Pesantren dan Hari Pahlawan

Sejarah Pondok Pesantren tidak lepas dari semangat Nasionalisme dan Patriotisme yang digelorakan para ulama saat mengusir penjajah dari bumi Nusantara…Gelora dan semangat tersebut digerakan melalui berbagai bentuk seperti seni bela diri, olah kanuragan, gerakan kepanduan yang meliputi kepanduan Ansor, kepanduan Khizbul Wathan, Hizbullah dan yang lain yang dikemudian hari menjadi cikal bakal lahirnya PETA (Pembela Tanah Air), yaitu embrio pasukan Tentara  Keamanan Rakyat  (TKR) yang selanjutnya beralih nama menjadi Angkatan Bersenjata Rebublik Indonesia ( ABRI ).

Perjalanan sejarah kepanduan Pondok Pesantren di bumi Republik Indonesia selanjutnya adalah ketika harus berhadapan dengan sesama anak bangsa yang menginginkan Indonesia menjadi Negara komunis oleh PKI ( Partai Komunis Indonesia ) yang menewaskan ribuan rakyat tak berdosa, termasuk puluhan jenderal dan ulama menjadi korban kebiadaban mereka. Demikian juga ketika  terjadi pemberontakan dari internal Islam oleh kelompok Kartosuwiryo yang menginginkan Republik ini menjadi Negara Islam dengan nama DI atau NII, maka Pondok Pesantren diuji kembali untuk menyatukan anak-anak bangsa dari perpecahan.

Memasuki gerbang pembangunan di era Orde Baru, seluruh organisasi kepanduan dilebur dalam 1 ( satu ) organisasi yaitu Pramuka. Maka secara umum dan berlahan-lahan peran pesantren dalam mengurus Negara tidak dilibatkan, termasuk juga dalam kepanduan. Oleh karena itu Pondok Pesantren nyaris tidak lagi mengenal kepanduan dan kepramukaan.

Berdasarkan uraian di atas, maka sebagaimana disebutkan dalam Trilogi Pengembangan Pesantren oleh Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren diuraikan, Pertama ; Pondok Pesantren sebagai Pusat pengembangan Ilmu Agama, Kedua ; Pondok Pesanteren sebagai pusat Pendidikan, dan ketiga ; Pondok Pesanteren sebagai Pusat pengembangan Masyarakat, sangat tepat untuk menengok dan merenungi sejarah panjang lahirnya Republik ini. Sehingga semangat membela tanah air terus berkobar dan berkibar di seluruh generasi muda, termasuk juga kebangkitan kepanduan di Pondok-pondok Pesantren

Semangat juang santri dan rakyat tertuang dalam sanubari seluruh jiwa bangsa Indonesia dan terus berlangsung hingga sekarang ketika tanggal 10 November menjadi saksi atas agresi Belanda di surabaya dan menjadikan hari tersebut hari Pahlawan. Dimana dengan restu KH. Wahab Hasbulloh, bung Tomo yang waktu itu minta petunjuk kepada beliau sama dengan rakyat dapat menghalau pasukan Belanda dengan NICA nya  yang dikomandangi oleh Jendral Ziaulhaq

Oleh : Mohammad Muzakki, S.Pd.I

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.