubungan dengan alam, karena hal ini maka mata manusia mampu mengubah tingkat fokusnya dengan sangat cepat. Namun seiring dengan berkembangnya jaman, mata manusia dipaksa untuk lebih banyak bekerja di lingkungan yang membuat mata memandang pada suatu titik yang sama dalam jangka waktu yang cukup lama, sebagai contohnya: para siswa yang diharuskan untuk banyak membaca buku. Hal ini mengakibatkan bola mata menjadi kaku yang pada akhirnya membuat bola mata tidak mampu mengubah kembali daya fokusnya, akibatnya adalah menderita mata minus.
SEKILAS MENGENAI PENYEBAB MATA MINUS
Selain hal diatas, ada juga beberapa penyebab mata minus, yaitu:
1. Faktor Etnis.
Hasil penelitian menemukan bahwa persentase penderita mata minus paling banyak ditemukan pada orang Asia yaitu sebesar 70-90%, kedua pada orang Eropa atau Amerika yaitu sebesar 30-40%, dan terakhir pada orang Afrika yaitu sebesar 10-20%.
2. Keturunan.
Orang tua yang memiliki bola mata yang lebih panjang (bola mata pada mata minus memang lebih panjang dibandingkan bola mata normal) biasanya akan memiliki keturunan yang memiliki bola mata yang lebih panjang pula.
3. Kebiasaan yang buruk.
Hal ini adalah penyebab utama kita menderita mata minus, mengingat sebagian besar orang dilahirkan dengan kondisi mata normal. Contoh kebiasaan buruk yang mengakibatkan mata minus, yaitu: membaca sambil tiduran, memandang tv/layar komputer terlalu lama, memandang suatu objek dalam waktu yang cukup lama tanpa mengalihkan pandangan, kurang memberi nutrisi yang cukup pada mata.
4. Penyakit.
Terkadang penangan yang salah ketika menderita suatu penyakit atau mengkonsumsi obat-obatan yang terlalu keras bisa memperburuk penglihatan. Penyakit tertentu juga bisa menyebabkan daya penglihatan menurun, seperti penyakit glukoma.
CARA MENGURANGI MATA MINUS
1. Konsumsi makanan yang memberikan nutrisi pada mata, terutama suplemen mata.
Cara mengurangi mata minus ini merupakan cara yang paling banyak memerikan keuntungan karena hasilnya berguna bagi kesehatan tubuh Anda, bukan hanya untuk mata saja. Mata membutuhkan vitamin A, β-carotene, vitamin E, zinc dan berbagai nutrisi lainnya untuk bisa berfungsi dengan baik. Menjaga kesehatan mata memerlukan asupan nutrisi yang cukup tinggi sehingga agak sulit untuk dipenuhi oleh makanan sehari-hari dan harus didukung oleh asupan suplement seperti:
1. Supplement Kalsium dan Vitamin A berdaya serap tinggi dan berkualitas tinggi.
2. Supplement Zinc organik yang aman bagi tubuh
3. Supplement β-carotene dan vitamin E berkualitas tinggi (Vitaline)
Makanan sehari-hari untuk menjaga kesehatan mata:
1. Wortel, kaya akan vitamin A dan β-carotene.
2. Ikan Salmon, kaya akan omega-3.
3. Alpukat, kaya akan kandungan lutein.
4. Kol dan Bayam, mengandung lutein, zeaxanthin dan vitamin C.
5. Telur, mengandung lutein, vitamin A, vitamin B12, vitamin D, zinc, dan protein.
6. Tomat, kaya akan vitamin A, vitamin C dan lycopene.
7. Tiram, kaya akan kandungan zinc (seng).
Apabila Anda mengalami kesulitan untuk mendapatkan nutrisi yang lengkap, disarankan untuk menambah asupan nutrisi dengan mengkonsumsi suplemen.
2. Lepas kacamata jika tidak diperlukan.
Ketika menggunakan kacamata, mata akan terbiasa terfokus pada pusat lensa (bagian tengah kacamata), hal ini menyebabkan otot mata menjadi kaku karena bola mata jarang bergerak untuk memandang ke arah lainnya. Anda bisa coba buktikan sendiri, ketika menggunakan kacamata, Anda akan lebih banyak menggerakan leher Anda untuk melihat sekeliling Anda dibandingkan menggerakan bola mata Anda. Selain itu, dengan melepas kacamata, maka Anda juga akan mengurangi ketergantungan pada kacamata.
3. Sering-sering mengganti objek pandangan Anda.
Jika Anda sering menatap satu objek dalam waktu lama, hal itu akan membuat otot mata menjadi kaku, oleh karena itu sering-seringlah mengganti objek yang dilihat, sebagai contoh: setelah menatap layar komputer, alihkan pandangan Anda ke jendela atau halaman rumah Anda selama beberapa saat, barulah kembali menatap computer.
4. Sering-sering menatap objek yang jauh, terutama yang berwarna hijau.
Objek yang berwarna hijau diyakini memberikan dampak positif bagi mata, oleh karena itu cobalah sesekali pergi ke gunung untuk memandang pepohonan. Apabila dirasa tidak memungkinkan karena keterbatasan waktu, sering-seringlah menatap objek-objek yang jaraknya cukup jauh untuk mengistirahatkan otot mata Anda.
5. Latih mata dengan melihat benda-benda yang bergerak.
Cara mengurangi mata minus yang satu ini bisa dilakukan dengan melihat kendaran yang berlalu-lalang di jalan raya, namun jika dirasa kurang sreg atau membahayakan, Anda bisa menggantinya dengan menggunakan bola ping pong yang dililitkan pada seutas benang. Tataplah bola ping pong yang diayunkan dari jarak yang tidak terlalu dekat dengan mata Anda.
6. Biasakan untuk menyisihkan waktu 15 menit setiap jamnya untuk mengisitirahatkan mata
Apabila rutinitas mengharuskan Anda untuk sering menatap layar komputer, biasakan untuk mengistirahatkan mata Anda dengan memandang kejauhan minimal 15 menit setiap jamnya. Hal ini akan sangat mencegah kenaikan mata minus Anda.
7. Lakukan terapi daun sirih.
Daun sirih memiliki berbagai macam khasiat, salah satunya adalah membuang kotoran, mengobati iritasi, mematikan kuman dan jamur pada mata. Cara untuk melakukan terapi daun sirih adalah:
1. Ambil 2 lembar daun sirih.
2. Cuci bersih (jangan direbus karena akan mengeluarkan zat-zat yang terkandung di dalamnya).
3. Tempelkan pada kelopak mata sebelum tidur (bisa menggunakan bantuan plester agar menempel pada mata).
4. Pagi harinya, lepas daun sirih dan cuci bersih wajah Anda.
8. Lakukan terapi lilin.
Terapi lilin bisa digunakan untuk membantu mata mengeluarkan kotoran melalui air mata. Cara untuk melakukan terapi lilin adalah:
1. Ambil 1 batang lilin dan nyalakan.
2. Tataplah lilin tanpa banyak berkedip sampai mata Anda banyak mengeluarkan air mata.
3. Lakukan kira-kira 4x seminggu.
9. Lakukan senam mata.
Senam mata sangat baik dilakukan karena dapat melatih kelenturan otot mata, selain itu cara ini merupakan cara mengurangi mata minus yang paling populer dan paling cepat terasa khasiatnya. Cara untuk melakukan senam mata adalah:
1. Tatap lurus ke depan.
2. Gerakan pandangan ke arah atas secara perlahan-lahan dan pertahankan selama 10 detik.
3. Gerakan bola mata kembali ke tengah dan pertahankan selama 10 detik.
4. Lakukan juga poin no.2-3 untuk ke arah bawah, kanan dan kiri.
5. Setelah poin no.4 selesai dilakukan, lakukan gerakan memutar bola mata Anda 360° searah jarum jam selama 2x.
6. Gerakan bola mata kembali ke tengah dan pertahankan selama 10 detik.
7. Lakukan poin no.5, namun kali ini kebalikan dari arah jarum jam.
8. Istirahatkan mata Anda dengan teknik eye palming.
9. Lakukan pada pagi dan sore hari.
10. Istirahatkan mata Anda dengan menggunakan teknik eye palming.
Teknik ini dapat membantu mata Anda untuk beristirahat dan baik digunakan setelah Anda melakukan senam mata. Cara untuk melakukan teknik eye palming adalah:
1. Gosok-gosokan kedua tangan Anda sampai terasa agak panas.
2. Tutup kedua mata Anda dan tutupi dengan tangan Anda (jangan sampai menekan bola mata).
3. Usahakan tidak ada cahaya dari luar yang masuk.
4. Lakukan beberapa kali sampai mata Anda terasa rileks.
Anda bisa melakukan teknik eye palming ini kapan saja mata Anda mulai terasa penat.
11. Kompres dengan air hangat.
Salah satu cara mengurangi mata minus yang paling penulis sukai adalah cara yang satu ini. Dengan mengompres mata menggunakan air hangat membuat mata menjadi rileks sehingga urat-urat merah pada bola mata menjadi hilang. Caranya adalah sebagai berikut:
1. Ambil handuk kecil yang bersih.
2. Rendam dengan air hangat (agak panas tidak apa-apa asal jangan sampai membuat kulit melepuh).
3. Tempelkan pada kelopak mata sambil berbaring.
4. Ulangi beberapa kali, hasilnya akan langsung terasa, mata yang capek akan disegarkan kembali.
12. Olahraga.
Olahraga membuat peredaran darah Anda menjadi lancar sehingga nutrisi dapat tersalurkan dengan baik ke organ-organ tubuh yang membutuhkan. Namun apabila Anda menderita mata minus yang cukup tinggi (diatas 5), disarankan untuk tidak berolah raga yang banyak membebankan mata Anda (membuat bola mata menjadi kejang) seperti mengangkat beban yang berat. Hal tersebut bisa membuat lensa mata terlepas dari bola mata (Ablasio Retina) sehingga menyebabkan kebutaan. Gunakan olahraga yang lebih santai namun tetap bermanfaat seperti: aerobic, bersepeda, jogging, dan berenang.
13. Berjemur.
Berjemur baik agar tubuh mendapat asupan vitamin D, namun lakukan hanya pada pagi hari. Tutuplah kedua mata Anda dan arahkan pandangan ke matahari sampai bola mata Anda terasa hangat. Lakukan juga senam leher ketika Anda melakukan hal ini agar sirkulasi darah ke kepala menjadi lancar.
14. Pijatlah titik-titik di sekitar mata Anda.
Dengan memijat titik-titik akupuntur di sekitar mata Anda akan membantu mata menjadi lebih rileks dan melancarkan peredaran darah di sekitar mata Anda.

Titik-titik Akupuntur Pada Mata
15. Hindari makanan dibawah ini.
Seperti halnya nutrisi yang baik akan membantu penglihatan Anda agar lebih sehat, begitu pula nutrisi yang buruk akan memperparah kondisi mata Anda. Makanan yang harus dihindari yaitu:
1. Makanan atau minuman yang mengandung kafein, seperti kopi.
2. Makanan atau minuman yang mengandung alkohol.
3. Makanan atau minuman yang banyak mengandung gula, seperti: permen, es krim, minuman kalengan, dan lain-lain.
4. Makanan atau minuman yang banyak mengandung susu.
5. Gorengan.
6. Rokok.
16. Minum 3 kombinasi buah di bawah ini.
Cara mengurangi mata minus yang satu ini terbukti membuat salah satu teman penulis sembuh dari menderita mata minus, setelah melakukan terapi ini dengan teratur selama 6 bulan, minus 4 yang dideritanya sembuh total, padahal usianya sudah hampir menginjak 40 tahun. Caranya adalah:
1. Siapkan buah bit (buah bit berkualitas tinggi berwarna merah dan berasa manis, tidak pahit seperti yang biasa digunakan untuk sayuran), buah belimbing dan buah wortel.
2. Masing-masing buah di jus secara terpisah menggunakan juice extractor (juicer yang mampu memisahkan ampas dan sari buah), boleh menggunakan air sedikit saja agar sari buah benar-benar murni.
3. Usahakan menggunakan buah secukupnya agar takaran sari buah yang dihasilkan biasanya ± ¼ dari gelas minum.
4. Minumlah sari buah bit terlebih dahulu, baru belimbing, dan terakhir baru wortel.
5. Lakukan terapi pada pagi dan sore hari.
17. Operasi lasik.
Apabila semua cara mengurangi mata minus di atas sudah Anda coba dan tidak memberikan hasil yang memuaskan bagi Anda, maka cara mengurangi mata minus ini dapat Anda tempuh sebagai langkah terakhir. Sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter mata yang dapat dipercaya sebelum menempuh cara mengurangi mata minus ini, mengingat resiko dan biaya yang dikeluarkan tidaklah sedikit.
Demikian kiranya tips dan cara mengurangi mata minus yang kami sampaikan, kiranya cara mengurangi mata minus diatas dapat membantu Anda.
Perhatian: cara mengurangi mata minus di atas membutuhkan latihan yang teratur dan waktu yang cukup sebelum hasilnya dapat terasa, oleh karena itu apabila Anda belum merasakan khasiatnya setelah mempraktekkan cara mengurangi mata minus diatas, kami menyarankan agar Anda tidak cepat putus asa, namun terus melakukan cara mengurangi mata minus karena minimal bisa mencegah minus pada mata semakin bertambah parah.

sumber :www.sehat100.com

Makna Hidup Dan Kehidupan

Kadang terlintas dipikiranku,
Apa sebenarnya arti kehidupan
ini
sesungguhnya?Setiap manusia
tentunya memilki kehidupannya masing-
masing.Semuanya memiliki arti
kehidupan yang berbeda,Seperti kamu
dan aku tentu berbeda tentang
pengertian hidup.Berbeda manusia
berbeda pula arti kehidupan
seseorang dan setiap manusia juga
mempunyai jalan masing-masing
untuk hidup.hal inilah yang
menyebabkan setiap manusia
mempunyai pengertian hidup yang
berbeda.Ada
yang sadar dan ada pula yang
tidak menyadari apa sebenarnya
arti dari sebuah kehidupan yang sesungguhnya.Tidak ada
yang bisa menyangkal kalau
seseorang belum mengetahui akan
arti sebuah kehidupan yang sesungguhnya.Tentu semuanya
memerlukan proses.Dalam
proses inilah manusia mencari akan
arti dari sebuah kehidupan yang sesungguhnya.
Saat manusia menemukan arti
kehidupannya selanjutnya manusia
berpikir untuk apa arti kehidupan ini?
Begitu manusia menemukan untuk
apa arti kehidupan tersebut.berarti ia
telah menemukan jati diri yang
sesungguhnya.Terlintas
dibenakku ketika melihat seorang
kakek berjalan kaki dengan
penglihatan yang kurang sempurna
begitu semangatnya ia menggeluti
pekerjaan sebagai penjual keliling.
Rasa iba datang ketika melihat
kondisi tersebut akan tetapi
dibenakku begitu terinspirasi
akan pencarian arti dari sebuah kehidupan yang
sesungguhnya.Kemudian ada
lagi suatu cerita ketika yang
bertolak 180 derajat dari kisah
seorang kakek tadi.Seseorang yang
hidupnya berkecukupan,penuh
dengan kesenangan tiada derita
yang menghampirinya akan tetapi ia
tidak mempunyai arti kehidupan yang
sesungguhnya,Untuk apa arti
kehidupannya?Ia sendiri tidak pernah
menyadarinya.Kadang kita juga sering
kehilangan akan arti sebuah kehidupan yang
sesungguhnya.Tak sedikit pula orang
yang patah semangat,putus asa
dalam menjalani kehidupan.stress karena
tak mempunyai arah dan tujuan hidup.
Betapa pentingnya dalam diri
seseorang memahami akan arti
kehidupan yang sesungguhnya.Mungkin
diri kita akan terasa goyang saat
diterpa musibah.Kehilangan akan
sesuatu ataupun lainnya yang
menyebabkan diri terombang-ambing
dalam kehidupan.Seandainya kita
benar-benar memahami arti sebuah kehidupan
tentu kita akan benar-benar tegar
dalam menghadapi setiap gejolak
kehidupan.Sebagai manusia yang
beragama tentunya kita mempunyai
sandaran hidup akan keyakinan kita
terhadap tuhan.Kita bisa
menemukan arti kehidupan
sesungguhnya lewat agama yang
kita anut.Kita terus berpikir dan
mencari sampai pada titik yang
mempertemukan antara diri dengan
tuhan.Dengan begitu kita akan
sadar sejauh mana kita mengartikan
kehidupan ini.
Dan pada akhirnya tinggal
kita sendiri yang menyimpulkan Apa
arti kehidupan ini?Untuk Apa?Dan
Akan Dibawa Kemana Arah Kehidupan Kita Tersebut?
mungkin kita sebagai manusia akan
terus berpikir dan mencari. Maka
sempatkanlah diri anda untuk
berpikir dan terus mencari Arti
kehidupan ini.Kita boleh berbeda akan
pengertian arti kehidupan ini,tetapi kita jangan pernah sama-
sama terjerumus kedalam gejolak
kehidupan yang akan menyesatkan
diri kita sendiri.

Sumber : Juliya hikmah

Makna Syukur dalam Al-Quran

Banyak manusia stress dalam kegelisahan karena tidak mampu menikmati apa yang diberikan Allah kepadanya. Hal ini dapat terjadi karena kurangnya pemahaman kita terhadap makna syukur atas nikmat Allah. Karena mestinya dia yakin bahwa apa yang diberikan Allah kepadanya adalah yang terbaik untuk dirinya, sehingga dia bersyukur.

Rasul saw pernah bersabda bahwa orang yang paling bersyukur ialah manusia yang paling qanaah (menerima pemberian Allah) dalam kehidupannya, sedang manusia yang paling kufur adalah manusia yang rakus dan tamak. Karena orang yang rakus itu tak pernah menikmati yang sudah ia terima, tapi ia masih terus berangan-angan terhadap apa yang belum ia miliki.

Imam ali ra mengatakan orang yang qanaah adalah orang yang kaya. Sedangkan yang rakus/tama’ adalah sebenarnya orang fakir.

A.      KATA SYUKUR DALAM AL-QURAN

Kata “Syukur” dan yang seakar dengannya disebutkan sebanyak 75 kali dalam al-Quran. Menariknya, kata al-Quran juga menyebutkan sejumlah yang sama (75 kali) untuk kata “Bala’” (Musibah). Sebagian mufassir mengatakan bahwa sepertinya hal ini mengindikasikan bahwa Allah SWT ingin mengatakan bahwa adanya musibah itu karena kurangnya bersyukur kepada Allah SWT.

B.      PERINTAH BERSYUKUR DAN LARANGAN KUFUR

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Pada ayat diatas Allah mengumumkan kepada kita bahwa jika kita bersyukur atas nikmat2 yang kita terima, maka Allah akan menambah nikmat diatas kenikmatan yang telah diberikan-Nya pada kita. Tambahan nikmat yang dimaksud disini bisa berbentuk zahir (seperti harta yang bertambah), ataupun batin (misal: ketentraman hati, kebahagiaan keluarga, kekhusyuan shalat, ataupun nikmat-nikmat yang nanti akan kita terima di akherat nanti).

Kemudian ketika hamba-Nya kufur nikmat, bahasa yang digunakan Allah dalam ayat diatas tidak dengan “akan aku adzab” (semodel dng ketika bersyukur: akan aku tambah nikmat), tapi cukup dengan warning bahwa “adzab-Ku sangat pedih”. Jadi kalau nantinya seseorang mendapatkan adzab, itu adalah hasil dari apa yang dia lakukan sendiri, bukan karena Allah. Sebagaimana dengan nikmat, makna “adzab” pun bermacam-macam. Bisa saja bentuknya adalah dicabutnya nikmat dengan berbagai cara. Bentuk-bentuk siksaan lain misalnya adalah dicabutnya rasa takut kita untuk berbuat dosa, kita tidak lagi merasa rindu dengan surga ketika diceritakan, dll.

C.      MUSIBAH TIDAK MENIMPA ORANG-ORANG YANG BERSYUKUR

Musibah (bala’) sebenarnya tidak akan pernah muncul ketika seseorang selalu merasa bersyukur. Karena apapun yang diterimanya dia akan merasa bahwa itu adalah yg terbaik baginya, sehingga ia bersyukur atasnya.

“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (QS.An-Nisa: 147)

Allah tidak akan menyiksa (menimpakan musibah) jika kita bersyukur dan beriman. Oleh karena itu selalu ingatlah kepada Allah dan bersyukurlah, jangan kufur nikmat. Demikian seperti firman-Nya berikut:

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (QS. Al-Baqarah: 152)

Ketika kita mengingat-ingat nikmat Allah sebenarnya nikmat tersebut tak terhingga jumlahnya.

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl: 18)

Kalau menghitung saja kita tidak akan mampu, bagaimana mungkin kita akan mampu untuk mensyukuri dengan sempurna?

D.      SYUKUR ADALAH IBADAH YANG TAKKAN PERNAH SAMPAI KE PUNCAKNYA

Syukur adalah ibadah yang tidak akan pernah sampai pada puncaknya. Antara lain karena setiap ungkapan syukur adalah sesuatu yang harus disyukuri pula, karena taufik dan kemampuan yang diberikan-Nya lah kita dapat melakukannya.

Allah berfirman kepada Musa as: “Hai Musa, bersyukurlah kepada-Ku dengan syukur yang sebenarnya. Kemudian Musa as berkata: bagaimana aku bersyukur sebenar-benarnya, sedangkan tiada ungkapan syukur yang kuungkapkan kepadaMu melainkan itu juga merupakan nikmatMu. Allah SWT menjawab: Ya Musa, sekarang kamu baru bersyukur sebenar-benarnya karena kamu menyakini bahwa segala sesuatu adalah pemberian-Ku.”

Syukur adalah menampakkan dan menggunakan nikmat Allah baik dalam keyakinan di hati, ungkapan, amalan praktek.

E.       BERSYUKUR ADALAH SYARAT TAUHID

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.” (QS al-Baqarah [2:172])

Ayat tersebut mengatakan bahwa kita belum disebut sebagai benar-benar mengesakan Allah, menyembah Allah yang Maha Esa kalau kita belum bersyukur kepada-Nya.

F.       SYUKUR ATAU KUFUR SEJATINYA UNTUK DIRI KITA SENDIRI

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”.(QS Luqman:12)

Konsep Al-Quran mengatakan bahwa setiap perbuatan itu akan kembali kepada diri pelakunya sendiri. Allah tidak membutuhkan perbuatan baik kita, tapi kitalah yang membutuhkannya. Seperti dalam ayat lain “In ahsantum ahsantum li anfusikum, wa in asa’tum fa laha” (jika kalian berbuat baik sejatinya itu perbuatan baik untuk diri kalian sendiri, demikian juga dengan perbuatan buruk juga akan kembali kepada pelakunya sendiri).

Demikian juga dengan bersyukur. Allah tidak membutuhkan syukur kita, tapi kitalah yang membutuhkan syukur itu untuk diri kita sendiri. Jika seluruh makhluq kufur pun, tidak akan mengurangi kekuasan dan kekayaan Allah SWT.

G.     NILAI SYUKUR

Terdapat beberapa nilai dari bersyukur menurut Al-Quran sebagai berikut:

Ketika kita bersyukur, sebenarnya kita sedang memberikan nikmat bagi diri kita sendiri
Ketika kita bersyukur, sebenarnya kita sedang bersiap menerima tambahan nikmat Allah
Ketika kita bersyukur, sebenarnya kita sedang membentengi diri kita dari siksa Allah (rujuk kembali An-Nisa:147 dan Ibrahim: 7)
Ketika kita bersyukur, maka kita akan selalu merasa tentram karena merasa semua yang terjadi adalah yang terbaik bagi dirinya menurut Allah SWT.
Mari kita ingat bagaimana penyikapan Nabi Ayyub as terhadap musibah yang beliau terima belasan tahun sebagaimana diabadikan dalam ayat al-Quran berikut:

“dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang“.(QS Al-Anbiya’: 83)

 

H.     MUSUH MANUSIA UNTUK BERSYUKUR

Manusia memiliki musuh yaitu syaitan yang tidak rela jika kita mendapatkan nikmat-nikmat anugerah, dll. Musuh kita itu pernah bersumpah pada Allah untuk menggoda bani adam agar tidak bersyukur.

“16. Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,  17. kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. Al-A’raf: 16-17)

Setan mengganggu kita dari depan (kita dilupakan dengan hari depan/akherat, sehingga kita tidak bersyukur).
Setan mengganggu kita dari belakang (kita dibuat khawatir akan anak-anak yang harus ditinggali harta yang banyak sehingga akhirnya membuat kita rakus untuk terus mengumpulkan harta dengan berbagai cara. Ingat: Alhakumut Takatsur…hatta zurtumu al-Maqabir…dst)
Setan mengganggu kita dari kanan (kita dijadikan memandang kebaikan amal-amal mulia sebagai sesuatu yang rendah dan tidak menarik.)
Setan mengganggu kita dari kiri (kita dijadikan memandang perbuatan jelek sebagai sesuatu yang indah. Salah satu kerjaan setan adalah menghiasi amal-amal buruk sehingga tampak menarik dan indah.)
Tapi masih ada celah bagi kita karena ada yang tidak mampu setan mengganggunya, yaitu:

Setan tidak dapat mengganggu dari atas (yaitu ketika kita selalu berhubungan dengan Allah, bermunajat kepada Allah, dan melakukan sesuatu ikhlas hanya karena Allah)
Setan tidak dapat mengganggu dari bawah (yaitu ketika kita senantiasa bersujud kepada Allah, dan ketika kita bertawadhu kepada sesama hamba Allah.)
Ketika kita tidak bersyukur itu berarti kita mensukseskan misi setan kepada manusia.

I.        KEBANYAKAN MANUSIA TIDAK BERSYUKUR

Allah SWT mengatakan bahwa hanya sedikit dari manusia yang bersyukur:

Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur. (QS. Al-A’raf: 10)

“Sesungguhnya Alloh benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas umat manusia, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukurinya.” (QS. Yunus: 60)

“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.” (QS. As-Sajdah: 9.)

“Katakanlah: “Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut yang kamu berdoa kepadaNya dengan berendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengatakan): ”Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari bencana ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur.”   Katakanlah: ”Alloh menyelamatkan kamu daripada bencana itu dan dari segala macam kesusahan, kemudian kamu kembali mempersekutukan-Nya.” (QS Al-An’aam: 63-64)

J.        MENJAGA NIKMAT DENGAN BERSYUKUR

Pada umumnya orang baru sadar akan nikmat allah ketika kehilangan. Imam Ali ra pernah berkata bahwa kalau kamu dapat nikmat allah, maka jagalah nikmat tersebut. Caranya adalah dengan mensyukurinya.

Orang yang tidak bersyukur sebenarnya sedang siap-siap untuk dicabut nikmatnya oleh Allah.

K.      SYUKUR TIDAK HANYA BERLAKU DI ALAM DUNIA SAJA

Ternyata bersyukur bukanlah amalan yang hanya dikerjakan di dunia saja. Ketika para ahli surga akan memasuki pintu surga, pun akan masih perlu mengucapkan syukur seperti diterangkan dalam ayat berikut:

“Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami, membawa kebenaran.” Dan diserukan kepada mereka: “ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. Al-A’raf: 43)

L.       KIAT BERSYUKUR

Salah satu kiat bersyukur yang dimuat dalam al-Quran adalah dengan tidak melihat / iri terhadap orang lain yang memiliki kekayaan atau kelebihan materi.

Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir. (QS.At-Taubah: 55.)

Dan diulang lagi pada surat yang sama dengan kalimat yang sangat mirip:

“Dan janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki akan mengazab mereka di dunia dengan harta dan anak-anak itu dan agar melayang nyawa mereka, dalam keadaan kafir.” (QS. At-taubah: 85)

M.    BERSYUKUR KEPADA HAMBA ALLAH

Selain bersyukur kepada-Nya sebagai pencipta dan pemberi nikmat itu, Allah juga perintahkan untuk mensyukuri cara yang digunakan sehingga berhasil meraih nikmat tersebut. Biasanya nikmat ini dihasilkan lewat perantara orang lain dan dengan bersyukur kepada orang lain. Salah satu contoh yang gamblang diungkap oleh al-Quran mengenai hal ini adalah berkaitan dengan kewajiban bersyukur kepada orang-tua.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman: 14)

Kita ada melalui perantara orang tua kita, kita bisa seperti ini karena jasa besar orang tua kita yang membesarkan, memelihara dan mendidik kita sejak lahir. Oleh karena itu kita wajib pula bersyukur kepada orang tua.

Hal yang sama juga berlaku kepada hamba Allah yang lain yang menjadi perantara sampainya nikmat Allah kepada kita. Misalnya kepada yang memberi kita, menyembuhkan kita, dsb.

N.     KARUNIA ADALAH UJIAN KESYUKURAN

Setiap karunia atau anugerah yang kita dapatkan sebenarnya merupakan ujian untuk menentukan apakah kita termasuk orang yang bersyukur atau kufur. Sebagaimana pernyataan Nabi Sulaiman as yang diabadikan dalam al-Quran sebagai berikut:

“Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk karurnia Tuhanku untuk menguji aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia” (QS. An-Naml: 40)

Semoga kita semua lulus dalam menghadapi ujian-ujian terhadap karunia-karunia yang kita terima yang tidak terhitung jumlahnya itu.

O.     DOA UNTUK DAPAT SENANTIASA BERSYUKUR

“maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh“. (QS. An-Naml: 19)

Atau dalam teks Arab-nya yang mungkin kita sering dengar dan amalkan:

“RABBI AUZI’NI AN ASYKURA NI’MATAKA ALLATI  AN’AMTA ’ALAYYA WA ‘ALA WALIDAYYA WA AN A’MALA SHALIHAN TARDHAHU, WA ADKHILNI BIRAHMATIKA FI ’IBADIKA AS-SHALIHIN”

Semoga kita semua dapat tergolong pada hamba-Nya yang senantiasa bersyukur. Amien, Ya arham ar-Rahimin. []
(sumber : umaralhabsyi.wordpress.com/2013/09/03/makna-syukur-dalam-al-quran/)

Sejarah NU (NAHDLATUL ULAMA) dan Aswaja di Bumi Nusantara

Berbicara tentang NU dan ASWAJA memang tidak akan pernah habis ceritanya. namun, kita sebagai warga Nahdhiyyin apakah mengerti tentang sejarah awal berdirinya di bumi nusantara ini. Berikut adalah sejarah singkat awal berdirinya NU dan Aswaja yang dapat saya rangkum dari beberapa Artikel yang pernah saya baca.

Nahdlatul Ulama adalah sebuah organisasi yang didirikan oleh para ulama dengan tujuan memelihara tetap tegaknya ajaran Islam Ahlussunah walJama’ah di Indonesia. Dengan demikian antara NU dan Aswaja mempunyai hubungan yang tidak dapat dipisahkan, NU sebagai organisasi / Jam ‘iyyah merupakan alat untuk menegakkan Aswaja dan Aswaja merupakan aqidah pokok Nahdlatul Ulama.

Ulama secara lughowi (etimologis / kebahasaan) berarti orang yang pandai, dalam hal ini ilmu agama Islam. Begitu berharganya seorang Ulama, sampai Nabi pernah bersabda yang artinya :
Ulama itu pewaris Nabi. Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dirham atau dinar, melainkan hanya mewariskan ilmu. Maka barang siapa mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang cukup banyak.
Di Indonesia, seorang Ulama diidentikkan atau biasa disebut Kyai, yang berarti orang yang sangat dihormati. Agar tidak gampang memperoleh gelar Ulama atau Kyai, maka ada 3 kriteria yaitu :
1. Norma pokok yang harus dimiliki oleh seorang Ulama adalah ketaqwaan kepada Allah SWT.
2. Seorang Ulama mempunyai tugas utama mewarisi misi (risalah) Rasulullah SAW, meliputi : ucapan, ilmu, ajaran, perbuatan, tingkah laku, mental dan moralnya.
3. Seorang Ulama memiliki tauladan dalam kehidupan sehari hari seperti : tekun beribadah, tidak cinta dunia, peka terhadap permasalahan dankepentingan umat & mengabdikan hidupnya di jalan Allah SWT.
4. Kyai Hasyim Asy’ari dan NU :
Pejuang Syari’ah Kiai Hasyim Asy’ari yang lahir di Pondok Nggedang, Jombang, Jawa Timur, 10 April 1875 tidak lepas dari nenek moyangnya yang secara turun-temurun memimpin pesantren. Ayahnya bernama Kiai Asy’ari, pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Kakeknya, Kiai Ustman, terkenal sebagai pemimpin Pesantren Gedang, yang santrinya berasal dari seluruh Jawa, pada akhir abad 19. Ayah kakeknya, Kiai Sihah, adalah pendiri Pesantren Tambakberas di Jombang. Sejak kecil hingga berusia empat belas tahun, putra ketiga dari 11 bersaudara ini mendapat pendidikan langsung dari ayah dan kakeknya, Kyai Utsman. Hasratnya yang besar untuk menuntut ilmu mendorongnya belajar lebih giat dan rajin. Tak puas dengan ilmu yang diterimanya, sejak usia 15 tahun, ia berkelana dari satu pesantren ke pesantren lain; mulai menjadi santri di Pesantren Wonokoyo (Probolinggo), Pesantren Langitan (Tuban), PesantrenTrenggilis (Semarang), dan Pesantren Siwalan, Panji (Sidoarjo). Pada tahun 1892, Kiai Hasyim Asy’ari menunaikan ibadah haji dan menimba ilmu di Makkah. Di sana ia berguru kepada Syaikh Ahmad Khatibdan Syaikh Mahfudh at-Tarmisi, gurunya di bidang hadits. Dalam perjalanan pulang ke Tanah Air, ia singgah di Johor, Malaysia, dan mengajar di sana. Pulang ke Indonesia tahun 1899, Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan pesantren di Tebuireng yang kelak menjadi pesantren terbesar dan terpenting di Jawa pada Abad 20. Sejak tahun 1900, Kiai Hasyim Asy’ari memposisikan Pesantren Tebuireng sebagai pusat pembaruan bagi pengajaran Islam tradisional. Di pesantren itu bukan hanya ilmu agama yang diajarkan,tetapi juga pengetahuan umum. Para santri belajar membaca huruf latin, menulis dan membaca buku-buku yang berisi pengetahuan umum, berorganisasi dan berpidato.Tanggal 31 Januari 1926, bersama dengan tokoh-tokoh Islam tradisional, Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdlatul Ulama, yang berarti kebangkitan ulama.

Organisasi ini berkembang dan banyak anggotanya. Pengaruh Kiai Hasyim Asy’ari pun semakin besar dengan mendirikan organisasiNU, bersama teman-temannya. Itu dibuktikan dengan dukungan dari ulama di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Cikal-bakal berdirinya perkumpulan para ulama yang kemudian menjelma menjadi Nahdhatul Ulama(Kebangkitan Ulama) tidak terlepas darisejarah Khilafah. Ketika itu, tanggal 3 Maret 1924, Majelis Nasional yang bersidang di Ankara mengambil keputusan,
Khalifah telah berakhir tugas-tugasnya. Khilafah telah dihapuskan karena Khilafah, pemerintahan dan republik, semuanya menjadi satu gabungan dalam berbagai pengertian dankonsepnya.

Keputusan tersebut mengguncang umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Untuk merespon peristiwa itu, sebuah Komite Khilafah(Comite Chilafat ) didirikan di Surabaya tanggal 4 Oktober 1924 dengan ketua Wondosudirdjo (kemudian dikenal dengan nama Wondoamiseno) dari SarikatIslam dan wakil ketua KH A. Wahab Hasbullah dari golongan tradisi (yang kemudian melahirkan NU). Tujuannya untuk membahas undangan kongres Kekhilafahan di Kairo(Bandera Islam,16 Oktober 1924). Kemudian pada Desember 1924 berlangsung Kongres al-Islam yang diselenggarakan oleh Komite Khilafah Pusat (Centraal Comite Chilafat ). Kongres memutuskan untuk mengirim delegasi ke Konferensi Khilafah di Kairo untuk menyampaikan proposal Khilafah. Setelah itu, diadakan lagi Kongres al-Islam di Yogyakarta pada 21-27 Agustus 1925. Topik Kongres ini masih seputar Khilafah dan situasi Hijaz yang masih bergolak. Kongres diadakan lagi pada 6 Februari 1926 di Bandung; September 1926 di Surabaya, 1931, dan 1932. Majelis Islam A’la Indonesia(MIAI) yang melibatkan Sarikat Islam (SI), Nahdhatul ulama (NU), Muhammadiyah dan organisasi lainnya menyelenggarakan Kongres pada 26 Februari sampai 1 Maret 1938 di Surabaya. Arahnya adalah menyatukan kembali umat Islam. Meskipun pada awalnya, Kongres Al-Islam merupakan wadah untuk mengatasi perbedaan, pertikaian dan konflik di antara berbagai kelompok umat Islam akibat perbedaan pemahaman dan praktik keagamaan menyangkut persoalan Furu’iyah(cabang), seperti dilakukan sebelumnya pada Kongres Umat Islam (Kongres al-Islam Hindia) di Cirebon pada 31 Oktober – 2 November 1922. Namun, pada perkembangan selanjutnya, lebih difokuskan untuk mewujudkan persatuan dan mencari penyelesaian masalah Khilafah.

Lahirnya NU sendiri, yang merupakan kelanjutan dari Komite Merembuk Hijaz, yang tujuannya untuk melobi Ibnu Su’ud, penguasa Saudi saat itu, untuk mengakomodasi pemahaman umat yang bermazhab, jelas tidak terlepas dari sejarah keruntuhan Khilafah. Ibnu Su’ud sendiri adalah pengganti Syarif Husain, penguasa Arab yang lebih dulu membelot dari Khilafah Utsmaniyah. Jadi, secara historis lahirnya NU tidak terlepas dari persoalan Khilafah. Di sisi lain, NU sejak kelahirannya tidak berpaham sekular dan tidak pula anti formalisasi. Bahkan NU memandang formalisasi syariah menjadi sebuah kebutuhan. Hanya saja, yang ditempuh NU dalam melakukan upaya formalisasi bukanlah cara-cara paksaan dan kekerasan, tetapi menggunakan cara gradual yang mengarah pada penyadaran. Hal ini karena sepak terjang NU senantiasa berpegang pada kaidah fiqhiyah seperti:
ma la yudraku kulluh la yutraku kulluh
(apa yang tidak bisa dicapai semua janganlah kemudian ditinggalkan semua);
dar al-mafasid muqaddamun ‘ala jalb al-masholih
(mencegah kerusakan lebih didahulukan daripada mengambil kemaslahatan).
Sejarah NU menjadi bukti bahwa sejak kelahirannya NU justru Concern pada perjuangan formalisasi Islam.

KESIMPULAN
Melacak akar-akar sejarah munculnya istilah ahlul sunnah waljamaah, secara etimologis bahwa aswaja sudah terkenal sejak Rosulullah SAW. Sebagai konfigurasi sejarah, maka secara umum aswaja mengalami perkembangan dengan tiga tahap secara evolutif.
Pertama, tahap embrional pemikiran sunni dalam bidang teologi bersifat eklektik, yakni memilih salah satu pendapat yang dianggap paling benar. Pada tahap ini masih merupakan tahap konsolidasi, tokoh yang menjadi penggerak adalah Hasan Al-Basri (110 H/728 M).
Kedua, proses konsolidasi awal mencapai puncaknya setelah Imam Al-Syafi’i (205 H/820 M) berhasil menetapkan hadits sebagai sumber hukum kedua setelah Al- qur’an dalam konstruksi pemikiran hukum Islam. Pada tahap ini, kajian dan diskusi tentang teologi sunni berlangsung secara intensif.
Ketiga, merupakan kristalisasi teologi sunni disatu pihak menolak rasionalisme dogma, di lain pihak menerima metode rasional dalam memahami agama. Proses kristalisasi ini dilakukan oleh tiga tokoh dan sekaligus ditempat yang berbeda pada waktu yang bersamaan, yakni; Abu Hasan Al-Asy’ari (324 H/935 M)di Mesopotamia, Abu Mansur Al-Maturidi (w.331 H/944 M) diSamarkand, Ahmad Bin Ja’far Al-Thahawi (331 H/944 M) di Mesir. Pada zaman kristalisasi inilah Abu Hasan Al-Asy’ari meresmikan sebagai aliran pemikiran yang dikembangkan. Dan munculnya aswaja ini sebagai reaksi teologis-politis terhadap Mu’tazilah, Khowarij dan Syi’ah yang dipandang oleh Asy’ari sudah keluar dari paham yang semestinya. Lain dengan para Ulama NU di Indonesia menganggap aswaja sebagai upaya pembakuan atau menginstitusikan prinsip-prinsip tawasuth(moderat), tasamuh (toleran) dan tawazzun (seimbang) serta ta’addul (Keadilan). Perkembangan selanjutnya oleh Said Aqil Shiroj dalam mereformulasikan aswaja sebagai metode berfikir (manhaj al-fikr) keagamaan yang mencakup semua aspek kehidupan yang berdasarkan atas dasar modernisasi, menjaga keseimbangan dan toleransi, tidak lain dan tidak bukan adalah dalam rangka memberikan warna baru terhadap cetak biru (blue print) yang sudah mulai tidak menarik lagi dihadapan dunia modern

Post under category Akidah, Ilmu Pengetahuan dan Islam Tags: 10 April 1875 tidak lepas dari nenek moyangnya yang secara turun-temurun memimpin pesantren. Ayahnya bernama Kiai Asy’ari, adalah pendiri Pesantren Tambakberas di Jombang. Sejak kecil hingga berusia empat belas tahun, ajaran, dalam hal ini ilmu agama Islam. Begitu berharganya seorang Ulama, ia berkelana dari satu pesantren ke pesantren lain; mulai menjadi santri di Pesantren Wonokoyo (Probolinggo), ilmu, Jawa Timur, Jombang, Kiai Sihah, Kiai Ustman, Kyai Utsman. Hasratnya yang besar untuk menuntut ilmu mendorongnya belajar lebih giat dan rajin. Tak puas dengan ilmu yang diterimanya, maka ada 3 kriteria yaitu : Norma pokok yang harus dimiliki oleh seorang Ulama adalah ketaqwaan kepada Allah SWT. Seorang Ulama mempunyai tugas utama mewarisi misi (risalah) Rasulullah SAW, melainkan hanya mewariskan ilmu. Maka barang siapa mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang cukup banyak. Di Indonesia, meliputi : ucapan, mental dan moralnya. Seorang Ulama memiliki tauladan dalam kehidupan sehari hari seperti : tekun beribadah, Nahdlatul Ulama adalah sebuah organisasi yang didirikan oleh para ulama dengan tujuan memelihara tetap tegaknya ajaran Islam Ahlussunah walJama’ah di Indonesia. Dengan demikian antara NU dan Aswaja me, NU sebagai organisasi / Jam ‘iyyah merupakan alat untuk menegakkan Aswaja dan Aswaja merupakan aqidah pokok Nahdlatul Ulama. Ulama secara lughowi (etimologis / kebahasaan) berarti orang yang pandai, pada akhir abad 19. Ayah kakeknya, peka terhadap permasalahan dankepentingan umat & mengabdikan hidupnya di jalan Allah SWT. Kyai Hasyim Asy’ari dan NU : Pejuang Syari’ah Kiai Hasyim Asy’ari yang lahir di Pondok Nggedang, pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Kakeknya, perbuatan, Pesantren Langitan (Tuban), PesantrenTrenggilis (Semarang), putra ketiga dari 11 bersaudara ini mendapat pendidikan langsung dari ayah dan kakeknya, sampai Nabi pernah bersabda yang artinya : Ulama itu pewaris Nabi. Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dirham atau dinar, sejak usia 15 tahun, SEJARAH NU(NAHDLATUL ULAMA) DAN ASWAJA DI BUMI NUSANTARA, seorang Ulama diidentikkan atau biasa disebut Kyai, terkenal sebagai pemimpin Pesantren Gedang, tidak cinta dunia, tingkah laku, yang berarti orang yang sangat dihormati. Agar tidak gampang memperoleh gelar Ulama atau Kyai, yang santrinya berasal dari seluruh Jawa.

 

 

 

DOA seperti memanah

bnul Qayyim rahimahullahu ta’ala mengatakan, orang yang berdoa persis seperti orang yang memanah. Pertama, perlu ada sasaran. Lalu yang kedua, perlu ada panah yang kukuh, lurus. Yang ketiga, perlu ada tenaga atau kekuatan untuk menarik panah panah sehingga panahnya meluncur tepat pada sasarannya. Tiga syarat ini harus dimiliki seseorang yang ingin doanya di mustajabkan oleh Allah Ta’ala.

Syarat yg pertama, perlu ada sasaran. Maka, sasarannya adalah Allah. Hendaklah ia berdoa hanya kepada Allah Ta’ala, dan tidak berdoa kepada selain-Nya. Sebab, berdoa kepada selainnya adalah kelemahan dan kehinaan.

Lalu yg kedua, panah yang lurus yaitu doa yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ada dalam Al-Qur’an dan Sunnah baginda. Sebab, kadang kala ada yang berdoa minta sesuatu, tapi kita tidak mengetahui apakah sesuatu itu baik buat dunia dan akhirat kita.

Dan yang ketiga, kekuatan untuk menarik panah itu adalah dorongan kepentingan. Karena doa yang diterima oleh Allah Ta’ala adalah doanya orang yang benar-benar memerlukan, benar-benar menginginkan dan terdesak dengan terwujudnya keinginan tersebut.

Maka kata Ibnul Qayyim, “tidaklah tercipta ketiga syarat ini, kecuali Allah Ta’ala akan kabulkan doanya”.

Allahua’lam..

Detik-Detik Wafatnya Rasulullah SAW.

Pagi itu Rasululloh SAW dengan suara terbata-bata berkutbah, ” Wahai umat ku. kita semua dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih_Nya, maka taat dan bertaqwala kepada_Nya. Ku wariskan dua perkara kepada kalian, Al Qur’an dan Sunnahku. Siapa yang mencintai Sunnahku, berarti mencintaiku dan kelak orang-orang yang mencintaiku akan masuk surga bersama-sama aku” Kutbah singkat itu di akhiri dengan pandangan mata rasululloh yang tenang dan penuh minat menatap satu persatu sahabatnya.

Abu bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca. Umar menahan nafas dan tangisnya. Usman menghela nafas panjang. Ali menundukkan kepala. Isyarat telah datang, saatnya telah tiba, ” Rasululloh SAW akan meninggalkan kita semua” keluh hati sahabat. Manusia tercinta itu, hampi selesai tunaikan tugasnya. Tanda-tanda itu makin kuat. Ali dengan cekatan memeluk Rasululloh SAW yang lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasululloh SAW masih tertutup. Di dalamnya rasul terbaring lemah dengan kening berkeringat membasahi pelepah kurma alas tidurnya.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar salam, “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Fatimah tak mengijinkan masuk. “Maafkan ayahku sedang demam.” Ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya, “siapakah itu wahai anakku” “Tak taulah ayahku, sepertinya baru kali ini aku melihatnya” tutur Fatimah lembut. Rasululloh SAW menatap putrinya dengan pandangan yang mengetarkan. Seolah-olah bagian demi bagian wajah putrinya hendak di kenangnya. ” Ketahuilah. Dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara. Dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. dialah malaikul maut” kata Rasululloh SAW. Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Ketika malaikat maut datang mendekat, rasul menanyakan kenapa jibril tidak menyertainya. Kemudian di panggilah jibril yang sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah ini. “Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah” tanya rasul dengan suara yang teramat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka. para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril.

Ternyata itu tidak membuat rasul lega. Matanya masih penuh gambaran kecemasan. ” Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” tanya jibril. ” Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” ” Jangan kawatir ya rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepada ku, Ku haramkan surga bagi siapa saja, kecuali umat muhammad telah berada di dalamnya” kata jibril. Detik-detik semakin dekat. Saatnya Izrail melakukan tugasnya. Perlahan ruh Rasululloh SAW di tarik. Nampak sekujur tubuh rasul bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini” rasululloh mengaduh lirih. Fatimah terpejam. Ali yang berada di sampingnya menunduk semakin dalam. Jibril memalingkan muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” tanya Rasululloh SAW pada malaikat pengantar wahyu itu. “Siapa yang sanggup melihat kekasih Allah di renggut ajal,” kata Jibril. Kemudian terdengar rasul memekik karena sakit yang tak tertahankan. “Ya Allah, dasyat sekali maut ini, timpahkan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku”. Badan rasul mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Ali segera mendekatkan telinganya, ” Uushikum bis shalati, wa maa malakat aymanukum. Peliharalah sholat dan peliharalah orang-orang lemah diantara kamu” Di luar pintu tangispun mulai terdengar bersahutan. Sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya. Dan Ali kembali mendekatkan telinga di bibir rasul yang mulai kebiruan, ” Ummatii…, ummatii…., ummatii…,” Berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi cahay hidup bagi umatnya. “Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi.”

sumber : http://bit.ly/fxzulu

Kisah Nyata Keajaiban pada Perayaan Maulid Nabi

Dua kisah berikut ini merupakan kisah nyata yang saya dapatkan dari Al Habib Jailani Asy-Syathiri kemarin, 26 Rabiul Awal 1437 atau 7 Januari 2016, di Rubat, Tarim, Yaman, pukul 06.30 waktu setempat.
<>
Pertama, Habib Jailani bercerita bahwa kisah yang ia sampaikan berasal dari Sayyid Muhammad al-Maliki, dan Sayyid Muhammad dari ayahandanya Sayyid Alwi al-Maliki. Cerita bermula ketika Sayyid Alwi menghadiri peringatan Maulid Nabi di Palestina. Beliau terheran-heran menyaksikan orang yang terus berdiri sejak awal pembacaan maulid.

Sayyid Alwi pun memanggilnya, “Duhai tuan apa yang Anda lakukan, mengapa Anda berdiri sejak awal Maulid?”

Lalu ia menjawab bahwa dulu ia pernah berjanji saat menghadiri sebuah Maulid Nabi untuk tidak berdiri hingga acara selesai, termasuk saat Mahallul Qiyam, momen di saat jamaah berdiri senrentak sebagai tanda penghormatan kepada Rasulullah. “Sebab menurutku itu bid’ah,” katanya.

Tiba-tiba, kata orang itu kepada Sayyid Alwi, pada momen Mahallul Qiyam ia menyaksikan Rasulullah hadir dan lewat di sebelahnya lalu berujar, “Kamu tak usah berdiri kamu duduk saja di tempatmu.”

“Aku pun ingin berdiri namun terasa susah. Sejak itulah aku sering sakit dan bahkan organ-organku bermasalah. Sehingga aku bernadzar jikalau Allah menyembuhkan penyakitku maka aku berjanji setiap ada maulid aku akan berdiri dari awal maulid hingga akhir. Dan alhamdulillah, dengan izin Allah aku diberikan kesembuhan, duhai Sayyid.”

Sayyid Alwi pun mempersilakan orang tersebut melaksanakan nazarnya.

Kedua, kisah maulid Nabi yang datang dari Lebanon. Warga di sana biasa merayakan Maulid Nabi dengan menembakan senjata api ke atas untuk menunjukan kegembiraan. Tradisi ini dilakukan turun temurun. Hampir mirip dengan tradisi pernikahan di Arab pada umumnya. Nah, suatu ketika seorang putri beragama Nasrani bani Ghatas ikut melihat perayaan tersebut. Nasib nahas menimpanya kala seorang dari mereka melepaskan senjata. Peluru yang dilepaskan menyasar ke arah putri tersebut dan menembus tepat di kepalanya.

Ia pun bersimbah darah dan jatuh ke tanah. Ibunya yang melihat kejadian itu berteriak histeris, “Binti… Binti… Binti…. (putriku… Putriku… Putriku).”

Dengan segera anaknya dilarikan ke Rumah Sakit Ghassan Hamud. Sayang, pihak rumah sakit tak bisa berbuat apa apa sebab pendarahan di otak terlalu parah. Mereka menyarankan agar segera dirujuk ke rumah sakit di Amerika yang lebih kompeten. Tapi ternyata kondisinya kian parah dan sudah di ambang ajal. Mereka pun tak bisa berbuat banyak.

Sementara ibunya karena panik penuh kecewa dan marah dia menjerit-jerit dan berkata:
يا محمد أين أنت يا محمد، وأنت تدعى النبوة؟ انظر ماذا فعل أمتك إلى بنتي في يوم احتفال مولدك؟

“Di manakah engkau, hai Muhammad yang mengaku sebagai Nabi? Lihatlah apa yang dilakukan umatmu kepada anakku pada perayaan hari kelahiranmu?”

Teriakan ini tentu dimaksudkan untuk menghardik Rasulullah.

Dokter memastikan bahwa anaknya telah meninggal dunia dan ketua dokter di sana mempersilakan sang ibu untuk melihat anaknya untuk terakhir kalinya. Dengan lemas dan dipapah ibu Nasrani itu pun masuk ke ruangan.

Sebuah keajaiban terjadi. Ketika sang ibu sudah di dalam ruangan, dia melihat anaknya sedang duduk di tepi tempat tidur dalam kondisi bugar sambil berteriak, “”Ibu… Ibu… Ibu… Tutup pintu dan jendela ibu! Jangan biarkan ia keluar!”

Antara percaya dan tidak. Si ibu yang bingung lantas bertanya, “Siapa, duhai putriku?”

Si ibu mendekati anaknya untuk memastikan bahwa kondisi baik-baik saja.

Allahu akbar! Sungguh sesuatu yang tidak masuk akal. Selain sehat dan bugar, bercak darah dan bekas luka tembakan di si putrid Nasrani tersebut menghilang.

“Putriku, apa yang terjadi?”

Putrinya menjawab sambil tersenyum kegirangan, “Ibu.. Ibu… Dia datang mengelus kepalaku sambil tersenyum.”

“Siapa dia, Sayang?”

“Muhammad , Muhammad, Ibu,” jawab anak itu.

“Aku bersaksi duhai ibu bahwa tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah.”

Ternyata, teriakan si ibu disambut oleh Nabi Agung Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau hadir dengan kelembutan dan memberikan cahaya penerang bagi kegelapan. Syahadat ini lalu diikuti para dokter yang menyaksikan peristiwa tersebut dan orang-orang di desa tempat putri tersebut tinggal.

 

Sumber: Moh Nasirul Haq, Santri Rubat Syafi’ie Mukalla Yaman

Tujuh Orang Istimewa yang Doanya Makbul

Doa adalah senjata orang beriman. Kita sangat dianjurkan untuk berdoa kepada Allah SWT agar permintaan kita dikabulkan. Meski demikian, kita juga disarankan untuk meminta doa dari orang lain untuk kita. Bisa jadi doanya lebih diterima dibanding kita.

Kita menemukan riwayat-riwayat di mana Rasulullah SAW meminta orang lain bahkan derajatnya lebih rendah untuk mendoakannya kepada Allah. Sebut saja Rasulullah SAW meminta Sayidina Umar RA untuk mendoakannya di masjidil haram.

Syekh Sa’id bin Muhammad Ba’asyin dalam Busyral Karim bi Syarhi Masa’ilit Ta’lim halaman 364 mengatakan sebagai berikut,

ويخرجون بعد يوم الثلاثة حيث لا عذر فى اليوم الرابع صياما فيه كالثلاثة قبله إذ الصائم لا ترد دعوته،
:ونظم من لا يرد دعاؤهم بعضهم بقوله

وسبعة لا يرد الله دعوتهم مظلوم، والد، ذو صوم، وذو مرض

ودعوة لأخ بالغيب، ثم نبي لأمة، ثم ذو حج، بذاك قضي

Artinya, “Mereka (Red. yang hendak melangsungkan sembahyang Istisqa) keluar rumah setelah tiga hari sekira tiada halangan berpuasa di hari keempat sebagaimana berpuasa tiga hari sebelumnya. Pasalnya, doa orang yang sedang berpuasa tidak ditolak. Sebagian ulama menggubah syair perihal orang-orang yang doanya tidak ditolak,

Tujuh orang yang doanya tidak ditolak oleh Allah

doa orang yang teraniaya, doa bapak, doa orang berpuasa, doa orang sakit

Doa untuk orang lain yang jauh, doa nabi untuk umatnya, doa orang berhaji, demikian sudah ditentukan.”

Meski demikian, kita tidak diperbolehkan berdoa yang “tidak-tidak” saat posisi kita teraniaya, sebagai orang tua, sedang berpuasa, sedang sakit, sedang sendiri, atau sedang menunaikan ibadah haji. Karena pada saat demikian doa kita tidak ditolak Allah SWT.

Pada saat yang bersamaan, saat kita memiliki hajat perlu meminta doa kepada orang tua, sahabat, mereka yang sedang berpuasa atau berhaji termasuk mereka yang sedang sakit. Kita bisa bershalawat kepada Rasulullah di dalam doa kita. Dengan demikian kita mengharapkan pintu langit terbuka.

Kita sangat dianjurkan menjaga sikap. Jangan sampai perilaku kita menyakiti tujuh orang ini. Karena murka mereka dapat menghancurkan impian dan kehidupan kita. Di sini kita perlu waspada. Boleh jadi kegagalan kita berkaitan dengan perilaku kita yang menyakitkan hati mereka. Orang-orang menyebutnya “kualat”. Wallahu a’lam.
sumber : nu.or.id

Batasan Sabar ?

Di antara sifat yang paling mulia dan utama adalah sabar. Keutamaan sifat ini banyak disebutkan dalam Al-Qur’an, hadits, dan penjelasan para ulama. Menurut Al-Ghazali, setidaknya ada sekitar tujuh puluh lebih keterangan Al-Qur’an terkait sifat keutamaan sabar, anjuran sabar, dan ganjaran yang akan diperoleh orang yang senantiasa menjaga kesabaran.

Saking mulianya tabiat ini, tak heran bila kesabaran selalu diidentikkan dengan keimanan. Seperti yang dikatakan Sahabat Ali bin Abi Thalib RA, “Ketahuilah bahwa kaitan antara kesabaran dan keimanan adalah ibarat kepala dan tubuh. Jika kepala manusia sudah tidak ada, secara langsung tubuhnya juga tidak akan berfungsi. Demikian pula dengan kesabaran. Apabila kesabaran sudah hilang, keimanan pun akan hilang.”

Dalam Ihya Ulumuddin, Al-Ghazali menjelaskan bahwa kesabaran memiliki berbagai macam hukum. Tidak semua bentuk kesabaran yang dianggap baik dan mulia. Ada beberapa bentuk kesabaran yang malah dinilai tidak baik dan kurang tepat. Kesabaran pun sebenarnya harus tahu tempatnya supaya tidak terjebak pada kesabaran yang diharamkan. Al-Ghazali mengatakan sebagai berikut.

واعلم أن الصبر أيضاً ينقسم باعتبار حكمه إلى فرض ونفل ومكروه ومحرم فالصبر عن المحظورات فرض وعلى المكاره نفل والصبر على الأذى المحظور محظور كمن تقطع يده أو يد ولده وهو يصبر عليه ساكتا وكمن يقصد حريمه بشهوة محظورة فتهيج غيرته فيصبر عن اظهاره الغيرة ويسكت على ما يجري على أهله فهذا الصبر محرم

Artinya, “Sabar dapat dibagi menjadi beberapa kategori sesuai dengan hukumnya: sabar wajib, sunah, makruh, dan haram. Sabar dalam menahan diri dari segala sesuatu yang dilarang syariat adalah wajib. Sementara menahan diri dari yang makruh merupakan sabar sunah. Sedangkan menahan diri dari sesuatu yang dapat membahayakan merupakan terlarang (haram) seperti menahan diri ketika disakiti. Misalnya orang yang dipotong tangannya, atau tangan anaknya sementara ia hanya berdiam saja. contoh lainnya, sabar ketika melihat istrinya diganggu orang lain sehingga membangkitkan cemburunya tetapi ia memilih tidak menampakkan rasa cemburunya. Begitu juga orang yang diam saat orang lain mengganggu keluarganya. Semua itu sabar yang diharamkan.”

Keterangan ini menunjukan bahwa dalam sabar ada tempatnya sendiri. Justru ketika ia bersabar malah terjebak dalam kesalahan dan keharaman. Seperti yang dicontohkan di atas, ketika melihat orang yang tertimpa musibah, maka sebaiknya kita langsung menolong orang tersebut, apalagi bila korbannya berada dalam kondisi darurat. Begitu pula ketika seorang istri yang diganggu orang lain. Sabar dalam kondisi ini termasuk sabar yang diharamkan berdasarkan penjelasan Al-Ghazali. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Inilah Batasan Sabar
Di antara sifat yang paling mulia dan utama adalah sabar. Keutamaan sifat ini banyak disebutkan dalam Al-Qur’an, hadits, dan penjelasan para ulama. Menurut Al-Ghazali, setidaknya ada sekitar tujuh puluh lebih keterangan Al-Qur’an terkait sifat keutamaan sabar, anjuran sabar, dan ganjaran yang akan diperoleh orang yang senantiasa menjaga kesabaran.

Saking mulianya tabiat ini, tak heran bila kesabaran selalu diidentikkan dengan keimanan. Seperti yang dikatakan Sahabat Ali bin Abi Thalib RA, “Ketahuilah bahwa kaitan antara kesabaran dan keimanan adalah ibarat kepala dan tubuh. Jika kepala manusia sudah tidak ada, secara langsung tubuhnya juga tidak akan berfungsi. Demikian pula dengan kesabaran. Apabila kesabaran sudah hilang, keimanan pun akan hilang.”

Dalam Ihya Ulumuddin, Al-Ghazali menjelaskan bahwa kesabaran memiliki berbagai macam hukum. Tidak semua bentuk kesabaran yang dianggap baik dan mulia. Ada beberapa bentuk kesabaran yang malah dinilai tidak baik dan kurang tepat. Kesabaran pun sebenarnya harus tahu tempatnya supaya tidak terjebak pada kesabaran yang diharamkan. Al-Ghazali mengatakan sebagai berikut.

واعلم أن الصبر أيضاً ينقسم باعتبار حكمه إلى فرض ونفل ومكروه ومحرم فالصبر عن المحظورات فرض وعلى المكاره نفل والصبر على الأذى المحظور محظور كمن تقطع يده أو يد ولده وهو يصبر عليه ساكتا وكمن يقصد حريمه بشهوة محظورة فتهيج غيرته فيصبر عن اظهاره الغيرة ويسكت على ما يجري على أهله فهذا الصبر محرم

Artinya, “Sabar dapat dibagi menjadi beberapa kategori sesuai dengan hukumnya: sabar wajib, sunah, makruh, dan haram. Sabar dalam menahan diri dari segala sesuatu yang dilarang syariat adalah wajib. Sementara menahan diri dari yang makruh merupakan sabar sunah. Sedangkan menahan diri dari sesuatu yang dapat membahayakan merupakan terlarang (haram) seperti menahan diri ketika disakiti. Misalnya orang yang dipotong tangannya, atau tangan anaknya sementara ia hanya berdiam saja. contoh lainnya, sabar ketika melihat istrinya diganggu orang lain sehingga membangkitkan cemburunya tetapi ia memilih tidak menampakkan rasa cemburunya. Begitu juga orang yang diam saat orang lain mengganggu keluarganya. Semua itu sabar yang diharamkan.”

Keterangan ini menunjukan bahwa dalam sabar ada tempatnya sendiri. Justru ketika ia bersabar malah terjebak dalam kesalahan dan keharaman. Seperti yang dicontohkan di atas, ketika melihat orang yang tertimpa musibah, maka sebaiknya kita langsung menolong orang tersebut, apalagi bila korbannya berada dalam kondisi darurat. Begitu pula ketika seorang istri yang diganggu orang lain. Sabar dalam kondisi ini termasuk sabar yang diharamkan berdasarkan penjelasan Al-Ghazali. Wallahu a’lam.

(sumber : http://www.nu.or.id/post/read/65637/inilah-batasan-sabar