Ayo Mondok: Beberapa Alasan Pentingnya Belajar di Pesantren

 

Pondok pesantren pada awalnya di-setting sebagai lembaga pendidikan non-formal. Surau, Masjid dan pemondokan santri menjadi ruang aktifitas sentral para santri belajar ilmu. Ilmu yang dipelajari secara umum berkutat pada persoalan disiplin ilmu agama (baca; Islam), semisal fiqh, tasawwuf, nahwu, shorof, tauhid, tajwid dan semacamnya. Teks-teks yang jadi rujukan juga seputar kitab kuning klasik, sebuah karya cendikiawan Islam (Ulama) yang rata-rata ditulis pada abad pertengahan. Hal semacam itu membuat beberapa kalangan menjuluki kaum pesantren sebagai kaum tradisionalis.
Seiring berjalannya waktu, tuntutan zaman kian kompleks. Pesatnya keilmuan yang semakin spesifik serta perkembangan teknologi terus menuntut pesantren tetap bisa menjadi lembaga pendidikan yang selalu survive. Alhasil, pesantren juga membuka pendidikan umum mulai dari SD-MI, SLTP-MTs, SMA-SMK-MA-MAK, bahkan Perguruan Tinggi. Sungguh ini capaian yang luar biasa. Selain menjadi lembaga pendidikan agama, pesantren juga membuka ruang untuk siapa saja yang ingin memperdalami ilmu umum.
Keberadaan itu ternyata tidak membuat pesantren aman dalam memuluskan ajarannya. Munculnya pesantren-pesantren baru yang sebenarnya berada dalam naungan aliran Islam transnasional menjadi tantangan pesantren yang sudah lama ada. Pesantren baru muncul dengan mengedapankan ilmu umum semata, pengetahuan bahasa Inggris dan bahasa Arab menjadi tawaran untuk menarik animo para orang tua agar memondokkan anaknya di pesantrennya.
Gerakan “Ayo Mondok” yang dipelopori oleh Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU menjadi signal bahwa lembaga pendidikan pesantren bukan lembaga alternatif. Akan tetapi, pesantren dengan segala bentuknya merupakan lembaga unggulan. Memang, jika dilihat dari redaksi bahasa, gerakan tersebut seakan-akan hanya ajakan untuk orang tua agar memondokkan anaknya di pesantren. Ajakan tersebut diperuntukkan agar orang tua tidak memondokkan anaknya di pesantren yang salah. Karena, meskipun menempuh pendidikan di pesantren bukan jaminan mereka sudah berada di tempat yang benar. Jika pesantren yang ditempati berideologi Islam garis keras, maka sejatinya mereka tidak nyantri. Akan tetapi, mereka dididik untuk menjadi para “teroris” dengan alasan “jihad”. Setelah keluar sebagai alumni mereka malah mencoreng nama Islam itu sendiri. Untuk itulah, gerakan “Ayo Mondok” menjadi sebuah kampanye penting agar orang tua tidak salah menitipkan anaknya untuk belajar di pesantren.
Pentingnya Mondok
Banyak hal kenapa orang tua penting memondokkan anaknya di pesantren yang benar. Menurut pengalaman penulis sendiri, ada beberapa hal kenapa penting menempuh pendidikan di pesantren, tentunya pesantren yang berada di bawah asuhan kiai-kiai Nahdlatul Ulama (NU). Di antaranya pertama, pesantren NU memiliki sanad keilmuan yang jelas. Segala yang dipelajari di pesantren NU bisa dipertanggungjawabkan. Jika kita runtut, ilmu yang dikonsumsi alurnya jelas sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Oleh karenanya, kita tak perlu khawatir atas kebenaran ilmu yang dipelajari di pesantren NU. Karena itu sudah sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW yang besok bertanggung jawab dihadapan Allah Yang Maha Esa.
Kedua, pesantren mengajarkan kita untuk tidak berpikir oposisi-binner. Sebuah gaya berpikir yang selalu mempertentangkan setiap perbedaan. Tak heran, jika gerakan feminisme menjadi kekuatan matriarki yang menindas kaum lelaki, semisal. Atau sosialisme menentang otoriterianisme, lalu menjadi otoriterianisme dengan bentuk baru. Nah, di pesantren kita diajarkan bahwa perbedaan itu adalah sunnatullah. Perbedaan tidak perlu dipertentangkan, akan tetapi disikapi secara arif agar bisa berjalan beriringan.
Pelajaran sejarah yang bisa kita petik adalah saat terjadi perang sesama sahabat Rasulullah. Ketika beberapa kelompok memberi dukungan kepada salah satu sahabat, bahkan ada yang memilih menyalahkan keduanya. Ulama Ahlussunnah memilih tidak berkomentar. Diamnya Ahlussunnah bukan tanpa alasan, sikap diam tanpa komentar merupakan pernyataan tersirat bahwa keduanya sama-sama mempunyai dasar alasan atas perang yang mereka kobarkan. Keduanya sama-sama sahabat Rasulullah dan perbedaan pandangan itu hal yang biasa terjadi, tak terkecuali sahabat Nabi sendiri.
Ketiga, kita dikenalkan tentang konsep barokah. Dalam kehidupan pesantren, barokah menjadi hal penting yang dijadikan pegangan santri. Sering kali kita mendengar, setinggi apapun ilmu yang didapatkan jika tidak mendapatkan barokah Kiainya, maka ilmu yang didapat akan sia-sia. Dalam pandangan pesantren tabarrukan atau biasa disebut barokah mempunyai makna penambahan kebagusan dari Allah, ziyadatul khair. Artinya, setiap waktu semakin bertambah baik. Barokah merupakan sebuah kekuatan rasa yang dimiliki oleh Kiai dan dipercaya mampu melegitimasi ilmu yang diperoleh santri, manfaat atau tidak. Barokah tidak semata-mata bisa hadir dari seorang Kiai. Artinya, untuk mendapatkan titel bahwa seorang Kiai memiliki kekuatan barokah biasanya terletak pada sejauhmana Kiai tersebut memilki karomah.
Karomah sendiri merupakan sebuah pengetahuan yang telah mengkristal pada diri seorang Kiai. Tentunya, ilmu yang pernah dipelajarinya telah menyatu dengan dirinya. Nah, Kiai seperti ini akan terlihat begitu karismatik di depan santri-santrinya dan masyarakat pada umumnya. Ternyata, hal semacam ini tidak hanya diakui oleh kalangan pesantren. Seorang tokoh sosiologi, Max Weber juga mengakui akan kebenaran ini. Dalam menjelaskan rasionalisasi, Weber mengakui bahwa ilmu-ilmu sosial harus berkaitan dengan fenomena spiritual atau ideal. Alasannya, sebagai ciri-ciri khas dari manusia yang tidak berada dalam jangkauan bidang ilmu-ilmu alam. Nah, yang semacam ini dalam pesantren biasa disebut dengan barokah dan karomah. Sesuatu yang selama ini kita anggap mistis, ternyata hanya persoalan rasio akal belum mampu menjangkaunya. Sebenarnya ini adalah hal yang rasional, suatu saat bisa dibuktikan.
Keempat, dari pesantren kita akan diajarkan bagaimana bersosial. Tanpa disadari, dalam kehidupan santri menyimpan segudang pelajaran hidup. Hal sederhana, semisal bagaimana santri makan bersama dengan menggunakan talam. Dari situ kita bisa lihat, bahwa kebersamaan dalam pesantren itu sangat diutamakan. Tanpa melihat dari mana asalnya, miskin, kaya bahkan keturunannya. Pesantren tak pernah mengenal kasta, semua diperlakukan sama, santri.
Kelima, selain persoalan di atas, hal paling penting yang bisa didapat dari pesantren adalah “Akhlak”. Akhlak yang dimaksud di sini bukan sekedar persoalan etika semata. Karena etika lebih kepada persoalan pola sikap dan pola ucap. Semisal, seorang koruptor yang sosialnya bagus tidak bisa dikatakan berakhlak. Karena apa yang ia lakukan tidak sesuai dengan kebenaran hatinya.
Akan tetapi, akhlak jauh melampaui itu. Seseorang yang berakhlak, baik tindakan, perkataan, pikiran maupun perasaannya akan berjalan secara beriringan. Keempatnya tidak mungkin bertentangan. Contoh yang bisa kita ambil, ketika Nabi Muhammad SAW mengutuk seseorang yang munafik. Seperti kita mafhum, munafik adalah seorang yang ucapan dan tindakan, pikiran serta hatinya tidak sesuai. Dari contoh itu bisa kita petik, bahwa akhlak meliputi persoalan pola sikap, pola ucap, pola pikir dan pola rasa (hati). Bagaimanapun juga, Nabi Muhammad SAW diutus ke dunia, tak lain dan tak bukan untuk menyempurnakan akhlak manusia, Innama bu’itstu liutammima makarimal akhlaq.
Ini hanya sekelumit pengalaman dari penulis yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren. Tentu masih banyak hal lain yang bisa dijadikan alasan kenapa mondok (nyantri) itu penting. Ada segudang pelajaran dan pengalaman yang hanya bisa kita dapatkan dari pondok pesantren. Untuk itu, Ayo Mondok.
Sumber : NU Online

[/dropcap]

Siswi MMA Mewakili Lomba Da’i Tinggkat Jawa Madura Di Tebuireng

Nur Khasanah gadis kelahiran gombong 13 Maret 1999 itu merupakan sisiwi Madrasah Muallimin Muallimat al hikmah 2, yang tercatat sebagai salah satu santriwati yang mewakili Pondok Pesantren Al Hikmah 2  untuk mengikuti lomba Da’i tinggkat Jawa dan Madura di Tebu Ireng pada 4 Februari 2016.

Nur Khasanah mengatakan, awalnya dia memang tidak percaya namanya akan tercantum sebagai salah satu perwakilan Pondok Pesantren Al hikmah 2 yang mengikuti lomba Da’i itu, mengingat penyeleksian pada waktu itu terbilang cukup ketat, dan pesertanya pun memiliki tampilan yang tak kalah bagus seperti para da’i yang sebenarnya. dari ribuan santriwati pondok pesantren al hikmah 2 tercatat hampir 70 lebih santriwati mendaftar diri untuk mengikuti lomba tersebut, namun hanya ada beberapa santri yang lolos dalam penyeleksian, tahap awal penyeleksian peserta yang lolos tercatat sekitar 12 orang, tahap penyeleksian kedua 6 orang, tahap penyeleksian ketiga 4 orang, tahap penyeleksian ke empat 4 orang hingga penyeleksian ahir dewa juri memutuskan tiga kandidat yang berhak maju ke Tebu ireng adalah Nur khasanah (Muallimat), Maulida (SMA), Nur Islamiyah (MAK).

nur khasanah menambahkan, mengingat tema yang akan di bawakan dalam lomba bukan dari peserta, melainkan di tentukan oleh dewan juri, membuat tantangan baru untuk dirinya agar selalu siap, ia gunakan waktu luangnya untuk memperdalam materi. sedangkan untuk kendala sendiri, nur khasanah mengaku sedikit susah untuk membagi waktu, karena waktu yang di berikan panitia untuk persiapan hanya 2 hari, sedangkan ia memiliki banyak kegiatan seperti para santriwati lainnya.harapannya dalam lomba ini yaitu semoga ia bisa meraih juara, kalaupun tidak itu bisa menambah pengalaman dan pembelajaran baru sebagai sarana belajar.

ZULKARNAIN :Raja Timur Dan Barat

ZULKARNAIN terkenal sebagai pemimpin dunia dan akhirat. ia raja dn juga nabi . ia berhasil menaklukkan negri-negri di dua belahan dunia ,timur dan barat . Di bawah kepemimpinannya , penduduk beriman kepada Allah .
Zulkarnain menakukkan negri demi negri. Di mana ditemunya kaum yang menyem bah berhala , dimana di dengarnya ada raja yang dzalim, kesanalah beliau tuk menyerangnya. Disingkirkanya raja yang dzalim dan digantikannya dengan raja yang adil,dan taat pada peraturan Alllah serta mampu memakmurkan rakyatnya.
Zulkarnain ahli dalam mendirikan bangunan dan memanfaatkan biji besi. Masyarakat takluknya didibina dengan berbagai keahlian terutama bangunan dan peman faatan biji besi . Setelah beberapa tahun beliau bersama mereka , ditinggalkannya ttempat itu dan meninggalkan tempat itu dan di teruskan perjalanannya ke negri di daerah timur . Penduduknya belum pandai membuat rumah .Pakaiannyamasih sederhana ,asal menutup auran, pun mereka menyembah berhala . Zulkarnain memengajari mereka membuat tempat tinggal ,Dan di bimbingnya mengenal Alllah S.W.T.

Suatu hari datanglah utusan Zulkarnain yang mengabarkan bahwa ia di temui oleh suatu kaum yang tak di mengerti bahasanya mereka tinggal di pegunungan . pemimpin mereka memnta perlindungan kepada Zulkarnain . mereka mengeluh serangan suku barbar yang mereka sebut suku yakjudddan makjud ke negri mereka . negri mereka tidak pernah merasa aman karena terus terusan di rampok dan kehidupan rakyat di porak porandakkan . Lantas Zulkarnain menemui mereka .

”Tuaan , Tolongla kami , tuk menghadapi mereka ” kata peimpinya
“kami bersebdia memberikan apa saja … asal kami dengan musuh kami di bei tembok yang kuat ”
” aku tidak mengharapka apa- apa atas jerih payahku karena aku lakukan karena Allah semata .Maukah kalian membantu membuat tembok itu ?”
rakyat itu amat gembira dan penuh sem,angat membantu tentara Zulkarnain mereka menentukan tempat yang paling rawan dari serangan musuh .Dibuatnya rencana membuat tembok dari besi dan tembaga., agar kukuh dan kuat Beberapa minggu berlalu untuk menumpukkan kayu bakar , kemudian berbonggol bonggol besi di tumpuk di tatasnya hingga setinggi gunung . lalu di bakar hingga melelehdan mencair . kemudian di tambahkan cairan tembaga di atasnya . Ketika cairan bsi dan tembaga itu dingin dan mengeras , selesailan dinding pemisah yang tinggi . Musuh mereka tak lagi bisa menyerang . mereka dapat hidup tenang dan beribadah kepada Allah S.W.T .
Zulkarnain berkata “dinding ini adalah rahmat dari Alllah S.W.T .Dinding inimemisahkan kaum dari musuhnya sampai waktu yang di tentukkan oleh-nya . Kalau tiba janji Allah , maka akan dirubuhkan kembali dindinng ini . jika sudah demikian kembalilah kekacauan di negri ini .sungguh janji Alllah adalah benar “

Mengenal Allah’ Imam Ghozali dalam Ihya’ Ulumuddin\

Imam Ghozali Dalam Ihya’ Ulumuddin, Ilmu Tasawuf Terbagi Menjadi Dua: 1.- Tasawuf Sebagai Ilmu Mu’Amalah, Ini lah Yang Di uraikan Dalam Ihya’ Ulumuddin. 2.- Ilmu Tasawuf Sebagai Ilmu Mukasyafah, Menurut Imam Ghozali Ilmu Ini Tersendiri Serta Tidak Boleh Di Tuliskan. Sebagaimana Kata-kata Imam Ghozali, Fana Adalah Salah Satu Tingkatan Ilmu Mukasyafah.

Mengenal Allah’ Imam Ghozali dalam Ihya’ Ulumuddin
Dari Pada Dirinya Muncul Imajinasi Orang Yang Menyatakan Terjadinya Hulul Atau Penyatuan Dan Yang Menyatakan: Aku Ini Yang Maha Benar!.. Ini Memang Benar-benar Keliru, Seperti Kelirunya Orang-orang Yang Memfonis Cermin Sebagai Merah Hanya Karena Memantulkan Warna Merah”.

Berikut Ini Mengenai Tauhid Imam Ghozali, Membaginya Menjadi Empat:

1.- Tauhid, Seseorang Yang Menyatakan Tidak Ada Tuhan Kecuali Allah, Sementara Sementara Kalbunya Melalaikan Makna Ucapanya. Tauhidnya Orang Munafik.

2.- Tauhid Yang Membenarkan Makna Ungkapan-ungkapan Syahadat, Tauhid nya Orang-orang Awam.

3.- Tauhid nya Orang-orang Yang Menyaksikan Kebenaran Ungkapan Tersebut Secara Kasyf Dengan Cahaya Yang Maha Benar, Tauhid Nya Orang-orang Yang Akrab Dengan Allah, Para MuQorrobin.

4.- Tauhid Seorang Yang Tidak Melihat Dalam Wujud Kecuali Hal Yang Tunggal, Tauhid nya Orang-orang Yang Benar, Para ShiddiQin, Dan Para Sufi Menyebutnya Kefanaan Dalam Tauhid.

Kebahagiaan Imam Ghozali berpendapat, dalam Kimia’ al-Sa’adah, “Seandainya Anda memandang kearah ilmu, anda niscaya melihatnya bagaikan begitu lezat. Sehingga ilmu itu dipelajari karena manfaatnya. Anda pun niscaya mendapatkannya sebagai sarana menuju akhirat serta kebahagiaanya, dan juga sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah. Namun hal ini mustahil tercapai kecuali dengan ilmu tersebut.

Dan yang paling tinggi peringkatnya, sebagai hak umat manusia, adalah kebahagiaan abadi. Sementara yang paling baik adalah sarana ilmu tersebut yaitu amal, yang mengantarnya kepada kebahagiaan tersebut, dan kebahagiaan tersebut mustahil tercapai kecuali dengan ilmu serta amal. Dan ilmupun tidak mungkin tercapai kecuali dengan ilmu cara beramal. Jadi asal kebahagiaan di dunia dan akhirat itu sebenarnya ilmu.

Kelezatan khusus kolbu adalah pengenalan terhadap Allah, dan kalbu memang tercipta untuk mengenal Allah. Kelezatan tertinggi dan terluhur pengenalan terhadap Allah. Manusia tidak hanya menikmati kelezatan pengenalan terhadap Allah setelah meninggal dunia saja, tapi diapun bisa menikmatinya ketika dalam keadaan sadar, yaitu ketika dia mampu menyaksikan berbagai hakekat realitas tertinggi, dan kepadanya pun alam malakut disingkapkan. Semua ini mustahil tercapai kecuali dengan keterpalingannya dari berbagai pesona materi, ilusi, serta kelezatan yang fana.” Kata Imam Ghozali.

Sekian Terimakasih By http://karya-mandau.blogspot.com/2012/11/mengenal-allah-imam-ghozali-dalam-ihya.html

KENAPA PERLUNYA BELAJAR ILMU NAHWU & SHOROF ?

Madrasah Muallimin Muallimat ini adalah Madrasah yang berlatar belakang mempelajari Ilmu agama yang bersumber dari kitab-kitab gundul secara langsung, seperti yang dilakukan ulama-ulama terdahulu, dan untuk bisa membaca kitb-kitab tsb, di perlukanlah faham tentang ilmu nahwu dan shorof. Berikut pembahasan MENGAPA PERLUNYA BELAJAR ILMU NAHWU DAN SHOROF ??

Nahwu dan shorof merupakan bahagian dari ‘Ulumul ‘Arabiyyah, yang bertujuan untuk menjaga dari kesalahan pengucapan mahupun tulisan. ‘Ulumul ‘Arabiyyah mengandungi 12 ilmu berdasarkan dari kitab al Kawakib ad-Durriyyah karangan Syeikh Muhammad bin Ahmad bin Abdulbari al-Ahdal yaitu :

“Ilmu Tashrif, Nahwu, Ma’aani, Bayan, Badi’, ‘Arudh, Qawaafi, Qawanain Kitabah, Qawanain Qira’at, Insya’ul Risalah wal Khitab, Muhadharah”.
Ilmu nahwu adalah ilmu yang membahaskan tentang aturan akhir struktur kalimah (kata) apakah berbentuk rafa’, nashab, jar, jazm,.

Sedangkan ilmu shorof adalah ilmu yang membahaskan tentang shighah (bentuk) kalimah Arab dan hal ihwalnya dari mulai huruf asli, tambahan, shohih, sampai kepada ‘illat-nya.

Dari kedua ilmu ini kita dapat memahami dan mempelajari teks-teks bahasa Arab yang termaktub dalam Alquran, Hadis, Syair-syair, serta qaul-qaul bijak para ulama’ terdahulu.

Sebagaimana telah berkata Umar bin Al-khathab: “Pelajarilah bahasa Arab kerana sesungguhnya bahasa Arab itu merupakan suatu bahagian dari bahasa kalian”

Seterusnya Imam Al-Qhazali berkata di dalam kitab Ihya’ Ulumuddin:

“Sesungguhnya bahasa Arab dan Nahwu adalah suatu sarana untuk mengetahui Alquran dan sunnah Nabi s.a.w. Keduanya bukanlah termasuk ilmu-ilmu syar’i akan tetapi wajib hukumnya mendalami kedua ilmu tersebut kerana syar’iah ini datang dengan bahasa Arab dan setiap syar’iah tidak akan jelas kecuali dengan suatu bahasa”.

Maka dengan hal tersebut, bertetapanlah dengan sebuah kaedah fiqiyyah :

مَا لاَ يَتِمَّ الْواجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبُ

Ertinya: “Tidak sempurna sesuatu kewajipan kecuali dengannya, maka ia dikira wajib”.

Disini penulis menganjurkan kepada diri sendiri dan saudara/i seagama yang berada di dalam menuntut ilmu agar mempelajari ilmu bahasa arab yang diantara pokoknya yaitu ilmu Nahwu dan Shorof kerana ada beberapa alasan dan pertimbangan-pertimbangan dimaksudkan adalah seperti berikut:

Untuk menjaga lisan dari kesalahan yakni bahasa arab adalah bahasa al-Quran dan Hadits, di mana keduanya adalah primer (pokok) ajaran Islam dan kandungan kedua sumber ajaran Islam ini harus diamalkan. Sehubung dengan itu, terdapat juga kitab-kitab yang ditulis oleh Para ulama’ sejak awal perkembangan Islam, di mana kitab-kitab ini merupakan khazanah ajaran-ajaran dan ilmu-ilmu tentang islam dan sebahagian besar dari kitab-kitab ini ditulis dalam bahasa Arab. Untuk boleh mengamalkan, kandungan pokok dan cabang dari pecahan pokoknya ajaran Islam ini – terlebih dahulu- haruslah difahami. kerana pokok dan cabangnya berlaku di dalam bahasa Arab, maka haruslah dipelajari dan dikuasai ilmu tentang bahasa Arab, diantaranya ilmu Nahwu dan Shorof. Alasan penulis mengatakan begitu kerana masa sekarang banyak yang kurang faham dengan masalah –masalah agama disebabkan mempelajarinya dari buku-buku terjemahan yang terkadang-kadang masih banyak kesalahannya daripada teks asalnya sehingga menyebabkan kesalahan penerapan tersebut dalam kehidupan seharian.

Akan lebih baik bagi kita untuk mempelajari ilmu agama langsung dari sumber yang menggunakan bahasa arab, dan untuk boleh berbahasa Arab yang merupakan bahasa Al-Quran kita harus melalui mempelajari ilmu Nahwu dan Shorof kerana keduanya adalah Bapa dan Ibunya ilmu. Sebagaimana kita ketahui dari nazham ini :

* الصرف أم العلوم * والنحو أبوها

Nah, itulah sekelumit pembahasan mengapa pentingnya belajar ilmu nahwu dan shorof,
Mudah-mudah diberi Taufik bagi sang penulis dan kepada kita didalam mempelajari bahasa Arab diantaranya ilmu Nahwu dan Shorof serta hal yang bersangkutannya.
Wallahu ‘alam..

 

Sumber: Muhammad Yasir

Sekilas Tentang Pengarang Kitab Alfiah Ibnu Malik

قَالَ مُحَمَّدٌ هُوَ ابْنُ مَالِك  أَحْمَدُ رَبِّي اللهَ خَيْرَ مَالِكِ

Latar belakang Syeikh Ibnu Malik

Siapa yang tak kenal Ibnu Malik, Beliau adalah ulama besar yang familiar dengan sebuah kitab yang bernama Alfiyah. Kitab ini berisi tentang kaidah  bahasa arab  yang bermuara seputar ilmu nahwu dan sharaf yang  banyak di-aji dan di-kaji  di-dunia pesantren-pesantren dan pakultas-pakultas pada umumnya, bahkan kitab ini dijadikan landasan pengajaran literature bahasa arab di universitas Al-Azhar Kairo-Mesir.  Nama lengkap beliau adalah Syeikh Al-Alamah Muhammad Jamaluddin ibnu Abdillah ibnu Malik al-Thay, lahir di sebuah kota kecil yang bernama Jayyan. Dimana daerah tersebut masih di bawah kekuasaan pemerintah Andalusia (Spanyol). Konon ketika  itu, penduduk negeri tersebut  sangat mencinta pengetahuan, sehingga mereka sibuk berlomba-lomba untuk mencapainya, bahkan mereka bersaing dalam menciptakan sebuah karya-karya  ilmiah.

Sekilas Tentang Pendidikan Syeikh Ibnu Malik
Ketika beliau masih usia dini, Beliau sangat gemar sekali menuntut ilmu,  bahkan beliau pernah belajar kepada seorang ulama yang bernama Syaikh Al-Syalaubini (w.645 H) yang berada di daerahnya sendiri. Setelah meranjak dewasa, beliau berangkat ke Ke-makkah untuk menunaikan ibadah haji. Dan setelah itu, beliau langsung  menuju perjalanan ke-Damaskus untuk menimba ilmu dan pengetahuan. Di sanalah  beliau  belajar ilmu dari beberapa ulama besar, di antara adalah Al-Sakhawi (w.643 H). Dari Damaskus kemudian beliau  berangkat lagi ke-kawasan  Aleppo, dan beliau menuntut ilmu kepada Syaikh Ibnu Ya’isy al-Halaby (w.643 H) seorang ulama besar yang berada di-kawasan tersebut.
Kekaguman Para Ulama Atas Kejeniusan Syeikh Ibnu Malik
Nama Ibnu Malik didaerah tersebut mulai tercium harum  dan dikagumi oleh para ulama, karena kejeniusan dan kecerdasan beliau yang sangat luar bisa didalam menyampaikan sebuah karya ilmiyah. Beliau  banyak menampilkan teori-teori nahwiyah sebagai analogy teori-teori mazhab Andalusia, yang jarang diketahui oleh orang-orang Syiria pada waktu itu. Teori nahwiyah semacam ini, banyak diikuti oleh murid-muridnya, seperti Imam Al-Nawawi, Ibn al-Athar, Al-Mizzi, Al-Dzahabi, Al-Shairafi, dan Qadli al-Qudlat Ibn Jama’ah. Untuk menguatkan teorinya ini, sarjana besar yang berkebangsaan  Eropa ini, tidak segan-segan mengambil saksi (syahid) dari teks-teks Al-Qur’an. Kalau tidak Beliau dapatkan, dan beliau juga menyajikan teks Al-Hadits. Kalau tidak ia dapatkan.
Beliau mengambil saksi dari sya’ir-sya’ir sastrawan Arab kenamaan. Semua itu adalah pemikiran yang diproses melalui paradigma yang dituangkan dalam kitab-kitab karangannya, baik berbentuk nazhom (syair puitis) atau berbentuk natsar (prosa). Sesungguhnya, karangan beliau ini masih  lebih baik dan lebih indah dari para tokoh pendahulu-nya.
Karya-Karya Syeikh Ibnu Malik

Diantara karya-karya agung beliau adalah Nazhom al-Kafiyah al-Syafiyah yang terdiri dari 2757 bait. Kitab ini menyajikan semua informasi tentang Ilmu Nahwu dan Sharaf yang diikuti dengan komentar (syarah). Kemudian kitab ini diringkas menjadi seribu bait, yang kini terkenal dengan nama Alfiyah Ibn Malik. Kitab ini bisa disebut Al-Khulashah (ringkasan) karena isinya mengutip inti uraian dari Al-Kafiyah, dan bisa juga disebut Alfiyah (ribuan) karena bait syairnya terdiri dari seribu baris. Kitab ini terdiri dari delapan puluh (80) bab, dan setiap bab diisi oleh puluhan bait dengan narasi yang indah. Al-Sayuthi dalam kitabnya, Bughyat al-Wu’at. Adalah   di antara salah satu ulama yang gemar menghimpun semua tulisan Ibnu malik.

Kitab Alfiyah Ibnu Malik – Karya Agung Yang Banyak Digemari
Sebelum kerajaan besar di Andalusia runtuh, pelajaran Ilmu nahwu pada awalnya cendrung tidak banyak diminati oleh masyarakat. Akan tetapi setelah lama-kelamaan, pelajaran ini mulai banyak di gemari oleh masarakat sekitarnya.bahkan menjamur kepelosok-pelosok desa terpencil. maka mulailah bermunculan karya-karya ilmiah dari goresan tinta para ulama dan para cedikiawan jenius, yang menambah semarak kecintaan masayarakat terhadap ilmu nahwu dan sharaf.
Dalam kitab Kasyf al-Zhunun, para ulama penulis Syarah Alfiyah berjumlah tidak kurang dari empat puluh orang. Sebagian mereka ada yang menulis dengan uraian yang panjang, dan ada pula yang menulis hanya dengan sebuah karya singkat (mukhtashar). Di sela-sela itu muncullah beberapa karya baru dari beberapa ulama yang memberikan catatan sisi (hasyiyah) pada setiap kitab-kitab syarah.

MMA Meraih Juara 1 Lomba Hadroh

Riuh tepuk tangan santriwan maupun santri wati menyambut kemenangan group Al Imtiyaz, group hadroh yang berdiri di bawah naungan madrasah muallimat al hikmah 2 itu, untuk sekian kalinya  kembali memenangkan lomba hadroh dalam acara Resufle  pengurus pondok pesantrn al hikmah 2, yang di selenggarakan di GOR (Gedung Serbaguna) Alhikmah.

Perlombaan itu di ikuti oleh masing masing perwakilan sekolah diantaranya yaitu : Madrasah Aliyah (MA), Madrasah Tsanawiyah (MTS), SMP, SMA ,SMK , dan yang terahir adalah Madrasah Muallimin Muallimat Al hikmah (MMA), masing masing group hadroh di tantang untuk membawakan lagu wajib “ya khoiru maulud” dengan fariasi dan ke kreatifitasan masing, dan setelah mengikuti beberapa rangkaian penilaian ahirnya group hadrouh al imtiyaz di nyatakan sebagai pemenang dalam lomba hadroh taun 2016 ini.

” sebelumnya kami tidak pernah menyangka kalau imtiyaz akan menjadi juara ” ucap samawati rosalina, salah satu personil group Al Imtiyaz, pada wawancara rabu (24/02/2016)  kemarin. personil group yang biasa di sapa dengan sebutan ocha itu mengatakan kemungkinan kecil untuk Al Imtiyaz mendapatkan juara, karena dalam hal persiapan saja mereka masih kurang maksimal, mereka hanya mengambil waktu 5 hari untuk latihan itupun tidak semaksimal seperti biasanya, karena jadwal latihan sering bertabrakan dengan jadwal kegiatan yang mereka miliki, namun secara tak di sangka,meskipun tampil sebagai nomor undi terahir tapi ternyata mampu menjadi yang pertama,hal itu adalah sebuah kejutan yang luar biasa”.

” harapan kita ” lanjut ocha, yang saat itu mewakili para personil,”semoga group hadroh Al Imtiyaz maju, tetap di pertahankan kekompakannya, semakin berfariasi dalam menampilkan lagu lagu sholawat dan tetap semangat untuk terus bersholawat”.

 

DOA seperti memanah

bnul Qayyim rahimahullahu ta’ala mengatakan, orang yang berdoa persis seperti orang yang memanah. Pertama, perlu ada sasaran. Lalu yang kedua, perlu ada panah yang kukuh, lurus. Yang ketiga, perlu ada tenaga atau kekuatan untuk menarik panah panah sehingga panahnya meluncur tepat pada sasarannya. Tiga syarat ini harus dimiliki seseorang yang ingin doanya di mustajabkan oleh Allah Ta’ala.

Syarat yg pertama, perlu ada sasaran. Maka, sasarannya adalah Allah. Hendaklah ia berdoa hanya kepada Allah Ta’ala, dan tidak berdoa kepada selain-Nya. Sebab, berdoa kepada selainnya adalah kelemahan dan kehinaan.

Lalu yg kedua, panah yang lurus yaitu doa yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ada dalam Al-Qur’an dan Sunnah baginda. Sebab, kadang kala ada yang berdoa minta sesuatu, tapi kita tidak mengetahui apakah sesuatu itu baik buat dunia dan akhirat kita.

Dan yang ketiga, kekuatan untuk menarik panah itu adalah dorongan kepentingan. Karena doa yang diterima oleh Allah Ta’ala adalah doanya orang yang benar-benar memerlukan, benar-benar menginginkan dan terdesak dengan terwujudnya keinginan tersebut.

Maka kata Ibnul Qayyim, “tidaklah tercipta ketiga syarat ini, kecuali Allah Ta’ala akan kabulkan doanya”.

Allahua’lam..

Surga Dan Kenikmatan Yang Dijanjikan

SURGA (Al Jannah) adalah suatu tempat di alam akhirat yang penuh dengan keselamatan, kesejahteraan, kebahagiaan, dan kemuliaan. Di sanalah tempat segala keindahan dan kesenangan yang belum pernah kita lihat dan belum pernah kita nikmati di dunia. Karena itulah surga dikatakan pahala sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah. (QS. 18/Al-Kahfi: 31) Allah SWT juga menegaskan, bahwa: “Para penghuni surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya, dan paling indah tempat istirahatnya.” (QS. 25/Al-Furqon: 24)

Siapa sajakah yang berhak menghuni surga? Ditegaskan dalam Al-Qur’an bahwa surga diperuntukkan bagi orang yang beriman. “Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. 2/Al-Baqoroh: 82) “Dan orang yang beriman dan mengerjakan amal kebajikan, mereka akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Danjanji Allah itu benar. (QS. 4/An-Nisa’: 122) Yang termasuk orang beriman dan berbuat kebajikan, menurut hadits Rosulullah saw. yang diriwayatkan oleh Tirmidzi adalah orang yang:

a.        suka memberi makan fakir-miskin;

b.        lembut bicaranya; dan

c.        gemar berpuasa dan sholat pada malam hari sewaktu manusia yang lain tidur nyenyak.

Tentu saja penghuni surga itu tidak hanya dari umat Nabi Muhammad Rosulullah saw., melainkan juga sebagian dari umat

para nabi terdahulu. Allah SWT berfirman, “Mereka itulah orang yang dekat (kepada Allah), berada dalam surga kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian*). (QS. 56/Al-Waqi’ah: 11-14)

A. KEADAAN SURGA DAN PENGHUNINYA

Keadaan di dalam surga penuh dengan keindahan dan kenikmatan. Para penghuninya juga selalu diliputi kesenangan. Al- Qur’an memaparkan keadaan surga kegiatan sehari-hari penghuni surga sebagai berikut:

=> mereka duduk berhadapan di atas dipan-dipan. (QS. 15/Al-Hijr: 47-48)

=> mereka mengenakan pakaian berwarna hijau yang terbuat dari sutra halus dan sutra tebal. (QS. 18/Al-Kahfi: 31)

=> mereka mendapat perhiasan berupa gelang-gelang dari emas dan mutiara. (QS. 22/Al-Hajj: 23)

==> mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. (QS. 25/Al- Furqon: 16)

=> mereka tak pernah berduka serta tak pernah merasa lelah dan tiada merasa lesu. (QS. 35/Fathir. 34-35)

=> mereka selalu bersenang-senang. (QS. 36/Yasin: 56-57)

=> mereka bersuka ria (QS. 52/At-Thur: 17-18)

:=> mereka selalu dikelilingi anak-anak muda yang selalu siap melayani mereka. Rupa mereka seakan-akan mutiara yang tersimpan (QS. 52/Ath-Thur: 24)

=> Mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani- permadani yang indah. (QS. 55/Ar-Rohman: 74-76)

Diterangkan dalam sebuah hadits, bahwa di surga setiap pria beristri dua. Abu Huroiroh ra. mengabarkan, Muhammad Rosuhdlah saw. bersabda, “Rombongan yang pertama-tama masuk surga wajahnya bagai bulan purnama. Mereka tidak meludah, tidak membuang ingus, dan tidak buang air di sana. Bejana dan sisir mereka terbuat dari emas dan perak. Pedupaan mereka kayu gaharu yang harum. Keringat mereka seharum kesturi. Setiap pria mempunyai dua istri yang kedua betisnya ternbus pandang sehingga kelihatan sumsumnya di balik kulit karena sangat indahnya. Mereka tidak pernah marah atau bertengkar. Hati mereka senantiasa bersatu bertasbih kepada Allah SWTsepanjangpagi dan petang”. (HR. Muslim)

Seluruh penghuni surga berhati bersih. Tidak memiliki rasa dendam dan dengki. Dan masing-masing merasa bersaudara. “Kami cabut segala macam dendam yang ada dalam dada mereka” (QS. 7/Al-A’rof 43) “Kami lenyapkan segala rasa dendam yang ada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara. ” (QS. 15/Al-Hijr: 47-48) Karena itulah interaksi yang terjadi antar sesama penghuni surga selalu damai. Sebab:

=> mereka tidak mendengar perkataan yang tiada berguna (QS. 19/ Maryam: 62)

=> mereka juga tidak mendengar kata-kata yang menimbulkan dosa, (QS. 56/A/- Waqi’ah: 25)

=> dan tiada terdengar kata-kata dusta (QS. 78/An-Naba’: 35)

Para ahli surga pun memperoleh pendamping yang lebih baik dari pada istri-istri mereka sewaktu di dunia. “Kemudian Kami berikan kepada mereka pasangan bidadari yang bermata indah”. (QS. 44/Ad- Dukhon: 54) “Kami berikan kepada mereka pasangan bidadari yang cantik bermata indah.” (QS. 52/Ath-Thur: 20)

Sebagaimana kehidupan di dunia, para penghuni surga pun mendapat makan dan minum, namun tidak pernah buang air besar atau kecil. Jabir ra. memberitahukan, Muhammad Rosulullah saw. bersabda, “Penduduk surga juga makan minum di dalamnya, namun mereka tidak meludah, tidak buang air besar atau kecil, dan tidak membuang ingus”. Sahabat bertanya, “Bagaimana makanan yang mereka makan ? ” Nabi saw. bersabda, “Keluar dari sendawa yang harumnya seperti kesturi. Mereka senantiasa bertasbih dan bertahmid sebanyak tarikan nafas kalian”. (HR. Muslim) Berikut ayat-ayat Al-Qur’an yang mengemukakan tentang kegiatan makan minum penghuni surga, antara lain:

=> mereka (penghuni surga) memperoleh buah-buahan dan apa yang mereka inginkan. (QS. 2/Al-Baqoroh: 25)

=> mereka menerima rezeki setiap pagi dan petang. (QS. 19/Maryam: 62-63)

=> mereka memperoleh ucapan “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang. (QS. 36/Ya Sin: 57-58)

=> piring-piring di surga terbuat dari emas. (QS. 43/Az-Zukhruf: 71- 72)

=> mereka (para penghuni surga makan minum dengan enak. (QS. 52/Ath-Thur: 19)

=> di surga ada pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya) (QS. 56/Al-Waqi’ah: 27-34)

=> di surga terdapat minuman air kafur. (QS. 76/Al-Insan: 5-6)

=> buah-buahan di surga mudah dipetik. ’’Dan naungan (pepo- honan)nya dekat di atas mereka dan dimudahkan semudah- mudahnya untuk memetik (buah)nya (QS. 76/Al Insan: 4)

=> bejana-bejana dan gelas-gelas di surga terbuat dari perak. (QS. 76/Al-Insan: 15-16)

=> di surga juga ada minuman jahe. (QS. 76/Al-Insan: 17-18)

=> di surga ada kebun-kebun dan buah anggur. (QS. 78/An-Naba’: 31-34)

=> di surga terdapat bermacam-macam daging yang diinginkan. (QS. 52/Ath-Thur: 22)

=> di surga boleh meminum minuman keras yang tidak mema- bukkan. (QS. 37/Ash- Shoffat: 45-47)

=> di surga terdapat sungai susu, madu, dan sungai arak serta berbagai macam buah-buahan. (QS. 47/Muhammad: 15)

>Sungai-sungainya.
“Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa: di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari susu yang tiada berubah rasanya, sungai-sungai dari khomr (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring.”(QS. Muhammad [47]: 15)

>Buah-buahannya tidak mengenal musim dan dapat dipetik dari dekat.
“Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa ialah (seperti taman), mengalir sungai-sungai di dalamnya; buahnya tak henti-henti dan naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertaqwa; sedang tempat kesudahan bagi orang-orang yang kafir ialah neraka.” (QS. ar-Ra’d [13]: 35)

>Peralatan makan dan minum.
“Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kaca, (yaitu) kaca-kaca (yang terbuat) dari perak yang telah diukur mereka dengan sebaik-baiknya.”(QS. al-Insan [76]: 15-16)

>Pakaian dan perhiasan.
“(Bagi mereka) surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas, dan dengan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera.”(QS. Fathir [35]: 33)

>Pembaringan mereka.
Di dalamnya ada pembaringan-pembaringan yang ditinggikan, gelas-gelas yang terletak (di dekatnya), bantal-bantal sandaran yang tersusun, dan permadani-permadani yang terhampar.”(QS. al-Ghasyiyah [88]: 13-16)

>Bidadari.
“Dan (di dalam surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik.”(QS. al-Waqi’ah [56]: 22-23)

>Memandang wajah Alloh Subhanahuwata’ala.
Rasululloh Sholallohu’alaihi wa sallam bersabda:

(( إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ يَقُوْلُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: تُرِيْدُوْنَ شَيْئًا أَزِيْدُكُمْ؟  فَيَقُوْلُوْنَ: أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوْهَنَا؟ أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ؟ فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ، فَمَا أُعْطُوْا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ ))

“Jika ahli surga telah masuk ke surga, maka Alloh berfirman: ‘Apakah kalian suka Aku tambahkan?’ Jawab mereka: bukankah telah Kau putihkan wajah–wajah kami, bukankah telah Kau masukkan kami ke dalam surga, bukankah telah Kau selamatkan kami dari neraka? Maka Alloh pun membuka tirai hijab-Nya, hingga wajahnya terlihat oleh mereka. Maka tidak ada sesuatu yang lebih mereka sukai daripada memandang wajah Rabb mereka.” (HR. Muslim)

Penghuni jannah kekal di dalamnya, tidak pernah sakit dan tidak akan mati, tidak beranjak usia mereka dari 33 tahun. Keringat mereka harum bak kesturi: tidak ada kesusahan sedikit pun juga. Mendapat kekuatan 100 orang dalam bersetubuh. Istri-istri mereka selalu gadis. Wanita dunia yang masuk surga lebih cantik dari bidadari. Sangat cinta hanya kepada suaminya saja. Hati dan matanya tidak menoleh kepada laki-laki lain.

Penghuni surga tidak ngantuk, tidak tidur, tidak buang kotoran apapun dan tidak bersedih sedikitpun. Kenikmatan jannah sungguh tiada taranya.
Wahai kaum muslimin…, ingatlah bahwa jalan menuju ke surga itu penuh onak dan duri. Rasululloh Sholallohu’alaihi wa sallam bersabda:

(( حُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ وَحُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ ))

“Neraka dikelilingi oleh syahwat (hawa nafsu) dan surga dikelilingi oleh kesulitan-kesulitan.” (HR. Muslim)

Karena itu bersabarlah dalam meniti jalan Alloh Subhanahuwata’ala yang lurus, yang akan mengantarmu ke surga-Nya yang kekal abadi. Sabar dalam menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya dan menerima qodar-Nya dengan penuh keridhoan.

Sumber : Pustaka>>Hikmah

Murka Alloh dan Hati Manusia Menurut Islam dan Kristen

“Marah” adalah salah satu sifat manusia. Artinya, suasana hati yang tidak nyaman karena sesuatu hal. “Murka” adalah sinonim dari kata “marah.” Tapi kedua kata ini mempunyai sedikit perbedaan. Kata “murka” biasanya digunakan untuk menggambarkan suasana hati seseorang yang kemarahan dan keberangannya sudah sangat mendalam.

Kitab Suci menyebutkan bahwa “murka” adalah salah satu atribut Allah.

Mengapa Allah Mempunyai Atribut Murka?
Kita mengenal Allah adalah Tuhan yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang. Bahkan Kitab Suci Allah mengatakan bahwa Allah adalah kasih, “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih” (Injil, Surat 1 Yohanes 4:8).

Dengan sifat-Nya yang adalah kasih, dapatkah Allah murka? Tentu bisa! Dalam surah Al-Fatihah ditulis “. . . . . . bukan (jalan) mereka yang dimurkai (‘alayhim gayril magdubi)” (Qs 1:7). Apa yang mengakibatkan murka (ghadhab) Allah? Menurut MQ Shihab, karena pelanggaran! (Tafsir Al-Mishbah, hal. 88).

Kenajisan Hati dan Murka Allah
Benar, Allah adalah Tuhan Maha Pengasih. Tetapi, Dia juga adalah Allah yang dapat murka. Kenajisan hati manusia karena dosa, adalah penyebab Allah murka.

Alkitab menekankan, Allah memperhatikan lebih dari pelanggaran. Allah melihat jauh lebih ke dalam hati. “Segala kecenderungan hatinya [manusia] selalu membuahkan kejahatan semata-mata” (Taurat, Kitab Kejadian 6:5). Nabi Besar Allah, Yeremia menggambarkan hati manusia sebagai sesuatu yang licik dan membatu (Kitab Nabi Yeremia, 17:9).

Dan Nabi Daud menulis, Allah memandang ke bawah dari sorga dan menyimpulkan bahwa semua manusia melakukan kejahatan (Kitab Mazmur 53:1-3). Isa Al-Masih menekankan, semua kejahatan ini datang dari dalam hati manusia (Injil, Rasul Markus 7:21-22).

Dapatkah Amal Ibadah Membersihkan Hati Manusia?
Kejahatan yang ada dalam hati manusia, mengakibatkan murka (ghadhab) Allah. Kejahatan itu tidak dapat dibersihkan dengan amal dan kegiatan agama. Nabi umat Muslim berkata, “Bukan amal seseorang yang memasukannya ke Surga atau melepaskannya dari neraka, termasuk juga aku, . . . .” (HSM 2412-2414).

Jelaslah, bahwa amal ibadah dan kegiatan agama tidak dapat membersihkan hati manusia. Juga, amal ibadah tidak dapat menghilangkan murka Allah.

Isa Al-Masih Memberi Hati Baru
Kitab Suci Allah menuliskan, “. . . darah Yesus . . . . menyucikan kita dari pada segala dosa. . . .  Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (Injil, Surat I Yohanes 1:7-9).

Hanya Isa Al-Masih, akibat penyaliban-Nya, dapat menghapus kejahatan ini dari hati manusia. Dia satu-satunya yang dapat memberi hati yang baru. Hati yang bersih dari pelanggaran dan terhindari dari murka Allah.

 

sumber: Dialog Agama