Aku Tidak Tahu Bagaimana Caranya Keluar Dari Neraka itu Setelah Mendatanginya

Maka 3000 pasukan itupun berangkat di iringi syai syair semangat dari panglima ke tiga, pada awalnya dia memang menangis, dan ketika salah seorang menanyakan “Apakah dia takut  kematian seperti bisik bisik para yahudi? panglima itu menjawab tegas “Bukan !!!!!”  dia lalu membaca ayat ke 71 dari surat maryam
“Dan tidak seorang pun dari kalian melainkan akan mendatangi neraka itu, itu bagi Rabbmu adalah suatu kemestian yang telah di tetapkan (Q.s. Maryam (19) :71) ”
“Aku tidak tahu bagaimana caranya keluar dari neraka itu, setelah mendatanginya ” ucap panglima itu, lalu para sahabat sahabatnya pun menyahut ” semoga alloh senantiasa menemanimu dan mengembalikan kepada kami dalam keadaan sehat dan sentausa”

Siapakah panglima itu?

Dia adalah Abdullah bin Rawahah (wafat 629) (Arab:عبدالله ابن رواحة) salah satu dari sahabat Nabi Muhammad. Abdullah bin Rawahah berasal dari Bani Kharaj. Ia mahir dalam membuat puisi indah yang menggambarkan Islam. Ia adalah salah satu dari duabelas orang pertama yang menyatakan keislaman dari kalangan Anshar sebelum terjadinya Hijrah (Bai’at Aqabah Pertama).
Ibnu Rawahah adalah seorang penulis yang tinggal di suatu lingkungan yang langka dengan kepandaian baca tulis. Ia juga seorang penyair yang lancar, yang untaian syair-syairnya meluncur dari lidahnya dengan kuat dan indah di dengar. Semenjak ia memeluk Islam, di buktikannya kemampuannya bersyair itu untuk mengabdi bagi kejayaan Islam…Dan Rasulullah SAW sangat menikmati dan menyukai syair-syairnya dan seringkali beliau meminta Abdullah bin Rawahah ini agar lebih tekun lagi membuat syair-Penyair .

Namun abdullah binRawahah yang produktif ini amat berduka sewaktu turun ayat Al-Qur’anul Karim : “Dan para penyair, banyak pengikut mereka orang-orang sesat,” (QS. 26 Asy-Syu’ara : 224). Tetapi kedukaannya jadi terlipur waktu turun ayat lainnya : “Kecuali orang-orang (penyair) yang beriman dan beramal shaleh dan banyak ingat kepada Allah, dan menuntut bela sesudah mereka di aniaya.” (QS. 26 Asy-Syu’ara : 227). Dan sewaktu Islam terpaksa terjun ke medan perang karena membela diri, tampillah Abdullah Ibnu Rawahah membawa pedangnya ke medan tempur Badar, Uhud, Khandak, Hudaibiah dan Khaibar, seraya menjadikan kalimat-kalimat syairnya dan qasidahnya menjadi slogan perjuangan : “Wahai diri! Seandainya engkau tidak tewas terbunuh, tetapi engkau pasti akan mati juga!”syair.

Ia juga menyorakkan teriakan perang : “Menyingkir kamu, hai anak-anak kafir dari jalannya. Menyingkir kamu, setiap kebaikan akan ditemui pada Rasul-Nya.” Dan datanglah waktunya perang Muktah…Abdullah bin Rawahah adalah panglima yang ke-3 dalam pasukan Islam, sebagaimana diceritakan dalam riwayat Zaid dan Ja’far. Ibnu Rawahah berdiri dalam keadaan siap bersama pasukan Islam yang akan berangkat meninggalkan kota Madinah…Ia tegak sejenak lalu berkata, mengucapkan syairnya : “Yang ku pinta kepada Allah Yang Maha Rahman.. Keampunan dan kemenangan di medan perang.. Dan setiap ayunan pedangku memberi ketentuan.. Bertekuk lututnya angkatan perang syetan,, Akhirnya aku tersungkur memenuhi harapan… Mati syahid di medan perang…!!” Benar, itulah cita-citanya kemenangan dan hilang terbilang…pukulan pedang atau tusukan tombak, yang akan membawanya ke alam syuhada yang berbahagia…!! Subhanallah.

Sekilas tentang perang mut’ah

Bala tentara Islam mulai maju bergerak ke medan perang Muktah. Sewaktu orang-orang Islam dari kejauhan telah dapat melihat musuh-musuh , mereka memperkirakan besarnya bala tentara Romawi(Heraclius) dengan gabungan bala tentara Lackham, Judzam, Qain, Bahra’, Baliy, yang di pimpin oleh Malik Ibn Zafilah mencapai 200.000 pasukan satu berbanding tujuh puluh, Orang-orang Islam melihat jumlah mereka yang sedikit, lalu terdiam …dan sebagian ada yang menyeletuk berkata : “Baiknya kita kirim utusan kepada Rasululloh Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, memberitakan jurnlah musuh yang besar. Mungkin kita dapat bantuan tambahan pasukan, atau jika diperintahkan tetap maju maka kita patuhi”.

Tetapi Ibnu Rawahah, bagaikan datangnya siang bangun berdiri di antara barisan pasukan-pasukannya lalu berucap : “Saudara-saudara sekalian! Demi Alloh Subhanahu wa Ta’ala, sesungguhnya kita berperang melawan musuh-musuh kita bukan berdasar bilangan, kekuatan atau banyaknya jumlah Kita tidak memerangi memerangi mereka, melainkan karena mempertahankan Agama kita ini, yang dengan memeluknya kita telah dimuliakan Alloh Subhanahu wa Ta’ala… ! Ayohlah kita maju ….! Salah satu dari dua kebaikan pasti kita capai, kemenagan atau syahid di jalan Alloh Subhanahu wa Ta’ala… !”

Dengan bersorak-sorai Kaum Muslimin yang sedikit bilangannya tetapi besar imannya itu menyatakan setuju. Mereka berteriak : “Sungguh, demi Alloh Subhanahu wa Ta’ala, benar yang dibilang Ibnu Rawahah.. !”

Ambil Ini Abu Sulaiman!

Benturan peradaban Madinah dan Romawi  ini di warnai kisah kisah agung gugurnya panglima. Zaid ibn Harist merangsek ke tengah musuh membawa bendera Rosulluloh hingga puluhan tombak menyapa tubuhnya, memintanya untuk berhenti. dan runya di sambut ranjang syurga. Jafar meraih bendera itu, meegangnya dengan tangan kanan hingga lengannya lepas, mendahuluinya menjadi sayap berwarna hijau yang kelak di pakinya terbang kemanapun ia suka. lalu di pegangnya dengan kanan kiri, dan tangan itupun putus. lalu di dekapnya bendera itu di dadnya hingga seorang prajurit romawi membelah tubuhnya. Maka Ja’far segera terbang ke syurga. Syair yang bergetar dari bibirnya menjelang syahid masih terdengar hingga kini

Oo indahnya syurga, dan betapa ia kian dekat
Harum semerbak, segar sejuk minumannya

” Jika kau ikuti kedua pahlawan itu’, gumam sang panglima ketiga” kau akan mendapat petunjuk”. tapi bersitan keraguan masih meraja di hatinya. Akankah pertempuran ini di teruskan sementara korban yang jatuh dari kaum muslimin telah demikian banyak? hanya dalam beberapa saat dua panglimanya telah menemui janji pada alloh untuk mati membela agamanya. oh dia sungguh ragu. tidakkah ini tersia?tapi tidak. dia juga sudah dekat dengan cita citanya. pasukan ini milik alloh, kepada ia titipkan jika memang telah tiba saat baginya untuk menyusul kedua sahabatnya. maka dia ingatkan kembali sang diri akan cita citanyasyairnya di ceritakan lantang.biarkanlah jiwanya yang di dalam yang menyimak.biarkanlah tiap makhluk menjadi saksi.

kenapa kulihat engkau tak menyukai bau surga
bukankah telah sekian lama kau tungguia dalam cita?
bukankah kau ini tak lebih dari setetes nutfah yang di tumpahnkan?

Maka di lemparkanya pula sekerat tulang yang tadi ia gigit untuk menegakkan punggunganya. dia menjemput cita tingginya. ‘Abdullah ibn ruwahah sang penyair yang di cintai alloh dan rasulnya itu syahid.tsabit bin Aqrom al ajlani segera meraih bendera dari pelukan ‘abdullah ibn ruwahah da ia berlari ke arah seseorang yang sibuk membabat musuh dari punggng kudanya. ” ambil ini abu sulaiman!!!!,”dia berteriak

“Tidak!!!, kata yang di panggil.”jangan aku. engaku ikut perang badar,engkaulebih layak!”

“Demi alloh, ambil ini abu sulaiman!! tidaklah aku mengambilnya melaikan untuk ku berikan padamu!!

Dan orang yang di panggil Abu sulaiman itupun mengambilnya. disaat itulah, di waktu yang bersamaan, dari atas mimbar masjid nabawi di madinah, sang nabi berlinang air mata mengisahkan kegagahan tiga panglima yang di utusnya. setelah air matanya sedikit terseka, beliau bersabda, “Lalu bendera itu di ambil oleh salah satu pedang di antara pedang pedang alloh.Dan alloh memberikan kemenangan melaluinya.
pedang alloh itu akrab di panggil abu sulaiman. nama aslinya adalah kholid bin walid.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.