Ayo Mondok: Beberapa Alasan Pentingnya Belajar di Pesantren

 

Pondok pesantren pada awalnya di-setting sebagai lembaga pendidikan non-formal. Surau, Masjid dan pemondokan santri menjadi ruang aktifitas sentral para santri belajar ilmu. Ilmu yang dipelajari secara umum berkutat pada persoalan disiplin ilmu agama (baca; Islam), semisal fiqh, tasawwuf, nahwu, shorof, tauhid, tajwid dan semacamnya. Teks-teks yang jadi rujukan juga seputar kitab kuning klasik, sebuah karya cendikiawan Islam (Ulama) yang rata-rata ditulis pada abad pertengahan. Hal semacam itu membuat beberapa kalangan menjuluki kaum pesantren sebagai kaum tradisionalis.
Seiring berjalannya waktu, tuntutan zaman kian kompleks. Pesatnya keilmuan yang semakin spesifik serta perkembangan teknologi terus menuntut pesantren tetap bisa menjadi lembaga pendidikan yang selalu survive. Alhasil, pesantren juga membuka pendidikan umum mulai dari SD-MI, SLTP-MTs, SMA-SMK-MA-MAK, bahkan Perguruan Tinggi. Sungguh ini capaian yang luar biasa. Selain menjadi lembaga pendidikan agama, pesantren juga membuka ruang untuk siapa saja yang ingin memperdalami ilmu umum.
Keberadaan itu ternyata tidak membuat pesantren aman dalam memuluskan ajarannya. Munculnya pesantren-pesantren baru yang sebenarnya berada dalam naungan aliran Islam transnasional menjadi tantangan pesantren yang sudah lama ada. Pesantren baru muncul dengan mengedapankan ilmu umum semata, pengetahuan bahasa Inggris dan bahasa Arab menjadi tawaran untuk menarik animo para orang tua agar memondokkan anaknya di pesantrennya.
Gerakan “Ayo Mondok” yang dipelopori oleh Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU menjadi signal bahwa lembaga pendidikan pesantren bukan lembaga alternatif. Akan tetapi, pesantren dengan segala bentuknya merupakan lembaga unggulan. Memang, jika dilihat dari redaksi bahasa, gerakan tersebut seakan-akan hanya ajakan untuk orang tua agar memondokkan anaknya di pesantren. Ajakan tersebut diperuntukkan agar orang tua tidak memondokkan anaknya di pesantren yang salah. Karena, meskipun menempuh pendidikan di pesantren bukan jaminan mereka sudah berada di tempat yang benar. Jika pesantren yang ditempati berideologi Islam garis keras, maka sejatinya mereka tidak nyantri. Akan tetapi, mereka dididik untuk menjadi para “teroris” dengan alasan “jihad”. Setelah keluar sebagai alumni mereka malah mencoreng nama Islam itu sendiri. Untuk itulah, gerakan “Ayo Mondok” menjadi sebuah kampanye penting agar orang tua tidak salah menitipkan anaknya untuk belajar di pesantren.
Pentingnya Mondok
Banyak hal kenapa orang tua penting memondokkan anaknya di pesantren yang benar. Menurut pengalaman penulis sendiri, ada beberapa hal kenapa penting menempuh pendidikan di pesantren, tentunya pesantren yang berada di bawah asuhan kiai-kiai Nahdlatul Ulama (NU). Di antaranya pertama, pesantren NU memiliki sanad keilmuan yang jelas. Segala yang dipelajari di pesantren NU bisa dipertanggungjawabkan. Jika kita runtut, ilmu yang dikonsumsi alurnya jelas sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Oleh karenanya, kita tak perlu khawatir atas kebenaran ilmu yang dipelajari di pesantren NU. Karena itu sudah sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW yang besok bertanggung jawab dihadapan Allah Yang Maha Esa.
Kedua, pesantren mengajarkan kita untuk tidak berpikir oposisi-binner. Sebuah gaya berpikir yang selalu mempertentangkan setiap perbedaan. Tak heran, jika gerakan feminisme menjadi kekuatan matriarki yang menindas kaum lelaki, semisal. Atau sosialisme menentang otoriterianisme, lalu menjadi otoriterianisme dengan bentuk baru. Nah, di pesantren kita diajarkan bahwa perbedaan itu adalah sunnatullah. Perbedaan tidak perlu dipertentangkan, akan tetapi disikapi secara arif agar bisa berjalan beriringan.
Pelajaran sejarah yang bisa kita petik adalah saat terjadi perang sesama sahabat Rasulullah. Ketika beberapa kelompok memberi dukungan kepada salah satu sahabat, bahkan ada yang memilih menyalahkan keduanya. Ulama Ahlussunnah memilih tidak berkomentar. Diamnya Ahlussunnah bukan tanpa alasan, sikap diam tanpa komentar merupakan pernyataan tersirat bahwa keduanya sama-sama mempunyai dasar alasan atas perang yang mereka kobarkan. Keduanya sama-sama sahabat Rasulullah dan perbedaan pandangan itu hal yang biasa terjadi, tak terkecuali sahabat Nabi sendiri.
Ketiga, kita dikenalkan tentang konsep barokah. Dalam kehidupan pesantren, barokah menjadi hal penting yang dijadikan pegangan santri. Sering kali kita mendengar, setinggi apapun ilmu yang didapatkan jika tidak mendapatkan barokah Kiainya, maka ilmu yang didapat akan sia-sia. Dalam pandangan pesantren tabarrukan atau biasa disebut barokah mempunyai makna penambahan kebagusan dari Allah, ziyadatul khair. Artinya, setiap waktu semakin bertambah baik. Barokah merupakan sebuah kekuatan rasa yang dimiliki oleh Kiai dan dipercaya mampu melegitimasi ilmu yang diperoleh santri, manfaat atau tidak. Barokah tidak semata-mata bisa hadir dari seorang Kiai. Artinya, untuk mendapatkan titel bahwa seorang Kiai memiliki kekuatan barokah biasanya terletak pada sejauhmana Kiai tersebut memilki karomah.
Karomah sendiri merupakan sebuah pengetahuan yang telah mengkristal pada diri seorang Kiai. Tentunya, ilmu yang pernah dipelajarinya telah menyatu dengan dirinya. Nah, Kiai seperti ini akan terlihat begitu karismatik di depan santri-santrinya dan masyarakat pada umumnya. Ternyata, hal semacam ini tidak hanya diakui oleh kalangan pesantren. Seorang tokoh sosiologi, Max Weber juga mengakui akan kebenaran ini. Dalam menjelaskan rasionalisasi, Weber mengakui bahwa ilmu-ilmu sosial harus berkaitan dengan fenomena spiritual atau ideal. Alasannya, sebagai ciri-ciri khas dari manusia yang tidak berada dalam jangkauan bidang ilmu-ilmu alam. Nah, yang semacam ini dalam pesantren biasa disebut dengan barokah dan karomah. Sesuatu yang selama ini kita anggap mistis, ternyata hanya persoalan rasio akal belum mampu menjangkaunya. Sebenarnya ini adalah hal yang rasional, suatu saat bisa dibuktikan.
Keempat, dari pesantren kita akan diajarkan bagaimana bersosial. Tanpa disadari, dalam kehidupan santri menyimpan segudang pelajaran hidup. Hal sederhana, semisal bagaimana santri makan bersama dengan menggunakan talam. Dari situ kita bisa lihat, bahwa kebersamaan dalam pesantren itu sangat diutamakan. Tanpa melihat dari mana asalnya, miskin, kaya bahkan keturunannya. Pesantren tak pernah mengenal kasta, semua diperlakukan sama, santri.
Kelima, selain persoalan di atas, hal paling penting yang bisa didapat dari pesantren adalah “Akhlak”. Akhlak yang dimaksud di sini bukan sekedar persoalan etika semata. Karena etika lebih kepada persoalan pola sikap dan pola ucap. Semisal, seorang koruptor yang sosialnya bagus tidak bisa dikatakan berakhlak. Karena apa yang ia lakukan tidak sesuai dengan kebenaran hatinya.
Akan tetapi, akhlak jauh melampaui itu. Seseorang yang berakhlak, baik tindakan, perkataan, pikiran maupun perasaannya akan berjalan secara beriringan. Keempatnya tidak mungkin bertentangan. Contoh yang bisa kita ambil, ketika Nabi Muhammad SAW mengutuk seseorang yang munafik. Seperti kita mafhum, munafik adalah seorang yang ucapan dan tindakan, pikiran serta hatinya tidak sesuai. Dari contoh itu bisa kita petik, bahwa akhlak meliputi persoalan pola sikap, pola ucap, pola pikir dan pola rasa (hati). Bagaimanapun juga, Nabi Muhammad SAW diutus ke dunia, tak lain dan tak bukan untuk menyempurnakan akhlak manusia, Innama bu’itstu liutammima makarimal akhlaq.
Ini hanya sekelumit pengalaman dari penulis yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren. Tentu masih banyak hal lain yang bisa dijadikan alasan kenapa mondok (nyantri) itu penting. Ada segudang pelajaran dan pengalaman yang hanya bisa kita dapatkan dari pondok pesantren. Untuk itu, Ayo Mondok.
Sumber : NU Online

[/dropcap]

ETIKA BERPACARAN DAN BERMESRAAN

Topik ini termasuk paling penting bagi kaum muda mudi . Untuk itu, izinkan saya membahasnya secara jernih serta harus berusaha jujur dan terbuka terhadap hati nurani kita masing2.

Sudah tentu saya akan berhati-hati memasuki topik in isecara langsung.Sebagian muda-mudi pasti akan berkata”kami sudah tau apa yang akan diuraikan” sehingga tak mau membacanya sampai tuntas.

ISLAM DAN PACARAN

Apakah dalam islam ada dalil yang menunjukan bahwa pacaran itu haram? tentu saja ada dalam surah An-nisa ada ayat yang menyatakan itu;”Dan bukan pula wanita yang mengambil laki2 lain sebagai piaraan”. Artinya, seorang perempuan tidak boleh mempunyai hubungan pacaran dengan laki2 lain. Sebab,tabiat dan jiwa perempuan cepat hancur ketika hubunganya gagal. Ia merasa dirinyahina, hancur danjauh dari keluarga. Wanita yang menyembunyikan hubunganya dengan laki2 dan berdusta pada keluarganya, telah mengkhianati ayah dan ibunya. Apakah demikian caramu berbakti pada ayahmu yang telah bekerja keras membanting tulang untukmu?   Memang perempuan kehilangan banyak rasa malu saat masuk  dalam hubungan semacam ini.As mendapati dirinya melakukan suatu yang tidak pernah terbayang untuk melakukanya.  Lalu apakah hubungan apapun antara pria dan wanita tidak bermanfaat? Apakah mereka tidak boleh berkomunikasi satu sama lain? Apakah ketika pria dan wanita bertemu harus langsung berlindung pada Allah.

BAHAYA PACARAN

Diantaraaib jenis persahabatan ini adalah bahwa seorang bisa jadi berpacaran lebih dari satu atau limaorang sebelum menikah.Hal inilah yang membuat seorang tidak puas  terhsdap istrinya.Saat terjadi perselisihan ai berkata; pacarku dulu lebih baik, ia selalu perhatian, menyayangiku, dan sebagainya demikian pula sebaliknya.

Dalam hal ini setan turut ikut campur . Sebelum menikah hubungan keduanya selalu haram. Setan terus membuat mereka bahwa hubungan itu nikmat. Tentu saja sesudah menikah, kehidupan sihiasi cinta dan kasih sayang.Ini adalah sesuatu yang alamiah. Namun setan gelisah,ia berusaha untuk merusaknya . Sebab,dudah pasti ia senang pabila rumah tangga seorang hancur brantakan.Akhirnya sang pemuda mengarahkan perhatianya kapada sesuatu yang sebelumnya belum pernah terlintas..Demikian pula siwanita ia pun mempunyai kecenderungan yang sama.

AKIBAT PACARAN

Wanitalah yang mengalami kerugian paling besar akibat hubungan ini.Setidak tidaknya wanita akan merasa hina dan hancur.Ia tidak lagi menjadi wanita yang terpelihara  sebagai permata yang terpelihara oleh keluarganya.Saat ia mulai berpacaran ia mulai menjauh dari keluarganya. ia mulai berbohong dengan keluarganya, karna itulah ia banyak mendapat kesulitan. karna hubungan ”cinta” yang dijalaninya justru mendapat kerugian, kegelapan dankegelisahan dalam hati. Saya ingin mengungkapkan kerugian wanita akibat berpacaran dengan kata-kata sederhana;”Apakah ketika melarang hubungan semacam ini islam hendak menyudutkan mereka? ataukah dibalik larangan iti sda kemaslahatan untuk kita semua?!  95% hubungan semacam ini tidak berakhir dengan PERNIKAHAN, dengan demikian hati para wanita sangat sakit danpilu.Jika seorang laki2 saja terkadang merasa sakit hati dan merasa patah hati , apalagi wanita yang  memiliki perasaan lebih sensitif.

TAMAT……………………………………!!!!Image result for PACARAN

 

Kisah Nyata Mengharukan Seorang Siswi SMA dari Yaman

Pihak sekolah SMA Putri di kota Shan’a’ yang merupakan ibu kota Yaman menetapkan kebijakan adanya pemeriksaan mendadak bagi seluruh siswi di dalam kelas. Sebagaimana
yang ditegaskan oleh salah seorang pegawai sekolah bahwa tentunya pemeriksaan itu bertujuan merazia barang-barang yang dilarang di bawa ke dalam sekolah, seperti: telepon genggam yang di lengkapi dengan kamera, foto-foto, surat-surat, alat-alat kecantikan dan lain sebagainya. Yang mana seharusnya memang sebuah lembaga pendidikan sebagai pusat ilmu bukan untuk hal-hal yang tidak baik.

Lantas pihak sekolah pun melakukan sweeping di seluruh kelas dengan penuh semangat. Mereka keluar kelas, masuk kelas lain. Sementara tas para siswi terbuka di hadapan mereka. Tas-tas tersebut tidak berisi apapun melainkan beberapa buku, pulpen, dan peralatan sekolah lainnya. Semua kelas sudah dirazia hingga tersisa satu kelas terakhir, kelas dimana terdapat seorang siswi yang memulai menceritakan kisah ini.

Seperti biasa, dengan penuh percaya diri, tim pemeriksa masuk ke dalam kelas. Mereka lantas meminta izin untuk memeriksa tas sekolah para siswi di sana. Pemeriksaan pun di mulai..

Di salah satu sudut kelas ada seorang siswi yang dikenal sangat tertutup dan pemalu. Ia juga di kenal sebagai seorang siswi yang berakhlak sopan dan santun. Ia tidak suka berbaur dengan siswi-siswi lainny. Ia suka menyendiri, padahal ia sangat pintar dan menonjol dalam belajar.

Ia memandang tim pemeriksa dengan pandangan penuh ketakutan, sementara tangannya berada di dalam tas miliknya. Semakin dekat gilirannya untuk diperiksa, semakin tampak raut takut wajahnya. Apakah sebenarnya yang disembunyikan siswi tersebut dalam tasnya?

Tidak lama kemudian tibalah gilirannya untuk di periksa. Dia memegangi tasnya dengan kuat, seolah mengatakan demi Allah kalian tidak boleh membukanya! Kini giliran diperiksa. Dan dari sinilah dimulai kisahnya…

“Buka tasmu, wahai putriku..”

Siswi tersebut memandangi pemeriksa dengan pandangan sedih, iapun kini telah meletakkan tasnya dalam pelukan.

“Berikan tasmu..”

Ia menoleh dan menjerit, “Tidak…! Tidak…! Tidak…!!”

Perdebatan pun terjadi sangat tajam.

“Berikan tasmu..”

“Tidak…!”

“Berikan..”

“Tidak…!”

Keributan pun terjadi dan tangan mereka saling berebut. Sementara tas tersebut masih dipegang erat dan para guru belum berhasil merampas tas dari tangan siswi tersebut karena ia memeluknya dengan penuh kegilaan!

Spontan saja siswi itu menangis sejadi-jadinya. Siswi-siswi lain terkejut. Mereka melotot. Para guru yang mengenalnya sebagai seorang siswi yang pintar dan disiplin (bukan siswi yang amburadul), terkejut menyaksikan kejadian tersebut. Tempat itupun berubah menjadi hening. Ya Allah, apa sebenarnya yang terjadi dan apa gerangan yang ada di dalam tas siswi tersebut.

Setelah berdiskusi ringan, tim pemeriksa sepakat untuk membawa siswi tersebut ke kantor sekolah, dengan syarat jangan sampai perhatian mereka berpaling dari siswi tersebut supaya ia tidak dapat melemparkan sesuatu dari dalam tasnya sehingga bisa terbebas begitu saja. Merekapun membawa siswi tersebut dengan penjagaan yang ketat dari tim dan para guru serta sebagian siswi lainnya.

Siswi tersebut kini masuk ke ruangan kantor Kepala Sekolah, sementara air matanya mengalir seperti hujan. Siswi tersebut memperhatikan orang-orang di sekitarnya dengan penuh kebencian.

Karena perilakunya selama satu tahun ini baik dan tidak pernah melakukan kesalahan dan pelanggaran, maka Kepala Sekolah menenangkan hadirin dan memerintahkan para siswi lainnya agar membubarkan diri. Dan dengan penuh santun, kepala sekolah juga memohon agar para guru meninggalkan ruangannya sehingga yang tersisa hanya para tim pemeriksa saja.

Kepala Sekolah berusaha menenangkan siswi malang tersebut. Lantas bertanya padanya, “Apa yang engkau sembunyikan, wahai putriku..?”

Dalam sekejap siswi tersebut bersimpati kepada Kepala Sekolah dan bersedia membuka tasnya.

Ternyata…..

Di dalam tas tersebut tidak ada benda-benda terlarang atau haram, atau telepon genggam atau foto-foto. Demi Allah, itu semua tidak ada! Tidak ada dalam tas itu melainkan sisa-sisa roti. Yah, itulah yang ada dalam tas tersebut!

Setelah merasa tenang, siswi itu mulai bercerita:

“Sisa-sisa roti ini adalah sisa-sisa dari para siswi yang mereka buang di tanah, lalu aku kumpulkan untuk kemudian aku sarapan dengan sebagiannya dan membawa sisanya kepada keluargaku. Ibu dan saudari-saudariku di rumah tidak memiliki sesuatu untuk mereka santap di siang dan malam hari bila aku tidak membawakan untuk mereka sisa-sisa roti ini.

Kami adalah keluarga fakir yang tidak memiliki apa-apa. Kami tidak punya kerabat dan tidak ada yang peduli pada kami.

Inilah yang membuat aku menolak untuk membuka tas, agar aku tidak dipermalukan di hadapan teman-temanku di kelas, yang mana mereka akan terus mencelaku di sekolah, sehingga kemungkinan hal tersebut menyebabkan aku tidak dapat lagi meneruskan pendidikanku karena rasa malu. Maka saya mohon maaf sekali kepada Anda semua atas perilaku saya yang tidak sopan…”

Saat itu juga semua yang hadir menangis sejadi-jadinya, bahkan tangisan mereka berlangsung lama di hadapan siswi yang mulia tersebut. Maka tirai pun ditutup karena ada kejadian yang menyedihkan tersebut, dan kita berharap untuk tidak menyaksikannya.

 

*****

Ini adalah satu dari tragedi yang kemungkinan ada di sekitar kita, sementara kita tidak mengetahuinya atau bahkan kita terkadang berpura-pura tidak mengenal mereka.

Sebaiknya seluruh sekolah dan pesantren mendata kondisi ekonomi para siswa atau santri-santrinya agar orang yang ingin membantu keluarga fakir miskin dapat mengenalinya dengan baik

Posted By Phen Efendi on 02/03/15 | 20.19.

 

Dengan Sedekah, yang Sulit Menjadi Mudah

 

SUATU hari di sekitar tahun 2005 saya dan seorang kakak laki-laki sedang kehabisan uang dalam sebuah perjalanan menuju kost. Uang di dompet cuma tersisa satu lembar uang seribuan. Sedangkan, di saku kakak hanya ada selembar lima ribuan. Padahal untuk sampai ke kost kami harus naik angkot dua kali oper. Jelas uang yang ada tidak mencukupi untuk meneruskan perjalanan kami berdua. Meskipun digabungkan sekalipun. Kami berdua sempat duduk termenung di ruang tunggu sebuah terminal. Bingung sekaligus berfikir bagaimana caranya agar kami bisa sampai kost dengan selamat. Setelah merasa tidak mendapatkan jalan keluar, akhirnya kami berdua jalan kaki tak tentu arah.
Dalam situasi yang sempit itu kami terus memohon pada Allah Swt agar diberi jalan dan kemudahan. Karena kami sangat yakin dalam satu kesulitan pasti ada seribu kemudahan. Tak berapa jauh kami berjalan, kami menjumpai seorang pengemis yang duduk di pinggir emperan ( teras ) sebuah toko.
Pengemis tua seorang kakek-kakek dengan baju serta celana kumal, membawa tongkat dan memakai topi kusam duduk bersila. Di hadapannya dia letakkan sebuah kaleng bekas sabun colek yang terisi beberapa uang recehan. Pada saat kami jalan di depannya sontak kakak merogoh saku celananya dan mengeluarkan selembar uang lima ribuan lantas di masukkan ke dalam kaleng milik si kakek pengemis tadi. Saya sempat tegur setelahnya, kenapa dikasihkan ke orang padahal kita kan lagi dalam kesulitan. Tapi kakak tidak menanggapi, dari raut mukanya malah tampak tenang dan ada sebersit keyakinan di sana.
Tidak berapa lama tiba-tiba ada seseorang lagi-laki pengendara motor menyapa kakak. Ternyata teman kerja kakak. Akhirnya di situ kakak dan temannya berbincang sebentar. Di situ kami mendapatkan pertolongan, akhirnya kami bisa sampai ke kost dengan ongkos dipinjami oleh temannya kakak tadi. Suatu waktu kakak cerita katanya temannya mengikhlaskan uangnya dan tidak mau diganti.
Sahabat, sering kita berfikir jika bersedekah hanya di saat kita sedang mampu saja. Manakala keuangan sedang terjepit kita menganggap tidak perlu untuk bersedekah dengan alasan diri sendiri saja sedang sulit, jika harus bersedekah bagaimana nasib kita nanti. Rumus sedekah memang tidak bisa dilogika memakai ukuran manusia. Tapi Allah yang mengatur segalanya. Sedekah merupakan pintu kemudahan terhadap kesempitan yang sedang kita alami. Sebagaimana yang difirmankan Allah Swt :
“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rejekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah diberikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangam sesudah kesempitan,” (QS. Ath-Thalaq : 7).
Saat kita mengalami kesulitan entah itu terlilit hutang yang tiada habisnya, anak susah di atur, sakit yang tak kunjung sembuh, jodoh yang belum juga menghampiri dan berbagai masalah lain, cobalah untuk bersedekah. Sedekah itu merupakan obat mujarab menanggulangani segala kerumitan hidup. Sedekah juga merupakan bukti sejauh mana seorang hamba telah yakin dan percaya dengan janji yang diberikan Allah.
Bagi seseorang yang imannya kokoh dan tidak ada setitikpun keraguan, melakukan sedekah tidak akan melihat dirinya dalam keadaan lapang ( banyak uang/ harta ) ataupun sulit ( miskin ). Sedekah bukan memberikan sebagian rejeki kita ke orang lain tanpa arti. Di saat kita bersedekah Allah membuka pintu kemudahan selebar-lebarnya terhadap kesulitan yang sedang kita alami. Seberapapun besarnya kesulitan itu. Tapi bagaimana jika kita sedang tidak memiliki apapun untuk disedekahkan? Sedekah itu tidak hanya bersifat materi. Bahkan senyum kepada tetangga juga termasuk sedekah.
Berbuat kebaikan semaksimal yang kita mampu dengan menolong sesama yang membutuhkan tenaga kita juga merupakan sedekah. Apapun bentuk sedekah kita, maka Allah akan membalasnya dengan kemudahan-kemudahan yang barangkali di luar dugaan kita. []
Wallahu’alam bish shawab.

SOMBONG MEBUTAKAN HATI

Sombong adalah sebuah persaan hati, atau ucapan lisan atau perbuatan anggota badan manusia yang mencerminkan penolakan terhadap kebenaran dan penghinaan atas makhluk lain baik manusia, hewan, tumbuhan ataupun yang lainya

apa jadinya dunia ini jika semua orang menolak kebenaran(sombong). Bayangkan saja, jika tidak ada orang yang menerima kebenaran sudah dapat di pastikan kejahatan muncul dimana2 apalagi hanya masalah sepele, tidak mau di salahkan. Inilah kesombongan, dengan kesombongan seseorang  senantiasa merasa dirinya slalu berbuat benar walaupun sebenarnya berbuat salah.

Mari kita mengambil plajaran dari umat-umat terdahulu yang telah Allah kisahkan dalam  Al qur’an, semua kesesatan yang mereka alami, karna mereka menolak kebenaran .berikut kisahnya;

KAUM AD.

Kaum ad (kaum nabi Hud as) mereka menyombongkan diri di muka bumi ini tanpa mengindahkan kebenaran, dan mereka berkata; ”siapakah yang lebih kuat dari kami”. Tidakkah mereka perhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka tentulah lebih kuat dari mereka dan mereka mengingkari tanda2 kebesaran Allah.  dan akibatnya; ”maka kami tiupkan angin yang bergemuruh pada mereka dalam beberapa hari yang nahas agar kami membuat mereka merasakan siksaan kami yang menghinakan di dunia”(qs.fushilat;15)

KAUM NABI SYU’AIB

Para pemuka dari kaum nabi syuaib yang menyombongkan diri berkata; ”wahai syuaib,sungguh akan kami usir engkau bersama orang2 yang berimandari negri kami, kecuali engkau .kembali ke agama kami  dan akibatnya; ” lalu datanglah gempa  menimpa mereka dan mereka pun mati bergelimpangan didalam reruntuan rumah mereka”(qs. Al a’rof;91)

KAUM TSAMUD

orang2 yang menyombongkan diri berkata(kepada orang2 yang beriman terhadap kerosulan nabi soleh); ”sesungguhnya kami orang2 yang tidak percaya terhadap apa yang kamu sekalian imaniitu”(qs Al a’rof;76) lalu ahirnya mereka dengan sombongnya melanggar denagan menyembelih unta yang jadi bukti kebesaran Allah ta’ala. dan akibatnya; ” lalu datanglah gempa menimpa mereka,dan mereka pun mati bergelimpangan didalam reruntuhan rumah mereka”(qs Al a’rof;78)

Itulah beberapa kisah dalam al qur;an yang menunjukan bahwa salah satu penyebeb Allah mengadzab adalah kesombongan dalam menolak kebenaran.

KENAPA PERLUNYA BELAJAR ILMU NAHWU & SHOROF ?

Madrasah Muallimin Muallimat ini adalah Madrasah yang berlatar belakang mempelajari Ilmu agama yang bersumber dari kitab-kitab gundul secara langsung, seperti yang dilakukan ulama-ulama terdahulu, dan untuk bisa membaca kitb-kitab tsb, di perlukanlah faham tentang ilmu nahwu dan shorof. Berikut pembahasan MENGAPA PERLUNYA BELAJAR ILMU NAHWU DAN SHOROF ??

Nahwu dan shorof merupakan bahagian dari ‘Ulumul ‘Arabiyyah, yang bertujuan untuk menjaga dari kesalahan pengucapan mahupun tulisan. ‘Ulumul ‘Arabiyyah mengandungi 12 ilmu berdasarkan dari kitab al Kawakib ad-Durriyyah karangan Syeikh Muhammad bin Ahmad bin Abdulbari al-Ahdal yaitu :

“Ilmu Tashrif, Nahwu, Ma’aani, Bayan, Badi’, ‘Arudh, Qawaafi, Qawanain Kitabah, Qawanain Qira’at, Insya’ul Risalah wal Khitab, Muhadharah”.
Ilmu nahwu adalah ilmu yang membahaskan tentang aturan akhir struktur kalimah (kata) apakah berbentuk rafa’, nashab, jar, jazm,.

Sedangkan ilmu shorof adalah ilmu yang membahaskan tentang shighah (bentuk) kalimah Arab dan hal ihwalnya dari mulai huruf asli, tambahan, shohih, sampai kepada ‘illat-nya.

Dari kedua ilmu ini kita dapat memahami dan mempelajari teks-teks bahasa Arab yang termaktub dalam Alquran, Hadis, Syair-syair, serta qaul-qaul bijak para ulama’ terdahulu.

Sebagaimana telah berkata Umar bin Al-khathab: “Pelajarilah bahasa Arab kerana sesungguhnya bahasa Arab itu merupakan suatu bahagian dari bahasa kalian”

Seterusnya Imam Al-Qhazali berkata di dalam kitab Ihya’ Ulumuddin:

“Sesungguhnya bahasa Arab dan Nahwu adalah suatu sarana untuk mengetahui Alquran dan sunnah Nabi s.a.w. Keduanya bukanlah termasuk ilmu-ilmu syar’i akan tetapi wajib hukumnya mendalami kedua ilmu tersebut kerana syar’iah ini datang dengan bahasa Arab dan setiap syar’iah tidak akan jelas kecuali dengan suatu bahasa”.

Maka dengan hal tersebut, bertetapanlah dengan sebuah kaedah fiqiyyah :

مَا لاَ يَتِمَّ الْواجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبُ

Ertinya: “Tidak sempurna sesuatu kewajipan kecuali dengannya, maka ia dikira wajib”.

Disini penulis menganjurkan kepada diri sendiri dan saudara/i seagama yang berada di dalam menuntut ilmu agar mempelajari ilmu bahasa arab yang diantara pokoknya yaitu ilmu Nahwu dan Shorof kerana ada beberapa alasan dan pertimbangan-pertimbangan dimaksudkan adalah seperti berikut:

Untuk menjaga lisan dari kesalahan yakni bahasa arab adalah bahasa al-Quran dan Hadits, di mana keduanya adalah primer (pokok) ajaran Islam dan kandungan kedua sumber ajaran Islam ini harus diamalkan. Sehubung dengan itu, terdapat juga kitab-kitab yang ditulis oleh Para ulama’ sejak awal perkembangan Islam, di mana kitab-kitab ini merupakan khazanah ajaran-ajaran dan ilmu-ilmu tentang islam dan sebahagian besar dari kitab-kitab ini ditulis dalam bahasa Arab. Untuk boleh mengamalkan, kandungan pokok dan cabang dari pecahan pokoknya ajaran Islam ini – terlebih dahulu- haruslah difahami. kerana pokok dan cabangnya berlaku di dalam bahasa Arab, maka haruslah dipelajari dan dikuasai ilmu tentang bahasa Arab, diantaranya ilmu Nahwu dan Shorof. Alasan penulis mengatakan begitu kerana masa sekarang banyak yang kurang faham dengan masalah –masalah agama disebabkan mempelajarinya dari buku-buku terjemahan yang terkadang-kadang masih banyak kesalahannya daripada teks asalnya sehingga menyebabkan kesalahan penerapan tersebut dalam kehidupan seharian.

Akan lebih baik bagi kita untuk mempelajari ilmu agama langsung dari sumber yang menggunakan bahasa arab, dan untuk boleh berbahasa Arab yang merupakan bahasa Al-Quran kita harus melalui mempelajari ilmu Nahwu dan Shorof kerana keduanya adalah Bapa dan Ibunya ilmu. Sebagaimana kita ketahui dari nazham ini :

* الصرف أم العلوم * والنحو أبوها

Nah, itulah sekelumit pembahasan mengapa pentingnya belajar ilmu nahwu dan shorof,
Mudah-mudah diberi Taufik bagi sang penulis dan kepada kita didalam mempelajari bahasa Arab diantaranya ilmu Nahwu dan Shorof serta hal yang bersangkutannya.
Wallahu ‘alam..

 

Sumber: Muhammad Yasir

Sejarah NU (NAHDLATUL ULAMA) dan Aswaja di Bumi Nusantara

Berbicara tentang NU dan ASWAJA memang tidak akan pernah habis ceritanya. namun, kita sebagai warga Nahdhiyyin apakah mengerti tentang sejarah awal berdirinya di bumi nusantara ini. Berikut adalah sejarah singkat awal berdirinya NU dan Aswaja yang dapat saya rangkum dari beberapa Artikel yang pernah saya baca.

Nahdlatul Ulama adalah sebuah organisasi yang didirikan oleh para ulama dengan tujuan memelihara tetap tegaknya ajaran Islam Ahlussunah walJama’ah di Indonesia. Dengan demikian antara NU dan Aswaja mempunyai hubungan yang tidak dapat dipisahkan, NU sebagai organisasi / Jam ‘iyyah merupakan alat untuk menegakkan Aswaja dan Aswaja merupakan aqidah pokok Nahdlatul Ulama.

Ulama secara lughowi (etimologis / kebahasaan) berarti orang yang pandai, dalam hal ini ilmu agama Islam. Begitu berharganya seorang Ulama, sampai Nabi pernah bersabda yang artinya :
Ulama itu pewaris Nabi. Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dirham atau dinar, melainkan hanya mewariskan ilmu. Maka barang siapa mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang cukup banyak.
Di Indonesia, seorang Ulama diidentikkan atau biasa disebut Kyai, yang berarti orang yang sangat dihormati. Agar tidak gampang memperoleh gelar Ulama atau Kyai, maka ada 3 kriteria yaitu :
1. Norma pokok yang harus dimiliki oleh seorang Ulama adalah ketaqwaan kepada Allah SWT.
2. Seorang Ulama mempunyai tugas utama mewarisi misi (risalah) Rasulullah SAW, meliputi : ucapan, ilmu, ajaran, perbuatan, tingkah laku, mental dan moralnya.
3. Seorang Ulama memiliki tauladan dalam kehidupan sehari hari seperti : tekun beribadah, tidak cinta dunia, peka terhadap permasalahan dankepentingan umat & mengabdikan hidupnya di jalan Allah SWT.
4. Kyai Hasyim Asy’ari dan NU :
Pejuang Syari’ah Kiai Hasyim Asy’ari yang lahir di Pondok Nggedang, Jombang, Jawa Timur, 10 April 1875 tidak lepas dari nenek moyangnya yang secara turun-temurun memimpin pesantren. Ayahnya bernama Kiai Asy’ari, pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Kakeknya, Kiai Ustman, terkenal sebagai pemimpin Pesantren Gedang, yang santrinya berasal dari seluruh Jawa, pada akhir abad 19. Ayah kakeknya, Kiai Sihah, adalah pendiri Pesantren Tambakberas di Jombang. Sejak kecil hingga berusia empat belas tahun, putra ketiga dari 11 bersaudara ini mendapat pendidikan langsung dari ayah dan kakeknya, Kyai Utsman. Hasratnya yang besar untuk menuntut ilmu mendorongnya belajar lebih giat dan rajin. Tak puas dengan ilmu yang diterimanya, sejak usia 15 tahun, ia berkelana dari satu pesantren ke pesantren lain; mulai menjadi santri di Pesantren Wonokoyo (Probolinggo), Pesantren Langitan (Tuban), PesantrenTrenggilis (Semarang), dan Pesantren Siwalan, Panji (Sidoarjo). Pada tahun 1892, Kiai Hasyim Asy’ari menunaikan ibadah haji dan menimba ilmu di Makkah. Di sana ia berguru kepada Syaikh Ahmad Khatibdan Syaikh Mahfudh at-Tarmisi, gurunya di bidang hadits. Dalam perjalanan pulang ke Tanah Air, ia singgah di Johor, Malaysia, dan mengajar di sana. Pulang ke Indonesia tahun 1899, Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan pesantren di Tebuireng yang kelak menjadi pesantren terbesar dan terpenting di Jawa pada Abad 20. Sejak tahun 1900, Kiai Hasyim Asy’ari memposisikan Pesantren Tebuireng sebagai pusat pembaruan bagi pengajaran Islam tradisional. Di pesantren itu bukan hanya ilmu agama yang diajarkan,tetapi juga pengetahuan umum. Para santri belajar membaca huruf latin, menulis dan membaca buku-buku yang berisi pengetahuan umum, berorganisasi dan berpidato.Tanggal 31 Januari 1926, bersama dengan tokoh-tokoh Islam tradisional, Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdlatul Ulama, yang berarti kebangkitan ulama.

Organisasi ini berkembang dan banyak anggotanya. Pengaruh Kiai Hasyim Asy’ari pun semakin besar dengan mendirikan organisasiNU, bersama teman-temannya. Itu dibuktikan dengan dukungan dari ulama di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Cikal-bakal berdirinya perkumpulan para ulama yang kemudian menjelma menjadi Nahdhatul Ulama(Kebangkitan Ulama) tidak terlepas darisejarah Khilafah. Ketika itu, tanggal 3 Maret 1924, Majelis Nasional yang bersidang di Ankara mengambil keputusan,
Khalifah telah berakhir tugas-tugasnya. Khilafah telah dihapuskan karena Khilafah, pemerintahan dan republik, semuanya menjadi satu gabungan dalam berbagai pengertian dankonsepnya.

Keputusan tersebut mengguncang umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Untuk merespon peristiwa itu, sebuah Komite Khilafah(Comite Chilafat ) didirikan di Surabaya tanggal 4 Oktober 1924 dengan ketua Wondosudirdjo (kemudian dikenal dengan nama Wondoamiseno) dari SarikatIslam dan wakil ketua KH A. Wahab Hasbullah dari golongan tradisi (yang kemudian melahirkan NU). Tujuannya untuk membahas undangan kongres Kekhilafahan di Kairo(Bandera Islam,16 Oktober 1924). Kemudian pada Desember 1924 berlangsung Kongres al-Islam yang diselenggarakan oleh Komite Khilafah Pusat (Centraal Comite Chilafat ). Kongres memutuskan untuk mengirim delegasi ke Konferensi Khilafah di Kairo untuk menyampaikan proposal Khilafah. Setelah itu, diadakan lagi Kongres al-Islam di Yogyakarta pada 21-27 Agustus 1925. Topik Kongres ini masih seputar Khilafah dan situasi Hijaz yang masih bergolak. Kongres diadakan lagi pada 6 Februari 1926 di Bandung; September 1926 di Surabaya, 1931, dan 1932. Majelis Islam A’la Indonesia(MIAI) yang melibatkan Sarikat Islam (SI), Nahdhatul ulama (NU), Muhammadiyah dan organisasi lainnya menyelenggarakan Kongres pada 26 Februari sampai 1 Maret 1938 di Surabaya. Arahnya adalah menyatukan kembali umat Islam. Meskipun pada awalnya, Kongres Al-Islam merupakan wadah untuk mengatasi perbedaan, pertikaian dan konflik di antara berbagai kelompok umat Islam akibat perbedaan pemahaman dan praktik keagamaan menyangkut persoalan Furu’iyah(cabang), seperti dilakukan sebelumnya pada Kongres Umat Islam (Kongres al-Islam Hindia) di Cirebon pada 31 Oktober – 2 November 1922. Namun, pada perkembangan selanjutnya, lebih difokuskan untuk mewujudkan persatuan dan mencari penyelesaian masalah Khilafah.

Lahirnya NU sendiri, yang merupakan kelanjutan dari Komite Merembuk Hijaz, yang tujuannya untuk melobi Ibnu Su’ud, penguasa Saudi saat itu, untuk mengakomodasi pemahaman umat yang bermazhab, jelas tidak terlepas dari sejarah keruntuhan Khilafah. Ibnu Su’ud sendiri adalah pengganti Syarif Husain, penguasa Arab yang lebih dulu membelot dari Khilafah Utsmaniyah. Jadi, secara historis lahirnya NU tidak terlepas dari persoalan Khilafah. Di sisi lain, NU sejak kelahirannya tidak berpaham sekular dan tidak pula anti formalisasi. Bahkan NU memandang formalisasi syariah menjadi sebuah kebutuhan. Hanya saja, yang ditempuh NU dalam melakukan upaya formalisasi bukanlah cara-cara paksaan dan kekerasan, tetapi menggunakan cara gradual yang mengarah pada penyadaran. Hal ini karena sepak terjang NU senantiasa berpegang pada kaidah fiqhiyah seperti:
ma la yudraku kulluh la yutraku kulluh
(apa yang tidak bisa dicapai semua janganlah kemudian ditinggalkan semua);
dar al-mafasid muqaddamun ‘ala jalb al-masholih
(mencegah kerusakan lebih didahulukan daripada mengambil kemaslahatan).
Sejarah NU menjadi bukti bahwa sejak kelahirannya NU justru Concern pada perjuangan formalisasi Islam.

KESIMPULAN
Melacak akar-akar sejarah munculnya istilah ahlul sunnah waljamaah, secara etimologis bahwa aswaja sudah terkenal sejak Rosulullah SAW. Sebagai konfigurasi sejarah, maka secara umum aswaja mengalami perkembangan dengan tiga tahap secara evolutif.
Pertama, tahap embrional pemikiran sunni dalam bidang teologi bersifat eklektik, yakni memilih salah satu pendapat yang dianggap paling benar. Pada tahap ini masih merupakan tahap konsolidasi, tokoh yang menjadi penggerak adalah Hasan Al-Basri (110 H/728 M).
Kedua, proses konsolidasi awal mencapai puncaknya setelah Imam Al-Syafi’i (205 H/820 M) berhasil menetapkan hadits sebagai sumber hukum kedua setelah Al- qur’an dalam konstruksi pemikiran hukum Islam. Pada tahap ini, kajian dan diskusi tentang teologi sunni berlangsung secara intensif.
Ketiga, merupakan kristalisasi teologi sunni disatu pihak menolak rasionalisme dogma, di lain pihak menerima metode rasional dalam memahami agama. Proses kristalisasi ini dilakukan oleh tiga tokoh dan sekaligus ditempat yang berbeda pada waktu yang bersamaan, yakni; Abu Hasan Al-Asy’ari (324 H/935 M)di Mesopotamia, Abu Mansur Al-Maturidi (w.331 H/944 M) diSamarkand, Ahmad Bin Ja’far Al-Thahawi (331 H/944 M) di Mesir. Pada zaman kristalisasi inilah Abu Hasan Al-Asy’ari meresmikan sebagai aliran pemikiran yang dikembangkan. Dan munculnya aswaja ini sebagai reaksi teologis-politis terhadap Mu’tazilah, Khowarij dan Syi’ah yang dipandang oleh Asy’ari sudah keluar dari paham yang semestinya. Lain dengan para Ulama NU di Indonesia menganggap aswaja sebagai upaya pembakuan atau menginstitusikan prinsip-prinsip tawasuth(moderat), tasamuh (toleran) dan tawazzun (seimbang) serta ta’addul (Keadilan). Perkembangan selanjutnya oleh Said Aqil Shiroj dalam mereformulasikan aswaja sebagai metode berfikir (manhaj al-fikr) keagamaan yang mencakup semua aspek kehidupan yang berdasarkan atas dasar modernisasi, menjaga keseimbangan dan toleransi, tidak lain dan tidak bukan adalah dalam rangka memberikan warna baru terhadap cetak biru (blue print) yang sudah mulai tidak menarik lagi dihadapan dunia modern

Post under category Akidah, Ilmu Pengetahuan dan Islam Tags: 10 April 1875 tidak lepas dari nenek moyangnya yang secara turun-temurun memimpin pesantren. Ayahnya bernama Kiai Asy’ari, adalah pendiri Pesantren Tambakberas di Jombang. Sejak kecil hingga berusia empat belas tahun, ajaran, dalam hal ini ilmu agama Islam. Begitu berharganya seorang Ulama, ia berkelana dari satu pesantren ke pesantren lain; mulai menjadi santri di Pesantren Wonokoyo (Probolinggo), ilmu, Jawa Timur, Jombang, Kiai Sihah, Kiai Ustman, Kyai Utsman. Hasratnya yang besar untuk menuntut ilmu mendorongnya belajar lebih giat dan rajin. Tak puas dengan ilmu yang diterimanya, maka ada 3 kriteria yaitu : Norma pokok yang harus dimiliki oleh seorang Ulama adalah ketaqwaan kepada Allah SWT. Seorang Ulama mempunyai tugas utama mewarisi misi (risalah) Rasulullah SAW, melainkan hanya mewariskan ilmu. Maka barang siapa mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang cukup banyak. Di Indonesia, meliputi : ucapan, mental dan moralnya. Seorang Ulama memiliki tauladan dalam kehidupan sehari hari seperti : tekun beribadah, Nahdlatul Ulama adalah sebuah organisasi yang didirikan oleh para ulama dengan tujuan memelihara tetap tegaknya ajaran Islam Ahlussunah walJama’ah di Indonesia. Dengan demikian antara NU dan Aswaja me, NU sebagai organisasi / Jam ‘iyyah merupakan alat untuk menegakkan Aswaja dan Aswaja merupakan aqidah pokok Nahdlatul Ulama. Ulama secara lughowi (etimologis / kebahasaan) berarti orang yang pandai, pada akhir abad 19. Ayah kakeknya, peka terhadap permasalahan dankepentingan umat & mengabdikan hidupnya di jalan Allah SWT. Kyai Hasyim Asy’ari dan NU : Pejuang Syari’ah Kiai Hasyim Asy’ari yang lahir di Pondok Nggedang, pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Kakeknya, perbuatan, Pesantren Langitan (Tuban), PesantrenTrenggilis (Semarang), putra ketiga dari 11 bersaudara ini mendapat pendidikan langsung dari ayah dan kakeknya, sampai Nabi pernah bersabda yang artinya : Ulama itu pewaris Nabi. Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dirham atau dinar, sejak usia 15 tahun, SEJARAH NU(NAHDLATUL ULAMA) DAN ASWAJA DI BUMI NUSANTARA, seorang Ulama diidentikkan atau biasa disebut Kyai, terkenal sebagai pemimpin Pesantren Gedang, tidak cinta dunia, tingkah laku, yang berarti orang yang sangat dihormati. Agar tidak gampang memperoleh gelar Ulama atau Kyai, yang santrinya berasal dari seluruh Jawa.

 

 

 

Al-Maghfurlah KH. Mochammad Masruri Abdul Mughni

Dilahirkan di desa Benda, 23 Juli 1943, Abah Yai Masruri adalah alumnus Pondok Pesantren Tasik Agung Rembang asuhan KH. Sayuthi dan KH. Bisri dan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang. Selain nyantri di kedua pesantren tersebut, Abah juga aktif bertabarukan di berbagai pesantren tanah air, satu diantaranya adalah di Pondok Pesantren hadratusyaikh Hasyim Asy’ari, Tebu Ireng Jombang Timur.

Abah yang memiliki nama lengkap Mochammad Masruri Abdul Mughni adalah putra pertama dari dua bersaudara pasangan H. Abdul Mughni dan Hj. Maryam. Dari garis nasab, Abah adalah cucu dari KH. Cholil bin Mahalli, salah seorang muassis (pendiri) Pondok Pesantren Al Hikmah.

Sejak kecil, Abah sudah mendapatkan tarbiyyah langsung dari kedua orang tuanya juga kakeknya sendiri KH. Kholil bin Mahalli dan juga KH. Suhaemi bin Abdul Ghoni (putra kakak KH. Cholil)

Sejak muda, Abah dikenal telah memiliki jiwa kepemimpinan dan selalu dituakan oleh orang- orang disekitarnya. Di pesantrennya Tambak Beras dalam usia yang relatif muda, beliau telah didaulat oleh para masyakikh untuk menjadi qori’ ( membacakan kitab untuk santri).

Dalam kesehariannya, Abah adalah seorang murabbi (pendidik) yang alim, murah senyum, pembawaanya luwes, memiliki tanggung jawab tinggi, dekat dengan semua orang dan penuh dengan keteladanan. Bagi Abah Yai, transformasi ilmu tak hanya sebatas teoritikal belaka, tapi setiap ilmu mesti diajarkan lewat keteladanan nyata.Para santri saban hari menjadi saksi, bagaimana keteladanan sosok Abah dalam setiap sendi kehidupan Beliau. Abah selalu berupaya memberikan teladan pertama dalam setiap hal, besar ataupun kecil.

Abah adalah seorang yang tak pernah lelah berjuang untuk umat. Setiap detak waktu, Beliau gunakan untuk berjuang di jalan Allah. Di tengah padatnya jadwal, sebagai Rais Syuriah NU Jawa Tengah, pengurus Majelis Ulama Indonesia, Ketua MUI Brebes, dan ketua dewan pengawas Masjid Agung Jawa Tengah ( MAJT), Abah selalu mengedepankan keistiqomahan dalam mendidik para santrinya.

Setiap hari hingga menjelang tengah malam beragam berbagai fan kitab Beliau ajarkanmulai dari tafsir, fiqh, akhlak, ilmu Al Qur’an, faraid, hingga tasawwuf. Dalam setiap pengajiannya, tak pernah terbersit kesan capek dan lelah dari seorang Abah. Meski baru sepulang dari bepergian sekalipun, Abah selalu terlihat bersemangat dalam membawakan kitab yang diajarkannya.

Abah seakan ingin memberikan teladan langsung bagi para santrinya tentang arti dan makna hidup yang seberanya. Seperti yang sering Beliau utarakan di depan ribuan para santrinya ” Innal Hayata ’Aqidatun Wajihadun”. Makna hidup adalah aqidah dan perjuangan. Aqidah Islam yang benar dan mesti diperjuangkan sepanjang hayat dengan mengisi kehidupan untuk mencari ridha Allah Subhanu Wata’ala semata.

Dalam tataran sosial kemasyarakatan, Abah adalah seorang yang memiliki pembawaan luwes, hangat, dan mampu dekat dengan semua orang. Setiap tamu yang datang di ndalem, jika Abah tidak sedang bepergian pasti ditemui. Beliau sambut dengan ramah dan penuh kehangatan pukul berapapun juga. Abah selalu berusaha nglegakke tamunya. Abah pun tak segan untuk mengajak setiap tamuanya bersantap bersama di meja makan beliau, jika si tamu kebetulan datang di waktu santap.

Sebagai ayah bagi keluarga dan ribuan santrinya, kasih sayang Abah terhadap santri- santrinya tak pernah surut. Setiap santrinya, baik yang masih berada di Pesantren ataupun telah muqim seakan bisa selalu dekat dan merasakan kasih sayang Abah. Pada beberapa kesempatan lawatannya ke berbagai kota, dalam dan luar negri, Abah selalu menyediakan waktu untuk menjenguk para santrinya. Setahun sekali setiap tanggal 5 Syawal ribuan santrinya dapat berdialog langsung dengan Beliau di pertemuan alumni. Dalam acara itu, Abah dengan senang hati menerima “curhat” keluh kesah para santrinya yang telah berjuang di masyarakat.

Pun demikian, sejatinya kasih sayang Abah pada santrinya tak terbatas oleh ruang dan waktu. Jauh dari itu, Abah selalu menekankan setiap santrinya untuk mengamalkan setiap ilmu yang telah didapatkannya, agar menjadi pribadi yang shaleh dan selamat dunia akhirat. Seperti salah satu ndawuh Abah bagi setiap santrinya untuk menghafal dan mendawamkan pembacaan surat Al–Mulk (Tabarak). Sebagaimana keterangan dalam sebuah bahwa hadist bahwa siapa saja yang melanggengkan membaca surat ini, maka Al Mulk akan menjadi pembelanya dari azab kubur, menjadi syafa’at sehingga diampuni dosanya oleh Allah, dan dikeluarkan Allah SWT dari neraka sehingga dimasukkan kedalam surga. Dalam satu kesempatan di hadapan santrinya, Abah Yai pernah berkata bahwa surat menghafal surat Al Mulk adalah utang setiap santri pada Abah. Utang yang jika tidak dibayarkan (dengan menghafal) akan terus dipertanyakan oleh Abah bahkan hingga di akhirat nanti.

Penggagas Beasiswa Falak

Terhadap perkembangan keislaman nusantara, Abah Yai pun secara khusus menaruh perhatiannya. Melihat minimnya generasi muda Islam yang di bidang falak, tahun 2005 bertempat di Pondok Pesantren Al Hikmah, Abah Yai mengadakan pelatihan falak khusus untuk beberapa pesantren dan kepala kantor urusan agama (KUA). Pelatihan ini diadakan atas dasar keprihatinan Abah terhadap minimnya pengetahuan dan ketersediaan ahli falak di masyarakat Islam. Karena dianggap sukses dalam pelatihan itu, akhirnya Abah mencoba mengadakan pelatihan Falak kembali dengan sasaran pesantren dan Kiai se Jawa Tengah.

Pada waktu itu keinginnannya untuk memadukan antara ahli falak Indonesia dengan beberapa ahli falak dari luar, mulai menampakkan hasil. Dalam acara acara pelatihan ini hadir pula tokoh Kemenag, diantaranya Amin Haedari yang saat itu menjabat sebagai direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren ( PD Pontren), Kakanwil Depag Jawa Tengah Habib Toha, Kepala Badan Hisab Rukyat Jawa Tengah Slamet Hambali, serta ahli Falak IAIN Walisongo Ahmad Izzuddin, dan masih beberapa tokoh lain.

Dari sinilah, kemudian beberapa tokoh ini akhirnya mengusulkan kepada Amin Haedari untuk membuka program beasiswa khusus ilmu Falak yang saat ini dikonsentrasikan di IAIN Walisongo Semarang.

Berpulang Ke Rahmatullah

Innaalillahi wainnaailahi roji’un. Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Berangkat bersama keluarga dan rombongan terbang (Kloter) 49 Embarkasi SOC (Solo) bersama 400-an jamaah lainnya untuk menunaikan ibadah haji, Abah Yai Mochammad Masruri Abdul Mughni dipanggil Allah SWT untuk berpulang kepada-Nya.

Setelah melaksanakan shalat Arba’in di Masjid Nabawi, kamis malam (17/11 ) Abah Yai merasakan kecapaian. Petugas pun kemudian membawa Abah ke Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) di Madinah. Karena kondisinya terus menurun, akhirnya petugas melarikan ke Rumah Sakit Al-Anshor . Sabtu pagi, Kondisi Abah sempat membaik, bahkan selang ventilator yang terpasang dilepas oleh tim dokter.

Namun, Sabtu malam pukul 23.00 WSA (Waktu Saudi Arabia) kondisi Abah kembali menurun.. Di rumah sakit tersebutlah, di tanah suci Madinah Al Munawwarah, Romo KH. Moch Masruri Abdul Mughni dipanggil ke haribaan Allah Subhanuwata’ala Ahad pagi (20/11) pukul 00.15 Waktu Arab Saudi (WAS) atau pukul 04.15 WIB. Abah meninggal dalam usia 68 tahun.

Setelah dishalati di Masjid Nabawi selepas shalat shubuh, atas permintaan Abah sendiri jenazah Beliau disemayamkan di komplek pemakaman Baqi’ di dekat masjid Nabawi bersama istri, para sahabat Rasulullah dan para masyayikh.

sumber : Alhikmahdua.net

Musafir Cilik

Ayah…Ibu…kapan ku bisa bertemu kalian lagi ?
Ayah…. Karenaku nyawamu melayang, andai peluru itu membelokan arahnya pasti tak mengenaimu dan sampai saat ini kau baik-baik saja. Kau memang Ayah yang baik, rela mengorbankan nyawanya demi anak nakal sepertiku, aku sangat berdosa padamu Ayah…… Ayah maafkan anakmu ini ?

Ibu……
Karena aku kau diasingkan jauh dariku, karenaku kau menderita karna aku juga kau kehilangan Ayah. Aku memang anak yang tak berguna hanya bisa menyusahkan orang tua. Ibu…. Aku ingin bertemu denganmu ?maafkan kesalahan anakmu ini Ibu….

Anak laki-laki dekil itu melangkah dan terus melangkah. Ia mengenakan celana selutut yang warnanya putih dekil, bagian atasnya tak mengenakan apa-apa, hanya dikepala ia menutupi rambut ikalnya dengan peci yang warnanya tak jauh beda dari celana dekilnya. Kakinya tak beralaskan sandal apalagi sepatu. Badannya yang kurus- kering membuat orang-orang iba melihatnya. Tapi, apakah ada yang iba pada anak yatim malang itu? sedangkan dia berada ditengah hutan yang jauh dari warga. Tapi dia bersyukur karena lolos dari tangan jahat Belanda, kalau saja dia tertangkap. Hari ini, jam ini, menit ini juga ia telah tercatat menjadi salah-satu anggota pekerja Rodi. Dimana kerja paksa itu sangatlah berat, tak ada istirahat. Tapi, disisi lain dia juga bersedih karena berpisah dengan Pak Bupati yang baik hati, yang selalu mengajarinya menulis, membaca juga berhitung. Dari Pak Bupatilah dia bisa menulis surat untuk Ayah dan Ibunya.

Namanya Sunyono anak kecil yang ditinggal mati Ayahnya karena tertembak tentara Belanda, yang ditinggal Ibunya karena diasingkan jauh di Bangka. Kini dia sebatang kara, hidup tanpa tujuan. Tapi walau dia baru berumur 10 tahun dia punya satu kepercayaan yang tak terkalahkan oleh semua orang. Suatu kemantapan yang tertanam dalam hati yang diajarkan Ayah dan Ibunya. Walau dia tak membawa mushaf dia selalu mengalunkan ayat-ayat suci dimana saja. Karena ia yakin Allah SWT melindunginya. Dia hanya membawa sehelai kertas lecek dan pensil pendek yang mulai tumpul pemberian Pak Bupati. Dikertas itulah dia mencurahkan isi hatinya merindukan Ayah dan Ibu juga hal-hal baru yang tengah dialaminya.

Hutan!!!!! Baru kali ini ia menapakkan kakinya dihutan. Hutan yang menurutnya seram, yang banyak memakan manusia, yang hanya dihuni oleh hewan-hewan buas, pohon-pohon yang tinggi, akar-akar raksasa juga ranting-ranting yang bergelantungan semaunya. Apa benar hutan ini menyeramkan ? Untung Sunyono punya kemantapan, jangan menyerah sebelum mencoba, jangan putus asa sebelum membuktikannya.
Sunyono buka hutan itu, ia langkahkan kakinya diatas akar-akar raksasa yang menghalangi kakinya, ia merunduk-runduk melewati ranting-ranting liar yang memergokinya, ia memandang pohon-pohon besar yang menjadikannya teramat kecil, ia dengarkan suara yang bersahutan yang membawanya seakan pada keramaian. Sunyono pasrah, tapi tetap berdo’a, berharap tak terjadi apa-apa pada dirinya. Karna ia selalu ingat dimana, kapan saja Allah SWT pasti melindunginya.

Cuaca hari itu belum terasa panas, jendela hutan mulai terbuka menampakkan sinar yang terang. Pohon-pohon yang rimbun daunnya memulai kegiatan fotosintesisnya membuat Sunyono yang duduk bersandar dibawahnya terasa sejuk, karena lambaian daun-daun yang segar itu. Berapa langkah didepannya bunga-bunga liar mulai merekah menyebarkan bau semerbak mengundang para kumbang menghinggapinya. Suara burung-burung walet yang terdengar begitu damai menelusuri cakrawala timur. Suasana yang jarang dirasakannya. Biasanya pagi ini, warga desa telah sibuk dengan kerja paksanya, tak sedikit wanita yang diseret-seret ditengah jalan, mahkota panjang yang indah dijambaknya seenaknya saja. Mayat-mayat banyak tergeletak, sungguh suasana yang memilukan membuat orang-orang trauma mengingatnya. Apalagi bagi anak kecil seperti Sunyono, pasti ia sangat tertekan, hatinya diluputi kesedihan yang berantai sukar dilupakan.

Perjalanan yang dimulainya ba’da subuh lalu merupakan rintangan sulit baginya. Hawa dingin dan rasa takut menggelugutinya, bulu kuduknya terasa merinding, apalagi waktu ia mulai masuk hutan, suara yang mengerikan menyambutnya, bunga-bunga liar yang tumbuh dimana-mana memamerkan panoramanya. Kakinya tak sanggup melangkah tatkala ia lihat ular besar yang melilit dipohon raksasa. Ular itu mendesis, menjulurkan lidahnya dan mutiara matanya tajam menatap kearah nya. Sunyono seperti patung hidup untuk beberapa menit. Dimenit selanjutnya, dia bersyukur karena ular besar itu tak jadi memangsanya, mungkin ular itu menyadari Sunyono terlalu kecil baginya. Sunyono melanjutkan langkahnya memasuki hutan yang lebih dalam dan…..dibalik ranting-ranting yang bergelantungan, kawanan kera tengah asyik berayun kesana- kemari. Dia kembali terdiam, langkahnya kini dihalangi kawanan Kera yang kelihatannya ganas-ganas. Sunyono membalikan langkahnya duduk dan bersandar dibawah pohon rindang yang menurutnya aman untuk berteduh. Dibawah pohon beringin raksasa itulah Sunyono mulai menulis surat untuk Ayah dan Ibunya, menunggu kawanan Kera berlalu dari pandangannya. Setengah jalan Sunyono menulis, kawanan Kera tak terlihat batang hidungnya, berfikir sudah cukup aman dia melanjutkan langkahnya memijakan kakinya diatas akar-akar raksasa, dan sampailah Sunyono dijantung hutan, dimana sekarang dia sedang duduk mengenang perjalanan hidupnya.

Nampaknya pohon-pohon jati mulai meranggaskan daun-daunnya. Hutan mulai ramai dengan suara-suara yang jauh terdengar. Burung Elang mulai terbang rendah meninggalkan sarangnya. Kicauan burung mulai bersahutan didahan pohon-pohon, suasana hutan mulai ramai tapi Sunyono tak merasa ketakutan.Karena ia teguh dengan pendiriannya.
Anak kecil itu hanyut dalam lamunanya. Bayangan Ayah dan Ibunya memenuhi alam pikirannya. Tampak sajadah suci di bentangkan di depannya, lambaian halus mengantarnya menuju tempat dimana ia biasa berwudhu. Kerekan timba terdengar jelas di telinganya, kucuran air wudlu mengalir dengan derasnya. Dia berwudlu, membasuh anggota yang wajib dibasuh sebanyak tiga kali. Air kucuran itu mulai surut, dia membaca do’a semestinya dan kembali melangkahkan kakinya menuju tempat suci dimana sajadah yang biasa di pakainya di bentangkan….
“Astaghfirulloh hal a’dzim…..”
Sunyono terjaga dalam lamunanya, wajahnya yang kusut tak di sadari penuh dengan balutan air mata, ia menengok kekanan, kekiri dan kakinya mulai melangkah ia tampak bingung,entah apa yang dia cari. Sunyono melangkah ke pinggir hutan tapi akhirnya dia memasuki hutan lagi, mungkin kalau di waktu dua jam lebih dia berlari-lari dari hutan ke pinggir ke hutan lagi, kepinggir dan titik akhirnya ia berdiri dengan nafas yang tersengal-sengal di jantung hutan, keringatnya membasahi sekujur tubuhnya.
“Apa disini tidak ada air?” Tanya Sunyono pada dirinya sendiri.
“Haaaaa!!!!Bolak-balik ke pinggir dan ketengah hutan hanya mencari air!!!! Ck…..ck….ck…..
Sunyono lagi-lagi duduk di bawah pohon, mengusap keringatnya, dia lepas pecinya, dia luruskan kakinya dan tak lupa bibir mungilnya menyebut asma-Nya.
“Astaghfirullohhala’dzim….Astaghfirullohhala’dzim.”
Sunyono bangkit dari duduknya melangkah pelan menatap jalan di depannya matanya menengok kekanan kekiri, dan ke bawah. Pelan-pelan ia jongkok dan menepukkan kedua telapak tangannya di debu yang suci dia mulai tayamum mengusap anggota yang di haruskan Sunyono berdiri melangkah pelan memandang sekelilingnya.
“Dimana letak arah kiblat?”tanyanya dalam hati.
Untuk yang kesekian kalinya Sunyono terdiam, ia benar-benar bingung. Baginya sholat sunah adalah kewajiban itulah tuntutan orang tuanya.
“Allah Swt tahu keadaan hambanya, Ya Allah….hamba ingin sholat tapi hamba tidak tau arah kiblat, terimalah shalat hambamu ini ya Allah……”

Dengan kesungguhan hati, Sunyono membentangkan daun yang lebar di depannya, pandanganya ke bawah memulai sholat dhuha. Dia menempelkan telapak tanganya hidungnya juga jidadnya di atas daun lebar itu. Salam mengakhiri pertemuanya dengan penciptanya dzikir dan munajat do’a melampiaskan kerinduannya kepada Sang Khalik.
Air matanya kembali mengalir, kepedihan yang teramat dalam harus ia jalani. Hidup tanpa orang tua hidup sebatang kara, matanya menerawang jauh kemasa lalu dimana dia dan orang tuanya biasa bersama .
“Kalau kamu besar nanti kamu mau jadi apa?” Tanya ayahnya.
“Aku mau jadi ustadz Yah, biar aku jadi pintar ngaji…”
“Emang kalau mau pintar ngaji harus jadi ustadz…”
“Sunyono yang menampilkan gigi kuningnya, dengan lembut ayah dekap tubuh Sunyono, air mata beliau mengalir pikirannya menerawang ke depan membayangkan masa dimana anak semata wayangnya beranjak dewasa. Berharap Sunyono tumbuh menjadi laki-laki yang gagah, berjiwa besar dan hidupnya tak seperti dirinya yang hanya akan habis di makan penjajah. Sulit marasakan kebahagiaan. Beliau sangat berharap dimasa Sunyono dewasa, penjajah tak lagi berkutik dan Indonesia telah menjadi bangsa yang merdeka.
Ayahnya tak habis pikir, anak sekecil Sunyono mempunyai cita- cita yang begitu tinggi. Dalam keadaan genting itu dia masih bersemangat. Air mata ibu tak mampu lagi dibendung, buliran tetes air suci membasahi pipinya yang mulai keriput. Air mata ayah dan ibunya sama- sama deras.
Sunyono menyadari itu, perlahan dia tatap wajah keberanian ayahnya, lalu menatap wajah ibunya yang penuh kasih sayang. Dia hapus butiran kristal lembut ayah dan ibunya, Sunyono dekap tubuh ayahnya tak lupa dia cium pipinya, Sunyono cium telapak tangan ibunya, tak lupa ia kecup keningnya.

***

Saat mentari mulai muncul, menampakan sinarnya, kehidupan yang gelap mulai terlihat. Sunyono asyik sarapan dengan lauk garam sedangkan Ibunya tengah menyembunyikan makanan ditempat yang aman agar tentara Belanda tak menemukannya. Dan Ayahnya tengah menata dagangannya untuk dijual pada tentara Belanda dengan harga yang begitu murah . Selesai makan,Sunyono segera berlari pelan menuju rumah Pak Bupati.
Ayahnya pamit menjual dagangannya, ia berjalan pelan menuju rumah kediaman jenderal Belanda. Ditengah jalan beliau melihat Sunyono berlari membawa sehelai kertas leceknya dan satu pensil pendek yang mulai tumpul. Tubuhnya tak berbaju hanya mengenakan celana kolor dekil. Saking semangatnya, tak sengaja ia menabrak dagangan Belanda, ia jatuh. Pelototan mata menatapnya tajam, tampak kesal dirautnya. Sunyono ketakutan, tubuhnya gemetaran, ia duduk dikelilingi butiran beras yang berantakan. Pria bule itu tak berkata apa-apa, tapi lihatlah dia mulai mengeluarkan benda yang membuat seluruh penduduk ketakutan, peluru ! Sunyono tambah ketakutan. Ia mulai menangis, tak bisa dibayangkan peluru yang kejam itu melukai tubuhnya. Dia memejamkan mata, berdo’a berharap pelurunya meleset kearah yang salah Tapi…… DOOOOOORRRRRRRR!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Dengan gemetaran Sunyono membuka matanya, pria bule itu tampak tersenyum sinis. Sesosok tubuh laki-laki tergeletek didepan Sunyono, tubuh itu tampak lemas sekali, nadinya berhenti berdegup, kaos oblong putihnya dipenuhi cairan berwarna merah, seperti……DARAH!!!!Namun dibalik semua itu, bibirnya menyunggingkan senyum yang begitu indah. Sedang air mata Sunyono mengalir deras, isak tangisnya mulai bersahutan. Terkuras sudah suara Sunyono menjerit disela-sela tangisnya.

” Ayah……Ayah…..bangun Ayah bangun……” Sunyono menjerit sekeras-kerasnya.
Warga banyak yang mengelilingi Sunyono, yang tengah mengguncang-guncangkan tubuh Ayahnya. Kepedihan seperti ini sudah biasa terjadi, setiap hari pasti ada kematian tanpa diminta, penyiksaan, pemaksaan, pembunuhan menjadi ritual setiap hari. Dalam duka citanya itu, Sunyono tak bisa berhenti menangis, sedang pria bule yang kejam telah pergi entah kemana arahnya.

Suara tangis seorang perempuan tak jauh dari kerumunan mulai terdengar samar-samar. Dia langsung menghambur dibalik kerumunan. Jeritan yang melengking memecahkan suasana. Perempuan itu merangkuli tubuh yang tergeletak kaku. Dialah Ibu Sunyono, suaranya yang parau mulai melirih terlihat ia tak terima. Tubuhnya mulai lemas dan tergeletaklah dua insan tanpa sadar, Sunyono hanya duduk menjadi patung hidup. Air matanya terus mengalir isak tangisnya bersahutan.

Suara peluru melengking diudara, warga yang berkerumun kembali ketempat kerjanya masing-masing. Hanya tampak tiga insan ditengah jalan, dua tak sadar dan yang satu sadar. Suara sepatu mendekati tiga insan yang terdiam. Langkahnya mulai mendekat dan….Tangan kekar menyeret pergelangan tangan Ibu Sunyono, Sunyono sadar ia berusaha mencegahnya tapi Sunyono malah didorong dan jatuh ketubuh Ayahnya. Sunyono benar-benar sangat tersiksa, ia tinggalkan mayat Ayahnya dan berlari tak tentu arah.
Itulah kesedihannya kemarin kesedihan yang takan berujung. Jika ingat cita-citanya, tak sedikit air matanya mengalir. Tak dapat dibayangkan anak kecil yang dekil, kurus kering tak berbaju dan hanya hidup sebatang kara tapi ia selalu berharap Tuhan memberi secercah cahaya dimasanya. Berharap nyawanya masih melekat lama dalam raganya. Berharap Allah Swt. memberikan kekuatan lebih padanya.
“YA….Allah……….Hamba ingin tetap di jalanmu , buatlah hamba selalu berharap jauh dari putus asa…….AMIN……..!!!!!!!!!”

Petunjuk Pelaksanaan Olimpiade Ilmu Nahwu

PETUNJUK PELAKSANAAN OLIMPIADE ILMU NAHWU

MADRSAH MUALLIMIN MUALLIMAT AL HIKMAH 2

BENDA SIRAMPOG BREBES

A. Persyaratan Umum

  1. Peserta merupakan siswa atau santri atau yang sederajat dan masih terdaftar sebagai siswa atau santri pada saat olimpiade ilmu nahwu
  2. Melampirkan photocopy kartu siswa/santri
  3. Umur maksimal 19 tahun. Dibuktikan dengan photocopy Ijazah ataupun Akta Lahir

B. Syarat pendaftaran

  1. Menyerahkan formulir pendaftaran yang telah disediakan panitia
  2. Melampirkan photocofy kartu tanda pelajar atau kartu santri  (2 lembar)
  3. Mencantumkan contact person atau nomor telepon

C. Biaya Pendaftaran
D. Peserta dikenakan biaya pendaftaran sebesar @Rp. 15.000,-
E. Mekanisme pendaftaran

  1. Pendaftaran dapat dilakukan dengan cara yaitu :

– Langsung daftar ke Sekretariat kantor Madrasah Muallimin Muallimat Al Hikmah 2

– Melalui Pengurus Osis MMA2

– Melalui website.http://www.mmaduaku.sch.id

– Melalui via sms ke no 085869221122

– Pendaftaran dimulai pada tanggal 20 April 2014 s/d 20 Mei 2014

– Pendaftaran dimulai pada jam kerja pukul 08.00 – 12.30 setiap hari ( selain hari Jum’at) di kantor  Madrasah Muallimin Muallimat Al Hikmah 2

– Pendaftaran boleh dilakukan oleh pihak sekolah atau pesantren ataupun dilakukan oleh calon peserta yang ditunjuk oleh pihak sekolah atau pesantren.

F. Ketentuan Lomba

  • Lomba akan dilaksanakan  dua tahap :
  • Penyisihan (10 Besar)
  • Final merebutkan juara I,II dan III

Materi test untuk setiap tahapan terdiri dari :

Test tulis

Test lisan / Tanya jawab

G. Juara dan Hadiah

  • Dalam lomba ini hanya memperebutkan juara I, II dan III, tidak ada juara harapan.
  • Hadiah :

Juara I              = Rp. 1.000.000,-

Juara II            = Rp.    750.000,-

Juara III           = Rp.    500.000,-

Total               = Rp. 2.250.000,-