Kunjungan Dari Kaliketsur

 

Tanggla 7 Februari yang lalu Madrasah Muallimin Muallimat Al-Hikmah2  (MMA) kedatangan rombongan dari desa Kalikesur Kec. Kedungbanteng Kab. Banyumas  tempat Bakti Keagamaan Masyarakt (BKM) pada bulan Desember 2015 lalu. Pimpinan rombongan menyampaikan bahwa mereka kangen dengan siswa-siswi MMA Al-Hikmah 2, berikut ini tampilan kegiatan pertemuannya

12650975_183316498700674_4821807399625197365_n

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sambutan dari OSIS MMA

 

 

 

 

 

a

 

 

 

 

Sambutan kepala sekolah MMA pada rombongan, beliau mengatakan bahwa dengan kunjungan ini kita bisa mempererat tali silaturohim dan menyatakan bahwa ini sebagai bukti bahwa pendidikan yang seperti muallimin-muallimat (baca: pendidikan Agama) yang selama ini dikangeni oleh masyarakat

Gus Itmam : ORDA Mampu Eratkan Tali Persaudaraan Alumni

Abah

Jumat (09/10) malam tadi, Gus Itmam menyampaikan kepada seluruh panitia Haul dan perwakilan ORDA, bahwasanya setiap ORDA boleh mengadakan pertemuan bersama para Alumni setelah acara Haul selesai.

Tujuan diadakanya acara tersebut untuk menjaga tali silaturrahmi antara alumni dengan santri mukim, selain itu juga sharing saling memberi motifasi, gus Itmam juga menyarankan bakhti sosial keagamaan BSK yang akan diadakan bulan Desember ini, agar para Alumni dapat membantu persiapan BSK, terutama hal cek lokasi.

Menurut jadwal Haul yang disampaikan oleh gus Nasyar, bahwasanya Senin (12/10) malam akan diadakanya pemaparan biografi Abah Masrur di GOR, Selasa (13/10) sejak pagi sampai sore akan diadakanya simakan Al Quran di setiap mushalla, lembaga dan seluruh ndalem putra Almarhum.

Dan acara puncak yaitu hari Rabu (14/09) pagi akan dilaksanakan pertemuan Alumni dengan keluarga besar Al Hikmah 2, dilanjut pukul 12.30 yasin tahlil dan pengajian umum.

 

 

Via www.alhikmahdua.net

UNDANGAN ALUMNI HAUL ABAH KE-4

12006999_1518733035083944_130861044_o

Peringatan Haul Abah KH. Masruri Abdul Mughni ke-4, Keluarga dan Masyayikh Al Hikmah akan dilaksanakan pada 01 Muharram 1437 H. atau bertepatan pada tanggal 14 Oktober 2015.

 

Dengan ini kami mengundang segenap Alumni Muallimin Muallimat Al Hikmah 2 untuk berkenan hadir dalam acara ini yang akan dilaksanakan.

Hari/tanggal : Rabu,14 Oktober 2015

Tempat            : PP AL HIKMAH 2

Acara               : Haul Abah KH. Masruri Abdul Mughni ke-4

 

Jazakumulloh ….

Mengikis Virus Lupa

Lupa merupakan kondisi tidak ingat keadaan diri atau sekelilingnya. Ada tiga jenis lupa yang dialami manusia. Pertama, lupa hal-hal sepele, seperti lupa makan atau lupa di mana menaruh barang. Lupa jenis ini manusiawi belaka. Tetapi, ada jenis lupa yang berbahaya. Misalnya, lupa tugas atau tanggung jawab. Dampaknya tidak hanya pada diri sendiri, tetapi juga orang lain.

Tentu yang paling berbahaya dan bahkan mengundang azab Allah ialah lupa jenis ketiga. Itulah lupa diri dan agama, yang menyebabkan manusia turun derajat dari makhluk mulia ke level paling hina. “Sungguh telah Kami ciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)”. [QS At-Tin/95: 4-5].

Sungguh ngeri kita membaca ayat itu. Betapa semakin hari, kita tidak semakin muda. Pertambahan angka umur kita jelas menunjukkan berkurangnya jatah hidup di dunia. Sebab itu, yang wajib kita renungkan, adakah nikmat berupa umur ini lebih banyak bermuatan kebaikan atau justru keburukan. Bercermin diri seraya memperbanyak tobat, itulah ajaran yang harus dipraktikkan orang beriman.

Introspeksi menjadi sarana mujarab untuk melawan lupa. Sementara, tobat jelas alat pembersih dosa dan kesalahan. Tobat, menurut ulama, adalah menyadari, menyesali, dan berjanji pada diri sendiri untuk tidak mengulangi dosa dan kesalahan serupa. Bukanlah tobat jika satu dari ketiga syarat itu hilang. Tobat pincang itu disebut sebagai Tobat Sambal alias Kapok Lombok. Tobat yang diterima Allah, itulah taubah nasuhah, yang berdampak positif dahsyat pada pelakunya.

Menjalani hidup di era serba digital sungguh tidak mudah. Keluarlah rumah, bacalah koran, lihatlah internet. Betapa jebakan kemaksiatan tersebar di segala penjuru arah. Jika kita tidak ekstrawaspada, bukan mustahil akan terseret ke lumpur dosa. Karena itu, kita harus mampu memelihara kepekaan dan sensitivitas nurani. Tidak kalah penting pula terus berusaha memahami dan mengamalkan doa yang setiap salat kita baca: Ya Allah, tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus.

Lupa muncul karena manusia sembrono dalam mengeja kehidupan. Hatinya tidak terjaga, sehingga menjadi gelap. Hati yang gelap disebut zulmun (kezaliman), dan pelakunya bernama zalim. Idenya ialah setiap kebusukan dapat membuat hati manusia menjadi gelap dan mudah lupa. Indikasinya, tidak pernah merasa risih ketika berbuat dosa dan kesalahan. Kejahatan dianggap sebagai kebajikan, perusakan diakui sebagai perbaikan, karena selalu dihisasi setan.

Dalam kondisi demikian, hatinya tidak lagi nurani tetapi sudah zulmani. “Maka apakah orang yang dijadikan (setan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu setan)? Maka sungguh Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki siapa yang Dia kehendaki, Maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sungguh Allah Maha Mengetahui segala yang mereka perbuat.” [QS Fathir/35: 8].

Tidak susah mendapati sosok-sosok manusia berhati zulmani. Tengoklah para bramacorah negeri ini: pemimpin korup, hakim khianat, politisi busuk, pengusaha licik. Mereka potret terang penjahat-penjahat kemanusiaan sejati. Dunia ini terbukti babak belur di tangan sekumpulan manusia berhati zulmani itu.

Pantaslah jika Allah memerintahkan Rasulullah untuk menyampaikan peringatan keras kepada mereka. “Katakanlah, ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’ Yaitu orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” [QS Al-Kahfi/18: 103-104].

Ada empat langkah praktis yang berguna untuk mengikis lupa. Empat langkah ini sesuai dengan dimensi kemanusiaan manusia. Pertama, gairahkan fisik dengan ibadah. Bagi orang beriman, tidak ada yang paling berharga selain memfokuskan setiap gerak dalam tarikan napas ibadah. Ibadah, selain akan mendekatkan diri kepada Allah, juga dapat mencegah diri dari dosa, mengikis virus hati, mengusir penat, menolak bencana, mengundang rezeki, dan membuat hidup ceria. Karena itulah, doa sangat indah yang diajarkan Rasulullah kepada Muadz bin Jabal berbunyi,“Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbaiki kualitas ibadah kepada-Mu.”

Kedua, hidupkan akal dengan ilmu. Dr Aidh Al-Qarni mengatakan, kebodohan merupakan tanda kematian jiwa, terbunuhnya kehidupan, membusuknya umur. Sebaliknya, ilmu adalah cahaya bagi hati nurani, kehidupan bagi ruh, dan bahan bakar bagi tabiat. Dengan begitu, apa yang masuk via indra orang beriman harus menjadi ilmu. Sebab, kedamaian dan ketenteraman hati senantiasa muncul dari ilmu. Ilmu mampu menembus yang samar, menemukan yang hilang, menyingkap yang tersembunyi.

Ketiga, hidupkan hati dengan zikir. Di antara ciri ulul albab adalah selalu zikir (ingat) kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring. Sepintas, tampaknya itu mudah, karena hanya zikir dalam tiga keadaan. Tetapi coba renungkan, adakah keadaan bagi manusia selain berdiri, duduk, dan berbaring?

Dengan kata lain, hati orang beriman dituntut terus online kepada Allah di segala keadaan. Itulah zikir yang menenteramkan dan menjadikan hati nurani ini waskita. “Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwa Alquran itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sungguh Allah adalah pemberi petunjuk bagi orang-orang beriman kepada jalan yang lurus.” [QS Al-Haj/22: 54].

Keempat, sucikan jiwa dengan baik sangka. Banyak orang merana karena berselimut buruk sangka. Hidup dirundung susah padahal bergelimang harta. Wajah berkalang duka padahal menggenggam segalanya. Ingatlah nasihat Ibnu Qayim Al-Jauziyah bahwa nilai manusia itu dapat diukur dari semangat dan apa yang dia inginkan.

Orang beriman selalu bergemuruh kasih sayang dalam hatinya. “Sungguh orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” [QS Maryam/19: 96].

Alarm kehidupan berupa krisis pemimpin, budaya korupsi, pembusukan parpol, kekerasan massa, kelumpuhan hukum, kemiskinan ekonomi, peredaran narkoba, kengawuran media, dan beragam kemunduran moral lain sudah demikian nyaring. Masa depan bangsa ini di tahun-tahun mendatang sangat tergantung pada sejauh mana kita mampu segera siuman dan bangkit dari lupa.

sumber : alhikmahdua.net

KH ABDULLAH SALAM Wali yang Penuh Karamah

Kewalian Mbah Dullah, KH Abdullah Salam dari Kajen Pati, diakui justru karena sepanjang hidupnya, ia berusaha melaksanakan ajaran dan keteladanan pemimpin agungnya, Muhammad SAW. Terutama dalam sikap, perilaku, dan kegiatan-kegiatannya; baik yang berhubungan dengan Allah maupun dengan sesama hambaNya.

 

Berperawakan gagah. Hidung mancung. Mata menyorot tajam. Kumis dan jenggotnya yang putih perak, menambah wibawanya. Hampir selalu tampil dengan pakaian putih-putih bersih, menyempurnakan kebersihan raut mukanya yang sedap dipandang.

 

Melihat penampilan dan rumahnya yang tidak lebih baik dari gotakan tempat tinggal santri-santrinya, mungkin orang akan menganggapnya miskin; atau minimal tidak kaya. Tapi tengoklah; setiap minggu sekali pengajiannya diikuti oleh ribuan orang dari berbagai penjuru dan semuanya disuguhi makan.

 

Selain pengajian-pengajian itu, setiap hari ia menerima tamu dari berbagai kalangan yang rata-rata membawa masalah untuk dimintakan pemecahannya. Mulai dari persoalan keluarga, ekonomi, hingga yang berkaitan dengan politik. Bahkan pedagang akik dan minyak pun beliau terima dan beliau ‘beri berkah’ dengan membeli dagangan mereka.

 

Ketika ia masih menjadi pengurus (Syuriyah) NU, aktifnya melebihi yang muda-muda. KH Abdullah Salam tidak pernah absen menghadiri musyawarah semacam Bahtsul masaail, pembahasan masalah-masalah yang berkaitan dengan agama, yang diselenggarakan wilayah maupun cabang. Pada saat pembukaan muktamar ke 28 di Situbondo, panitia memintanya –atas usul kiai Syahid Kemadu—untuk membuka Muktamar dengan memimpin membaca Fatihah 41 kali. Dan ia jalan kaki dari tempat parkir yang begitu jauh ke tempat sidang, semata-mata agar tidak menyusahkan panitia.

 

Semasa kondisi tubuh nya masih kuat, ia juga melayani undangan dari berbagai daerah untuk memimpin khataman Quran, menikahkan orang, memimpin doa, dsb.

 

Ketika kondisi nya sudah tidak begitu kuat, orang-orang pun menyelenggarakan acaranya di rumahnya. Mbah Dullah, begitu orang memanggil kiai sepuh haamilul Qur’an ini, meskipun sangat disegani dan dihormati termasuk oleh kalangan ulama sendiri, ia termasuk kiai yang menyukai musyawarah.

 

Ia bersedia mendengarkan bahkan tak segan-segan meminta pendapat orang, termasuk dari kalangan yang lebih muda. Ia rela meminjamkan telinganya hingga untuk sekedar menampung pembicaraan-pembicaraan sepele orang awam. Ini adalah bagian dari sifat tawaduk dan kedermawanannya yang sudah diketahui banyak orang.

 

Tawadu atau rendah hati dan kedermawanan adalah sikap yang hanya bisa dijalani oleh mereka yang kuat lahir batin, seperti Mbah Dullah. Mereka yang mempunyai (sedikit) kelebihan, jarang yang mampu melakukannya. Mempunyai sedikit kelebihan, apakah itu berupa kekuatan, kekuasaan, kekayaan, atau ilmu pengetahuan, biasanya membuat orang cenderung arogan atau minimal tak mau direndahkan.

 

Rendah hati berbeda dengan rendah diri. Berbeda dengan rendah hati yang muncul dari pribadi yang kuat, rendah diri muncul dari kelemahan. Mbah Dullah adalah pribadi yang kuat dan gagah luar dalam. Kekuatannya ditopang oleh kekayaan lahir dan terutama batin. Itu sebabnya, disamping dermawan dan suka memberi, Mbah Dullah termasuk salah satu –kalau tidak malah satu-satunya – kiai yang tidak mudah menerima bantuan atau pemberian orang, apalagi sampai meminta. Pantangan. Seolah-olah beliau memang tidak membutuhkan apa-apa dari orang lain. Bukankah ini yang namanya kaya?

 

Ya, mbah Dullah adalah tokoh yang mulai langka di zaman ini. Tokoh yang hidupnya seolah-olah diwakafkan untuk masyarakat. Bukan saja karena ia punya pesantren dan madrasah yang sangat berkualitas; lebih dari itu sepanjang hidupnya, mbah Dullah tidak berhenti melayani umat secara langsung maupun melalui organisasi (Nahdlatul Ulama).

 

Mungkin banyak orang yang melayani umat, melalui organanisi atau langsung; tetapi yang dalam hal itu, tidak mengharap dan tidak mendapat imbalan sebagaimana mbah Dullah, saya rasa sangat langka saat ini. Melayani bagi mbah Dullah adalah bagian dari memberi. Dan memberi seolah merupakan kewajiban bagi beliau, sebagaimana meminta –bahkan sekedar menerima imbalan jasa– merupakan salah satu pantangan utama.

 

Ia tidak hanya memberikan waktunya untuk santri-santrinya, tapi juga untuk orang-orang awam. Beliau mempunyai pengajian umum rutin untuk kaum pria dan untuk kaum perempuan yang beliau sebut dengan tawadluk sebagai ‘belajar bersana’. Mereka yang mengaji tidak hanya beliau beri ilmu dan hikmah, tapi juga makan setelah mengaji.

 

Pernah ada seorang kaya yang ikut mengaji, berbisik-bisik: “Orang sekian banyaknya yang mengaji kok dikasi makan semua, kan kasihan kiai.” Dan orang ini pun sehabis mengaji menyalami mbah Dullah dengan salam tempel, bersalaman dengan menyelipkan uang. Spontan mbah Dullah minta untuk diumumkan, agar jamaah yang mengaji tidak usah bersalaman dengannya sehabis mengaji. “Cukup bersalaman dalam hati saja!” katanya.

 

Konon orang kaya itu kemudian diajak Mbah Dullah ke rumahnya yang sederhana dan diperlihatkan tumpukan karung beras yang nyaris menyentuh atap rumah, “Lihatlah, saya ini kaya!” kata mbah Dullah kepada tamunya itu.

 

Memang hanya hamba yang fakir ilaLlah-lah, seperti mbah Dullah, yang sebenar-benar kaya.

 

Kisah lain; pernah suatu hari datang menghadap Mbah Dullah, seseorang dari luar daerah dengan membawa segepok uang ratusan ribu. Uang itu disodorkan kepada Mbah Dullah sambil berkata: “Terimalah ini, mbah, sedekah kami ala kadarnya.”

 

“Di tempat Sampeyan apa sudah tak ada lagi orang faqir?” tanya mbah Dullah tanpa sedikit pun melihat tumpukan uang yang disodorkan tamunya, “kok Sampeyan repot-repot membawa sedekah kemari?”

 

“Orang-orang faqir di tempat saya sudah kebagian semua, mbah; semua sudah saya beri.”

 

“Apa Sampeyan menganggap saya ini orang faqir?” tanya mbah Dullah.

 

“Ya enggak, mbah …” jawab si tamu terbata-bata.

 

Belum lagi selesai bicaranya, mbah Dullah sudah menukas dengan suara penuh wibawa: “Kalau begitu, Sampeyan bawa kembali uang Sampeyan. Berikan kepada orang faqir yang memerlukannya!”

 

Kisah di atas yang beredar tentang ‘sikap kaya’ mbah Dullah semacam itu sangat banyak dan masyhur di kalangan masyarakat daerahnya.

 

Mbah Dullah ‘memiliki’, di samping pesantren, madrasah yang didirikan bersama rekan-rekannya para kiai setempat. Madrasah ini sangat terkenal dan berpengaruh; termasuk –kalau tidak satu-satunya— madrasah yang benar-benar mandiri dengan pengertian yang sesungguhnya dalam segala hal.

 

32 tahun pemerintah orde baru tak mampu menyentuhkan bantuan apa pun ke madrasah ini. Orientasi keilmuan madrasah ini pun tak tergoyahkan hingga kini. Mereka yang akan sekolah dengan niat mencari ijazah atau kepentingan-kepentingan di luar ‘menghilangkan kebodohan’, jangan coba-coba memasuki madrasah ini.

 

Ini bukan berarti madrasahnya itu tidak menerima pembaruan dan melawan perkembangan zaman. Sama sekali. Seperti umumnya ulama pesantren, beliau berpegang kepada ‘Al-Muhaafadhatu ‘alal qadiimis shaalih wal akhdzu bil jadiidil ashlah’, “ Memelihara yang lama yang relevan dan mengambil yang baru yang lebih relevan”. Hal ini bisa dilihat dari kurikulum, sylabus, dan matapelajaran-matapelajaran yang diajarkan yang disesuaikan dengan kebutuhan zaman.

 

Singkat kata, sebagai madrasah tempat belajar, madrasah mbah Dullah mungkin sama saja dengan yang lain. Yang membedakan ialah karakternya.

 

Agaknya mbah Dullah –rahimahullah — melalui teladan dan sentuhannya kepada pesantren dan madrasahnya, ingin mencetak manusia-manusia yang kuat ‘dari dalam’; yang gagah ‘dari dalam’; yang kaya ‘dari dalam’; sebagaimana ia sendiri. Manusia yang berani berdiri sendiri sebagai khalifah dan hanya tunduk menyerah sebagai hamba kepada Allah SWT.

 

Bila benar; inilah perjuang yang luar biasa berat. Betapa tidak? Kecenderungan manusia di akhir zaman ini justru kebalikan dari yang mungkin menjadi obsesi mbah Dullah. Manusia masa kini justru seperti cenderung ingin menjadi orang kuat ‘dari luar’; gagah ‘dari luar’; kaya ‘dari luar’, meski terus miskin di dalam.

 

Orang menganggap dirinya kuat bila memiliki sarana-sarana dan orang-orang di luar dirinya yang memperkuat; meski bila dilucuti dari semua itu menjadi lebih lemah dari makhluk yang paling lemah. Orang menganggap dirinya gagah bila mengenakan baju gagah; meski bila ditelanjangi tak lebih dari kucing kurap. Orang menganggap dirinya kaya karena merasa memiliki harta berlimpah; meski setiap saat terus merasa kekurangan.

 

Sayang sekali jarang orang yang dapat menangkap kelebihan mbah Dullah yang langka itu. Bahkan yang banyak justru mereka yang menganggap dan memujanya sebagai wali yang memiliki keistimewaan khariqul ‘aadah. Dapat melihat hal-hal yang ghaib; dapat bicara dengan orang-orang yang sudah meninggal; dapat menyembuhkan segala penyakit; dsb. dst. Lalu karenanya, memperlakukan orang mulia itu sekedar semacam dukun saja. Masya Allah!

 

Dari sentuhan tangan dinginnya di Pesantren yang terletak di pinggiran pantai utara Jawa itu, lahir ulama-ulama besar seperti KH Sahal Mahfudz, KH Abdurrahman Wahid dll.

 

Begitulah; Mbah Dullah yang selalu memberikan keteduhan itu telah meninggalkan kita di dunia yang semakin panas ini. Ia sengaja berwasiat untuk segera dimakamkan apabila meninggal. Agaknya ia, seperti saat hidup, tidak ingin menyusahkan atau merepotkan orang. Atau, siapa tahu, kerinduannya sudah tak tertahankan untuk menghadap Khaliqnya.

 

25 Sya’ban 1422 bertepatan 11 November 2001 sore, ketika Mbah Dullah dipanggil ke rahmatullah, wasiat pun dilaksanakan. Ia dikebumikan sore itu juga di dekat surau sederhananya di Polgarut Kajen Pati.

 

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-sejatiKu, dan masuklah ke dalam sorgaKu!”

sumber http://www.nu.or.id/

Umroh Plus Maroko

Awal tahun 2014 ini, Al Hikmah 2 Global Wisata akan mengadakan umroh yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yaitu UMROH PLUS MAROKO sekaligus ziaroh bareng ke makam KH. Masruri Abdul Mughni. Perjalanan umroh dibimbing langsung oleh DR. H. Ahmad Najib Afandi (Pengasuh Ponpes Al Hikmah 2 Benda sekaligus alumni Maroko) dengan agenda perjalanan 3 hari di Maroko, 3 hari di Madinah, dan 7 hari di Makkah. Untuk selengkapnya lihat dan download brosur UMROH PLUS MAROKO,,, dan ITENERY PLUS MAROKO

 

Foto ketika jama’ah umroh ziaroh di makam Abah Masruri ( KH. Masruri Abdul Mughni )

makam abah  CIMG3508

Pengumuman Pendaftaran Umroh KE-2

Setelah sukses gelombang pertama Program Umroh Group Al Hikmah 2 dengan empat puluh enam Jamaah. Maka, bersama ini diberitahukan kepada Guru, masyarakat dan alumni Al Hikmah bahwa pendaftaran umroh Group Al Hikmah 2 untuk periode pemberangkatan tanggal 25 bulan Juni 2012 telah dibuka dari sekarang.

Paket yang dibuka adalah program 12 hari dengan biaya 18. 000.000 (delapan belas juta rupiah), harga sudah termasuk/fasilitas: Continue reading “Pengumuman Pendaftaran Umroh KE-2”

Pemberangkatan Pertama “Umroh dan Ziarah Bareng MMA Al-Hikmah2 Benda”

Alhamdulillah….

Pertama kalinya jama’ah umroh dan ziarah bareng MMA Al Hikmah 2 Benda melakukan pemberangkatan pada hari Jum’at sore tanggal 23 Maret 2012 di Ponpes Al Hikmah 2 Benda.  Sedangkan penerbangan menuju tanah suci akan dilakukan pada tanggal 24 Maret 2012 dengan 46 jama’ah, diantaranya yaitu : Continue reading “Pemberangkatan Pertama “Umroh dan Ziarah Bareng MMA Al-Hikmah2 Benda””

Umroh dan Ziarah Bareng ke Makbarah KH. Masruri Abdul Mughni

Madrasah Muallimin Muallimat Al Hikmah 2 bekerjasama dengan Mediterania Tour & Travel dalam mengadakan umrah dan ziarah bareng ke makam KH.Masruri Abdul Mughni di Madinah dengan paket ekonomi untuk guru dan masyarakat.  Pendaftaran dapat dilakukan sejak beredarnya informasi ini dengan prosedur pendaftaran yang telah ditentukan yaitu pada brosur informasi PAKET UMROH . Adapun hal-hal yang harus dipenuhi dalam proses pendaftaran telah tercantum pada PERSYARATAN PENDAFTARAN UMROH .

Bagi Pendaftar yang sudah melakukan pembayaran baik secara langsung atau transfer dimohon untuk melengkapi data diri pada Formulir Pendaftaran Umroh dan kirimkan lembar formulir tersebut yang diisi lengkap ke Kantor Muallimin Muallimat Al Hikmah 2 Benda.